Terungkap, Pembunuhan Hakim Jamaluddin bernuasa tragedi romantik

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan – Tragedi romantik, penuh kisah asmara yang mengharukan,  harta benda dan harga diri yang berujung pada pembunuhan hakim Jamaluddin. Setidaknya itulah yang terungkap dari keterangan terdakwa Zuraida Hanum saat diperiksa di persidangan.

Sidang lanjutan perkara pembunuhan  hakim Jamaluddin di ruang Cakra Utama, Jumat (15/5/2020) , berbeda dengan sidang sebelumnya yang digelar secara online. Pada sidang itu, ketiga terdakwa langsung dihadirkan  selaku saksi untuk terdakwa lainnya.

Zuraidah Hanum (41) yang notabene isteri Jamaluddin mengaku mengalami kisah asmara yang tragis, “Saya tak terima dengan perlakuan Jamaluddin, suka bermain wanita, bahkan lebih parah dari suami saya yang pertama,” ujarnya.

Saat kisruh rumah tangga dan kegalauan, akhirnya Zuraida bertemu dengan Jepri Pratama yang lagi  menduda, dan kebetulan anak mereka satu sekolah disalah satu perguruan swasta.

Diakuinya, karena sering bertemu, akhirnya timbul benih cinta. Zuraidah mengatakan, Jepri Pratama lebih memahami dirinya daripada suaminya Jamaluddin.

Awalnya, Zuraida yang lagi galau,  sering curhat kepada Jepri, dikarenakan tak tahan dengan sikap Jamaluddin yang arogan, pemarah dan memiliki wanitia lain.

Semula  ia berniat mengakhiri hidupnya. Namun Jepri memberi semangat dan berkata, kenapa kamu yang mati. Dia itu bukan manusia,  dialah yang harus mati.

Sesudahnya, timbul rencana untuk  menghabisi Jamaluddin yang telah sembilan tahun dinikahinya dan telah memiki seorang putri.

Kemudian, Zuraida dan Jepri sering bertemu dari cafe ke cafe, sekadar curhat maupun kencan asmara  terlarang. Bahkan Zuraida mengaku, pernah berhubungan dengan Jepri di rumah yang ditempatinya bersama Jamaluddin, Royal Monarco.

Lebih lanjut menjawab pertanyaan majelis hakim diketuai Erintuah Damanik, Zuraida menuturkan, mengenai  pembunuhan itu, teknisnya Jepri dan Reza.

Diakuinya,  untuk memuluskan aksi pembunuhan memang ia yang memasukan kedua eksekutor ke rumah dan menyembunyikan di lantai tiga.

Setelah menerima isyarat dari Zuraida dengan panggilan miscal,  Jefri dan Reza langsung melaksanakan pembunuhan. Dalan rentang waktu lima menit, nyawa hakim Jamaluddin akhirnya melayang.

Menjawab pertanyaan majelis hakim dan tim JPU Parada Situmorang dkk, terkait rencana menikah dengan Jefri.
Zuraidah membantah jika  segera menikah dengan Jepri, bila Jamal telah tiada. “Itu bisa ya,  bisa tidak, karena saya tak janji,” ungkapnya.

Termasuk soal janji mau dibukakan kantor pengacara, dibelikan rumah dan mobil sport pajero itu semua juga tidak ada. “Kalau itu tidak pernah saya janjikan sama dia,”ujarnya.

Lebih lanjut, Zuraidah menjelaskan soal pembuangan mayat,  karena ia tidak mau dituduh membunuh. Rencana awal, Jamal diskenariokan kena serangan jantung, namun ada bekas lembam di hidungnya, sehingga ada kesan penganiayaan.

Ditegaskannya, soal membuang
mayat, terserah Jepri dan Reza. Ia pun tidak pernah memerintahkan agar dibuang ke daerah Belawan atau Berastagi.

Zuraidah menuturkan, ia memang sudah sakit hati dengan Jamal, dan itu tidak bisa tergantikan, hingga ia merasa mendapat support dari Jepri.

Dalam persidangan itu, Zuraida mengatakan, peran Reza hanyalah sebatas apa yang dimintakan oleh  Jepri sebagai kakaknya.

Kesaksian Zuraida sendiri pun ada yang dibantah oleh Jepri. Menurut pria berusia 42 tshun ini,  soal mau menikah dan buka kantor pengacara memang telah disepakati oleh  Zuraida meski tanpa tertulis.

Sementara dalam keterangan sebagai terdakwa Jepri mengaku, mau berbuat atau membunuh Jamal, karena simpatik dengan Zuraidah termasuk merencanakan pembunuhan.

Sedangkan terdakwa Reza menyatakan, merasa simpati dengan kisah Zuraida, sehingga ketika Jepri meminta membantu menghabisi Jamal, ia pun setuju.

Usai mendengarkan keterangan keduanya hakim menunda persidangan hingga pekan depan untuk mendengar  keterangan terdakwa Reza dan Zuraidah.

Sesuai dakwaan, Zuraida Hanum (41), M. Jefri Pratama alias Jefri (42) dan M.Reza  Fahlevi (29), ketiganya merupakan terdakwa dugaan pebunuhan hakim Jamaluddin yang
didakwa dengan berkas terpisah.

Semula Zuraida Hanum, isteri korban menyampaikan keluhannya kepada Jefri Pratama, tentang sifat korban yang kasar serta memiliki wanita lain. Keduanya pun sepakat untuk membunuh korban. Kemudian, terdakwa Jefri menghubungi terdakwa Reza untuk membantu.

Kamis 28 Nopember 2019, sekira pukul 18.55 Wib, terdakwa Zuraida menjemput Jefri  dan Reza dengan menggunakan mobil Camry. Kemudian keduanya dibawa Zuraida ke rumahnya di perumahan Royal Monaco Blok B No. 22 Kel. Gedung Johor Kec. Medan Johor, Medan.

Selanjutnya, saat korban tidur, kira- kira pukul 01.00 Wib dinihari, Zuraida miscall Jefri dan Reza agar turun ke kamar korban. Setelah masuk, Jefri langsung duduk di perut korban dan menutup wajah korban dengan bantal.  Reza ikut membantu, sedangkan Zuraida memegang kaki korban.

Selang beberapa menit korban pun tewas. Kemudian ketiganya sepakat untuk membuang mayat korban di Perladangan Kebun Sawit di Dusun II Namo Bintang Desa Suka Dame Kec. Kutalimbaru Kab. Deli Serdang.

Perbuatan para terdakwa diancam pidana dalam Pasal 340 atau 338 KUHPidana Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1,2 KUHPidana.

 

 

Reporter : ZH

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *