Bersama Pangdam XVII/Cenderawasih, Kapolda Papua besuk Briptu Crhistian Paliling di RSUD Nabire

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Nabire – Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw bersama Pangdam TNI XVII/Cenderawasih Mayjend. Herman Asaribab yang didampingi Bupati Paniai Meki Nawipa, Bupati Nabire Isaias Douw serta Kapolres Paniai, Kapolres Nabire, Dandim 1705/Paniai membesuk Briptu. Christian Paliling Anggota Polres Paniai sebagai Korban kekerasan oleh sekelompok warga Kampung Ndeotadi 99, Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai. Senin, (18/05/20).

Di ketahui bahwa Chiristian mengalami beberapa luka Sabetan Benda akhibat benda tajam pada bagian Kepala, punggung, Lengan.

Tak hanya itu, Pelaku juga melakukan perampasan senjata api milik inventaris Pospol Ndeotadi 99, Polres Paniai Sebanyak tiga (3) Pucuk.

Sampai berita ini di tayangkan, korban masih menjalani perawatan Intensif oleh tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire Papua.

Saat di Konfirmasi, Kepada Awak Media Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw menyampaikan, bahwa sesuai keterangan yang diterima, saat ini kondisi Briptu. Chiristian semakin membaik.

“Kami datang untuk melihat keadaanya, dan syukur kondisi terakhir yang bersangkutan (Briptu. Crhistian Paliling), bahwa menurut keterangan dokter ahli yang menangani Proses pengobatan dan pemulihan terhadap Korban, dimana kondisi korban berangsur membaik,” ungkap Kapolda Papua.

Lanjut Kapolda, “Diketahui bahwa korban telah mengalami beberapa luka yang cukup parah sehingga hal tersebut membuat korban mengalami pendarahan. meski seperti itu, Ia (korban) optimis akan segerah sehat seperti sedia kala,” terang Kapolda.

“Kami sangat prihatin dengan kejadian tersebut, sebab jarak Pos Polisi (Pospol) dengan rumah para pelaku ternyata tidak jauh, dan hanya berjarak dua rumah. tak hanya itu, bahwa diduga pelaku tersebut keseharianya saling kenal diantara mereka, tapi kenapa bisa demikian. “Mereka saling kenal, rumah antara mereka jaraknya hanya dua rumah, tapi mengapa bisa terjadi penganiayaan yang sangat serius seperti itu menjadi tentunya hali ini menjadi pertayaan sekaligus keprihatinan kami,” tutur Kapolda Papua.

Persoalan pribadi Kapolda yakin tidak. Karena Ia mengantongi beberapa keterangan dari warga masyarat di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Kapolda menduga ada akar masalah. Apakah pelaku merupakan kelompok yang suka buat onar dan kekacauan di kawasan itu, kemudian sering mendapatkan teguran keras oleh Anggota di Pospol 99 hingga terjadi pelampiasan dendamnya hingga nekat melakukan pengoroyokan, dan perampasan tiga pucuk senjata, “namun semua itu butu kepastian”. Kata Kapolda.

“Dalam hal ini kami tetap melakukan penyelidikan atau penyidikan untuk membuktikan latarbelakang terjadinya kekerasan dan termasuk perampasan tiga pucuk senjata api milik Polres Paniai.

“Kami baru memulai dengan keterangan awal di TKP, maka semuanya belum bisa dipastikan asal usul kejadiaan naas itu. karena memang kejadian tersebut terjadi pada malam hari sekitar pukul 21.30 wit. Saat itu dalam kondisi gelap, dan tiba-tiba ada penyerangan di Pospol Ndeotadi 99,” Terangnya.

“Guna mengungkap kejadian naas dan upaya pengembalian perampasan tiga pucuk senjata, kami akan tetap berkoordinasi dengan para Bupati Meepago (Deiyai, Dogiyai, Nabire, Paniai dan Intan Jaya) dan para Tokoh masyarakat.

“Kami juga berharap masyarakat suku Mee dan suku Wolani untuk membantu Kepolisian guna mengembalikan senjata yang telah dirampas tersebut, ” harap Kapolda Papua.

 

 

Reporter: OL

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *