Wow….!!! Biaya rehab Posco Covid 19 Shalter Blang Adoe Aceh Utara telan anggaran 785 Juta

  • Whatsapp
Tgk. Halim MT. Pase, Petugas jaga posko penangganan Covid-10 Blang Adoe

MITRAPOL.com, Aceh Utara – Pembangunan Posco penanganan Covid 19 Shalter Blang Adoe, Aceh Utara, yang digunakan sebagai tempat penampungan para ODP untuk diisolasi, menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk anggota legislatif dan para tokoh Masyarakat Aceh Utara karena Shalter Blang Adoe terkesan kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

Hal tersebut nampak jelas terlihat, ketika media ini meliput langsung ke shalter Blang Adoe, disaat memasuki halaman depan Shalter Blang Adoe, langsung dijamu dengan pemandangan yang tak sedap, serta dibentangi oleh halaman luas yang tak terurus, dimana rumput ilang-lang yang tumbuh menyilimuti halaman tempat karantina membuat sedikit seram untuk dimasuki, apalagi beberapa waktu lalu perbah ditemukan seekor ular berbisa di halaman tersebut.

Sekilas kami berbincang dengan penjaga Pos Covid yang sedang bertugas, selanjutnya tim yang tergabung dari beberapa media, terus menyusuri halaman Shalter yang dijadikan Posko Covid 19 tersebut dan satu persatu barak eks rohingya ditelusuri, untuk dokumentasi, namun tidak ada yang spesial dari tempat yang katanya menghabis anggaran rehab hingga sampai Rp 785 juta tersebut, terlihat pemandangan baru dari shalter itu hanyalalah pagar seng, sekatan kamar dengan tripleks dan penerangan seadanya, bahkan didalam kamar tersekat itu pun tidak terdapat tempat tidur dan fasilitas apapun.

Berdasarkan informasi yang media ini dapatkan, rehab shalter Blang Adoe dibawah tanggung jawab Dinas BPBD yang dipimpinan Amir Hamzah, sementara kedudukan Dinas BPBD dalam Gugus Covid 19 Aceh Utara sebagai Pusat Pengendalian dan Operasional (Pusdalops) Covid 19.

Amir Hamzah, Kepala Pelaksana BPBD Aceh Utara, merangkap sebagai Ketua PUSDALOPS Kabupaten Aceh Utara.

Dalam wawancara Amir Hamzah menyampaikan secara terbuka kepada awak media ia menjelaskan, bahwa sanya selain biaya rehab shelter yang telah menelan anggaran sekitar Rp.785 juta rupiah meliputi bahan, biaya rehab dan listrik, pihaknya juga menerima dana operasional selama 3 bulan berjumlah Rp. 384 juta rupiah ( untuk biaya penyebaran informasi, konsumsi dan sektariat) sementara untuk peralatan pencegahan covid berjumlah Rp. 166 juta rupiah termasuk didalamnya untuk beli masker, desinfektan dan sebagainya, jadi secara keseluhan selama 3 bulan Dinas BPBD mengelola anggaran covid 19 berjumlah, Satu Milyar Tiga Ratus Tiga Puluh Lima Juta Rupiah (Rp 1.335.000.000, 00).

“Untuk rehab Posco Penanganan Bencana Shalter Blang Adoe mengahabiskan anngaran Rp.785 juta
rupiah meliputi bahan, biaya rehab dan listrik, kami juga menerima dana operasional selama 3 bulan berjumlah Rp. 384 juta rupiah (untuk biaya penyebaran informasi, konsumsi dan sektariat) sementara untuk peralatan pencegahan covid berjumlah Rp. 166 juta rupiah termasuk didalamnya untuk beli masker, desinfektan dan sebagainya, jadi secara keseluruhan selama 3 bulan Dinas BPBD menerima anggaran covid 19 berjumlah, RP. 1 milyar 335 juta rupiah (1.335.000.000, 00),” ujar Amir Hamzah diruangannya.

Namun Fakta dilapangan sangatlah berbeda, selain ketidak sesuaian anggaran yang dihabiskan untuk Rehab Shalter Blang Adoe, bahkan terhembus kabar miring dari masyarakat diduga sebagian seng untuk memagari shalter tersebut masih tersangkut dengan pihak ketiga.

Terlepas dari kebenaran itu, dimana petugas penjaga Posko Covid Blang Adoe, sejauh ini pun belum mendapatkan perhatian apa-apa dari pemerintah, padahal mereka sudah bertugas lebih kurang 2 bulan, dalih sebagai relawan, tak bisa dipungkiri, mereka juga punya tanggung jawab untuk keluarga, mereka meninggalkan kepentingan pribadi dan bertaruh nyawa untuk kemanusian, tentunya harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah setempat, mengingat ada dana yang tersedia, apasalahnya kemakmuran mereka diperhatikan lebih dulu, sebagai garda terdepan pencegahan Pandemi Covid 19 ini.

Salah seorang petugas posco, tgk Halim, MT Pasee saat diwawancarai media, mengatakan bahwa mereka belum mendapatkan apa-apa, selain Nasi yang sediakan 4 bungkus setiap waktu, untuk kopi dan lainya mereka patuangan membelinya dengan biaya sendiri.

“Sejauh ini kami belum mendapatkan biaya apa-apa dari pemerintah, selain kosumsi nasi sebanyak 4 bungkus setiap waktu, untuk 4 orang petugas jaga, informasinya yang kami dengar akan disalurkan tapi tidak tau pasti, ia menyayangkan untuk rekan-rekannya yang bertempat jauh, bahkan ada yang dari langsa datang untuk berjaga diposko, kasian kalo tidak dapat apa-apa” ujar Tgk Halim. Senin (08/06/2020).

Ia juga menyesalkan kenapa hari baik bulan baik, sudah 2 kali motong tidak makan daging, walaupun tidak diberikan uang daging, setidaknya adalah sedikit pinjaman, karena para petugas posco tidak dapat bekerja ditempat lain karena sudah tersita waktu di posco.

“Dua kali hari potong (megang) kami tidak makan daging, okelah kalo saya bisa potong ayam (sie manok), tetapi bagaimana dengan kawan-kawan yang tidak ada ayam?, setidaknyal ladalah pinjaman sedikit, lkalopun tidak ada uang lainnya, nyoe toe meugang hana aktif hape meusidroe pih, mandum peuleuh droe,” tutupnya, dengan nada sedih dan agak sedikit kesal.

 

 

Reporter : Zul

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *