Warga Kandemeng minta Pemkab Polman evaluasi penanganan Covid-19

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Polman – Warga Dusun Kandemeng Desa Batulaya, Kab. Poliwalimandar melakukan aksi damai di depan Kantor Camat Tinambung meminta Pemkab Polma mengevaluasi penanganan wabah Covid-19. Kamis (27/5).

Warga menduga hampir semua orang yang meninggal karena covid akibat propaganda yang dibesar-besarkan oleh wacana dan pemberitaan. Tiap hari hampir semua elemen mengumumkan jumlah korban terinfeksi dan kematian akibat covid.

Suryananda Koordinator lapangan aksi mengatakan, seharusnya kita melakukan investigasi dan komparasi sendiri untuk memberikan informasi yang lebih mencerahkan bagi kepada publik.

Lanjutnya, data-data jumlah kematian tahun lalu dari PBB dan WHO, mengenai jumlah kematian orang sedunia tahun lalu proporsi 131 hari dari 1 Januari sampai dengan 10 Mei, 2001 juta orang yang mati, jumlah kematian akibat kanker tahun lalu pada periode yang sama 3 juta orang, kematian akibat HIV AIDS 616.000 orang, akibat diare 586.000 orang, akibat TBC 530.000 orang, akibat malaria 359.000, orang akibat covid 19 disebut 280.000 orang, artinya dari 100 orang yang mati di seluruh dunia cuma satu orang yang mati karena katanya mati terinfeksi covid itu pun hasilnya 80% meleset.

WHO telah mengembangkan panduan sementara untuk memenuhi kebutuhan akan rekomendasi tentang perawatan di rumah yang aman bagi pasien yang diduga terpapar COVID-19 dengan gejala penyakit ringan.

WHO merekomendasikan agar semua kasus yang dikonfirmasi oleh laboratorium agar diisolasi dan dirawat di fasilitas perawatan kesehatan. WHO juga merekomendasikan bahwa semua orang yang dicurigai terpapar COVID-19 danmemiliki infeksi saluran pernapasan akut yang parah harus dilakukan triase atau penentuan skala prioritas perawatan berdasarkan tingkat keparahan kondisi penyakit melalui sistem perawatan kesehatan dan perawatan darurat.

WHO telah memperbarui pedoman pengobatan untuk pasien dengan ISPA yang terkait dengan COVID-19, yang mencakup pedoman untuk kelompok populasi yang rentan (mis., Orang tua usia lanjut , wanita hamil dan anak-anak).

Dalam situasi di mana isolasi di fasilitas perawatan kesehatan dari semua kasus tidak dimungkinkan, WHO menekankan untuk memberikan prioritas kepada mereka yang memiliki probabilitas tertinggi terkena hasil yang buruk: pasien dengan penyakit parah dan kritis dan mereka yang menderita penyakit ringan namun berisiko terhadap hasil yang buruk (usia> 60 tahun, kasus dengan komorbiditas, yaitu penyakit penyerta selain dari penyakit utamanya), misalkan, penyakit kardiovaskular kronis, penyakit pernapasan kronis, diabetes, atau kanker.

Jika semua kasus ringan tidak dapat diisolasi di fasilitas kesehatan, maka mereka yang menderita penyakit ringan dan tidak memiliki faktor risiko mungkin perlu diisolasi di fasilitas non-tradisional, seperti hotel yang dirancang ulang, stadion atau gimnasium di mana mereka dapat bertahan sampai gejalanya hilang dan tes laboratorium untuk virus COVID-19 negatif. Atau, pasien dengan penyakit ringan dan tidak memiliki faktor risiko dapat dirawat di rumah.

Perawatan di rumah untuk pasien yang diduga COVID-19 yang datang dengan gejala ringan. Bagi mereka yang menderita penyakit ringan sedangkan rawat inap tidak dimungkinkan karena keterbatatasan pada sistem perawatan kesehatan, maka perawatan dirumah dapat dilakukan kecuali ada kekhawatiran tentang kondisi kesehatan yang memburuk dengan cepat.

Jika ada pasien dengan penyakit ringan saja, memberikan perawatan di rumah dapat
dipertimbangkan, selama mereka dapat ditindaklanjuti dan dirawat oleh anggota keluarga.

Perawatan di rumah juga dapat dipertimbangkan ketika perawatan rawat inap tidak tersedia atau kurang layak (mis. kapasitas terbatas, dan sumber daya tidak dapat memenuhi permintaan untuk layanan perawatan kesehatan).

Dalam salah satu situasi ini, pasien dengan gejala ringan1 dan tanpa kondisi kronis yang mendasari – seperti penyakit paru-paru atau jantung, gagal ginjal, atau kondisi immunocompromising (memiliki kekebalan tubuh yang rendah karena gangguan imunologi) yang menempatkan pasien pada peningkatan risiko komplikasi – dapat dirawat di rumah.

Apakah prosedur ini telah dilakukan secara profesional oleh pihak gugus, atau bahkan banyak keganjalan yang menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat ? Ketakutan yang membuat dunia terpuruk, khususnya di Kandemeng.

Nah, hari ini Dunia harus bangkit, Kita perlu memperkuat kemampuan bertahan, serta belajar dari serangan pandemi ini.

Covid-19 telah melahirkan ketakutan dahsyat secara global. Di samping menimbulkan gangguan kesehatan secara masif dan kerusakan psikologis berupa menurunnya tingkat rasa aman masyarakat, pandemi ini juga melahirkan konsekuensi negatif bagi pembangunan ekonomi.

Mari Menjaga optimisme, seberat apa pun kita dalam menghadapinya, pantang buru-buru angkat tangan, melempar handuk tanda menyerah. Kita mesti melihatnya sebagai tantangan yang esok akan terbitkan cahaya harapan.

Yang menjadi fenomena hari adalah, kegagalan pemerintah dalam menangani kasus Covid ini yang jutru membuat ketakutan pada masyarakatnya.

Bukankankah negara melalui pemerintah wajib melindungi rakyatnya. Kami rayat indonesia, khususnya saudara kami yang dinyatakan reaktif dan postif tentu ingin sembuh, kita semua masyarakat Kandemeng ingin memutus mata rantai penyebaran virus ini tetapi pihak Berwenang harus bertindak persuasif terhadap masyarakat dengan tidak melakukan tindakan layaknya menjemput pelaku teroris, oleh itu kami Masyarakat Kandemeng Desa Batulaya menyatakan :

1. Meminta agar pihak berwenang dalam hal Ini Pihak Gugus Kabupaten, Kecamatan hingga PKM memberikan Sosialisasi prosedur, edukasi dan persuasif kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kesan diskriminatif, memaksa, serta tidak membuat keresahan di Masyarakat.

2. Meminta Hasil Lab (berupa kode/keterangan medis) para pasien yang dinyatakan Positif Covid agar diserahkan kepada pasien bersangkutan, bukan sekedar rilis nama-nama pasien, termasuk keterbukaan hasil Lab pegawai puskesmas sebagai bentuk proteksi awal pada masyarakat sebelum terjun memberikan pemeriksaan.

3. Meminta transparansi pemerintah mengenai anggaran penanganan Covid-19 di Polman agar dibuka ke Publik.

4. Meminta agar segera mengeluarkan surat keputusan dari pihak Berwenang mengenai jangka waktu pasien dikaratina serta jangka waktu masyarakat karantina mandiri.

5. Meminta agar Pasien OTG tdak di isolasi ke polewali, tetap isolasi mandiri namun diberikan pengawasan dan perhatian khsusus berupa edukasi dan suplai vitamin serta logistik, sebagaimana aturan prosedural yang berlaku.

6. Usut tuntas pelaku penyebaran nama-nama pasien yang terkonfirmasi postif yang tersebar dimedsos tanpa inisial.

7. Pemerintah daerah hingga presiden Jokowi agar mempertimbangkan pendapat mantan mentri kesehatan ST Fadilah, bahwa terdapat konspirasi bisnis Vaksin dalam wacana global Covid19 ini.

8. Mendesak DPRD Kabupaten Polman agar segera mengevaluasi penangan Covid Yang dilakukan Gugus Kabupaten Polman.

9. Meminta Penjelasan Pihak PKM Tinambung, tentang dasar melakukan permintaan SWAB dan bagaimana dasar hukum perintahnya.

Jika Tuntutan kami tidak di indahkan, maka kami akan turun dengan massa yang lebih besar di Depan Kantor Bupati Polewali Mandar, pungkas Suryananda koordinator aksi.

 

 

Reporter : Rizal

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *