Tagih janji pihak Kampus, Mahasiswa Unsera gelar unjuk rasa

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Lebak – Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Serang Raya (Unsera) melakukan unjuk rasa. Jumat, (19/6), mereka menuntut janji pihak kampus yang hingga saat ini belum ditepati.

Aksi unjuk rasa Mahasiswa Unsera ini juga ditenggarai adanya kebijakan pihak kampus yang mereka anggap tidak memberikan keringanan bagi sivitas akademik di tengah pandemi covid-19 ini.

Seperti dikatakan Alan, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi tersebut bahwa Keluarga Besar Mahasiswa Unsera (KBM U) menagih hak dan janji pihak kampus yang belum ditepati, menurut dia, perguruan tinggi yang memiliki tagline #UnseraJawara dan konon sudah berstandar internasional ini harus konsisten memainkan peran sosialnya selaras dengan kepentingan mahasiwa termasuk kepada karyawan unsera ditengah pandemi covid-19

“Kami mahasiswa memiliki 4 tuntutan terkait Realokasi dan refocussing dana kampus, Pemotongan BOP, Transfaransi keuangan selama covid-19 dan menuntut kesejahteraan untuk karyawan unsera,” kata Alan Kepada mitrapol.com. Jum’at (19/6/2020).

Masih menurut Alan, Ketika melihat pendidikan saat ini seakan masih jauh dari harapan, biaya pendidikan mahal merupakan problematika pemutus harapan anak bangsa agar mendapatkan pendidikan sesuai amanat undang-undang tahun 1945 pasal 31 ayat (1) yang berbunyi : Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

“Pihak kampus jangan menambah beban musibah lain ditengah musibah covid-19,” ujarnya.

Tuntutan Alan bersama para mahasiswa unsera lainnya mengingat pihak kampus (rektor) telah mengeluarkan edaran bahwa perkuliahan tatap muka ditiadakan selama masa pandemi covid-19 dan beralih menjadi perkuliahan daring (dalam jaringan) atau secara online mulai 17 maret 2020 lalu. bahkan kebijakan itu telah diperpanjang hingga bulan agustus yakni, sampai akhir tahun ajaran semeter genap 2019-2020 guna meminimalisir penyebaran covid-19

Sedangkan menurut mahasiswa, selama mengikuti kuliah daring mereka membutuhkan jaringan intenet yang stabil dan lancar sehingga harus merogoh kocek pribadi dan sialnya, tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk membeli kuota agar dapat mengikuti perkuliahan daring.

Berdasarkan informasi yang dihimpun mitrapol.com dari dalam kampus unsera. hingga diketahui bahwa pihak rektor kampus telah memberikan toleransi selama masa pandemi covid-19 dengan menunda 50% angsuran kedua pembayaran semester genap TA 2019-2020 dengan batas waktu penundaan paling lambat hingga angsuran ketiga yaitu menjelang UAS semester genap TA 2019-2020.

Akan tetapi, Keluarga Besar Mahasiswa Unsera (KBM U) dapat menyimpulkan bahwa kebijakan tersebut belum maksimal lantaran hanya sebatas penundaan saja bukan pemberian subsidi atau pemotongan

“Jelas sarana prasarana berikut sejumlah fasilitas Wi-fi, ruang kelas, perpustakaan sudah menjadi hak mahasiswa yang bisa dinikmati di kampus, mestinya itu bisa dialihkan untuk pengadaan kuota internet selama kuliah daring berjalan,” tegas Alan menyoal pengelolaan BOP pendidikan di kampusnya

Musababnya, melalui aksi unjukrasa sejumlah mahasiswa unsera mempertanyakan kemana aliran biaya BOP tersebut. Padahal, transfaransi kewajiban kampus dalam pengelolaan dana pendidikan juga tertuang dalam UU Nomor 20 tahun 2003 Pada pasal 48 ayat (1) Pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prisip keadilan, efisiensi, transfaransi dan akuntabilitas publik. Namun menurut mereka sejauh ini pihak kampus belum melakukan keterbukaan mengenai cara perhitungan serta kemana saja aliran dana dari BOP selama pendemi ini.

Lebih lanjut, orasi mahasiswa unsera untuk menagih janji dari pihak kampus juga diutarakan oleh Rifki selaku Humas dalam Aksi Unjukrasa. Rifki membebebahwa bahwa pada tanggal 22 April pihak kampus telah melakukan audiensi dengan Organisasi Mahasiswa (omawa) ada narasi dari wakil rektor 2 menyatakan apabila pandemi semakin meluas dan banyak yang terdampak maka kami akan pertimbangkan pemotongan biaya

“Tapi sampai saat ini pihak kampus belum menepati dan ini akan kami kawal terus,” tegas Rifki

Tidak bisa dipungkiri, dampak pandemi covid-19 ini sudah menjalar ke semua sektor termasuk pendidikan. efek yang paling mendasar adalah sumber mata pencarian yang tertutup dengan adanya kebijakan pemerintah dalam pencegahan covid-19 dengan mengatur pembatasan bahkan larangan aktifitas masyarakat seperti anjuran Lockdown, PSBB, belum lagi keputusan management perusahaan yang melakukan pengurangan jumlah karyawan (PHK) tentu itu membuat kemabangkempis dan sesak dada menghadapi biaya pendidikan yang tidak mendapatkan keringanan.

“Hari ini tentang kemanusiaan, bukankankah kampus tempat mendidik kaum intelektual masa depan bangsa, kami juga mahasiswa ingin diperhatikan, mahasiswa adalah populasi dominan kampus, maka setiap kebijakan harus atas dasar kebutuhan dan kondisi mahasiswa,” tutup Rifki

 

 

Reporter : Ubay Pol

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *