Warga sulit buang sampah, Lahan milik keluarga dijadikan TPS

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Tangsel – Siapa yang tidak tahu atau tidak pernah mendengar jargon “Buanglah Sampah pada Tempatnya”? Jargon kebersihan ini begitu populer bertahun-tahun melintasi beberapa generasi. Tidaklah mengherankan bila kebanyakan masyarakat memiliki persepsi bahwa sampah harus dibuang.

Dimanakah tempatnya? Bila dibuat survei, penulis yakin jawaban teratas adalah keranjang sampah. Bila surveinya diadakan diantara masyarakat perkotaan, maka tentu akan banyak juga yang menjawab TPS dan TPA.

Dari sisi pengelolaan sampah perkotaan (urban waste management) tentu ini hal yang menggembirakan bahwa masyarakat mengetahui alur pengolahan sampah adalah dari sumbernya (rumah tangga, kantor, tempat publik, dsb) ke TPS dan berakhir di TPA.

Sebuah kota biasanya sangat bermasalah dengan yang namanya sampah, termasuk Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Data dari Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Tangsel menunjukkan produksi sampah rumah tangga dan industri dalam sehari sebanyak 100 ton dan 15 persennya merupakan sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang.

Sampah di sebuah kota memang menjadi masalah besar. Hal itu disebabkan langkanya lahan kosong untuk bisa dijadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah karena semua berubah menjadi tempat tinggal. “Berbeda dengan kabupaten yang wilayahnya luas dan daerah kosongnya banyak.

Baru baru ini Mitrapol.com menyambangi Tempat Pembuangan Sampah yang dikelola secara swadaya diatas lahan milik keluarga, yang berlokasi di Jalan Arjuna Rt 01/Rw 09 Pondok Benda, Pamulang Tangerang Selatan. Rabu (1/7).

Penampungan sampah akhir yang menampung sampah warga di 5 RW di wilayah terdekat, sudah berjalan hampir dua tahun dengan mempekerjakan tujuh orang warga setempat untuk menjaga dan mengelolanya.

Penampungan sampah yang tiap harinya dipergunakan hanya untuk limbah rumah tangga ini menghasilkan sampah kurang lebih 2 ton per minggunya.

“Ini hanya (Tempat Pembuangan Sampah) untuk membantu warga yang kesulitan dalam membuang sampah, limbah rumah tangga dan kami memberdayakan juga beberapa warga untuk mengambil dari rumah rumah warga,masih jauhlah kalau disebut komersil,ini juga kan tanah keluarga yang sudah disepakati dalam keluarga kami,” ujar Ahmad Asuk.

Dimulai dengan niat baik awalnya kita kelola beberapa ya sekitar hanya satu RW dulu kita kelola hingga sekarang ini, memang dari segi pengelolaan kita belum terbilang tersentuh tehnologi, Sampah kita bakar setiap hari dan kita pilah mana sampah organik dan non organik, kita kontrol setiap hari agar pembakaran sampah tidak meluas kemana-mana, yang mengelola dan mengerjakan orang-orang sekitar, mereka sangat terbantu setidaknya ada sumber penghasilan dari kegiatan sampah ini.

Niat baik tak selamanya bisa diterima, walaupun awalnya kami hanya ingin membantu warga sekitar yang kesulitan untuk membuang sampah rumah tangga, kalau bicara rugi pastinya kami rugi, mana ada sih yang pengen tanahnya dijadikan tempat pembuangan sampah…? Kami murni tidak ada nilai komersil dalam hal ini, warga yang buang sampah disini sukarela memberikan uang untuk para pekerja yang mengurus sampah tersebut, Sampah kita bakar setiap hari dan tetap terkontrol, beberapa warga ada yang protes merasa terganggu dengan asap pembakaran sampah tersebut, namun itupun gak berlangsung lama, ada warga yang protes namun pada akhirnya mereka tahu sendiri kalau sampah milik warga tersebut dibuang disitu, Saya pribadi mempersilahkan buang sampah ditempat lain atau diambil oleh petugas dari Dinas kebersihan namun mereka mengeluhkan masalah biaya angkut sampah tersebut, kata asuk.

Menutup perbincangan kami, pria yang akrab dipanggil Asuk ini berharap pihak terkait dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel bisa memberikan solusi dan jalan keluarnya, sudah beberapa kali dari Dinas Lingkungan Hidup melihat langsung pembuangan sampah disini dan menyuruh untuk menutupnya tapi tidak memberikan solusinya, banyak warga yang saya tidak ketahui membuang sampah disini, biasa mereka buang sampah disini pada malam hari atau pagi-pagi sekali, saya sangat senang sekali kalau pihak DLH memberikan solusi atau jalan keluar, tutupnya.

 

 

Reporter : Fauzi

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *