Peduli Pendidikan, melalui Yayasan miliknya Bram Raweyai bangun PG dan Sekolah

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Timika – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Mimika Bram Raweyai mengaku sebagai anak daerah, Dirinya merasa peduli dengan dunia pendidikan guna mendukung cita-cita dari generasi dari anak papua. Tercatat sejak 4 tahun lalu hingga saat ini, Bram Raweyai telah membangun Play Group (PG) dan Sekolah Dasar (SD) yang diberi nama Miracle School yang terletak di Jalan Cenderawasih SP 2, Kabupaten Mimika.

“Papua ini bisa keluar dari keterpurukan karena pendidikan. Sehingga sebagai anak daerah papua yang usaha disini saya tidak membawa uang keluar dari daerah ini tetapi mengelola dan bebrbuat untuk daerah ini,” kata Bram Raweyai kepada wartawan di Timika, Jumat (17/7).

Dirinya menjelaskan, Ia hadir di Kabupaten Mimika bukan hanya sebagai anak daerah untuk berbisnis dan usaha akan tetapi merasa peduli dengan regenerasi pribumi papua, khususnya di Kabupaten Mimika.

“Saya cari uang dan berdagang di sini. Saya harus punya rasa tanggung jawab yaitu dengan membuat sekolah untuk membantu di dunia pendidikan bagi generasi di daerah ini,” terangnya

Menurut Bram, berbagai programnya tersebut dijalankan melalui lembaga pendidikan yang dibukanya dibawah naungan Yayasan Pondok Pemulihan Papua (YPP).

“Saat ini baru sekolah dasar (SD) dan saya rencana sampai SMA. tidak hanya Play Group (PG) dan SD, bisa dibuka hingga tingkat SMA jurusan perhotelan. Kalau ditingkat SMA nanti langsung praktek di Hotel Cenderawasih 66,” ujarnya.

Sekolah di bawah Yayasan Pondok Pemulihan Papua saat ini menurutnya menerapkan subsidi silang. Sehingga siswa yang mampu boleh membayar tapi juga digratiskan bagi yang tidak mampu.

Ditempat terpisah, Hengky Puto selaku Ketua Yayasan Pondok Pemulihan Miracle School kepada wartawan mengakui bahwa Bram Raweyai menyumbang satu hektar lahan sejak 6 tahun lalu dengan tujuan agar dikelola untuk bermanfaat bagi dunia pendidikan di Timika.

“Kebetulan, pada saat itu (6 tahun lalu-red) banyak anak korban konflik yang terjadi di Kwamki Narama dan Jayanti kami kumpul jadi tim sanggar tari dan selanjutnya hingga saat ini berkembang di dunia pendidikan,” terangnya.

Sekolah yang telah mengantongi ijin resmi pada Dinas Pendidikan ini memiliki 16 tenaga guru berasal dari lingkungan Yayasan Bersertifikat Guru. Jumlah siswa mulai dari PG hingga kelas 5 SD sebanyak 230 orang, di mana 70 persen siswanya orang asli papua OAP.

Keunggulan sekolah ini, lanjutnya pada kelas satu sudah bisa membaca, menulis dan menghitung (3M) dengan metode belajar yang mengasyikkan.

Uniknya, Sekolah ini tercata sudah beberapa kali meraih juara dan memperoleh penghargaan pada berbagai lomba Olimpiade.

Untuk fasilitas ruang belajar tersedia enam ruang kelas, meskipun saat ini baru ada kelas 5. Pembelajaran mengikuti kurikulum resmi pemerintah.

 

 

Reporter : AQM

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *