Surat terbuka untuk Bupati dan Ketua DPRK Aceh Timur

  • Whatsapp

Pante Bidari ku Sayang, Pante Bidari ku Malang.

MITRAPOL.com, Aceh Timur – Dukungan dan kesetian masyarkat Kecamatan Pante Bidari terhadap Bupati H.Hasballah M.Thaib dan Wakil Bupati Aceh Timur Syahrul Bin Syamaun tak perlu diragukan, Pilkada tahun 2012 dan Pilkada 2017 menjadi bukti bahwa masyarakat Pante Bidari menjatuhkan pilihan hati pada pasangan Rocky -Linud, masyarakat memberikan suara dan kepercayaan kepada pasangan ini dengan harapan mereka lah yang mampu mendengarkan dan memperhatikan aspirasi serta nasib masyarakat Pante Bidari agar tidak tertinggal dengan kecamatan lainnya.

Setidaknya jika Bupati dan Wakil Bupati Aceh Timur belum mampu memberikan balas jasa dengan memberikan bantuan modal usaha untuk semua masyarakat tapi paling tidak mereka mampu memberikan secuil kepedulian sebagai bentuk balas budi dan balas jasa dengan membangun jalan antar desa dari Lhok Nibong Ke Desa Sah Raja, supaya masyarakat bisa bernafas lega, saat melintasi jalan utama menuju pusat Kecamatan.

Tak hanya kepada Bupati dan wakil Bupati dukungan dan kesetiaan tersebut di berikan oleh masyarakat Pantee Bidari, tapi juga kepada Caleg yang maju Dari Dapil 4, bahkan posisi Ketua DPRK Aceh Timur sudah 3 periode berturut turut dijabat oleh dewan yang berasal dari Dapil 4 khususnya dari kecamatan Pantee Bidari.

Namun mirisnya, selama 3 periode Ketua DPRK yang dijabat oleh putra Pante Bidari, jalan lintas kecamatan yang jaraknya hanya berkisar sekitar 300 meter seakan akan luput dari pandangan mata wakil rakyat, dan bahkan mereka terkesan tuli terhadap jeritan rakyat.

Kini masyarakat Pante Bidari hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga Allah SWT, membukakan pintu hati, pendengar, penglihatan mereka, agar para pemimpin ini bisa merasakan, mendengarkan.dan melihat jeritan kami rakyat Pante Bidari,

Pante Bidariku Sayang, Pante Bidariku Malang, apa salah dan dosa kami, sehingga kami harus tiap hari menempuh jalan berbatu, di saat musim hujan kami harus melintasi jalan berlumpur dan di musim kemarau kami harus menghirup Debi, apakah kami hanya dipandang sebelah mata atau kami hanya dianggap penumpang hidup di Aceh Timur.

 

 

Reporter : Ijal/Yape

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *