Sebelum Rahmat dan Rani jadi tersangka, Mereka pernah mimpi lolos dari jeratan hukum

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Maluku Utara – Belum lama ini Kejaksaan Negeri (Kejari) Weda, Halmahera Tengah (Halteng) telah menetapkan mantan Kepala Sub Bagian (Kasubag) Pertanahan, Moch. Syukur Abbas alias Rani sebagai tersangka dalam kasus korupsi pengadaan lahan Gelanggang Olaraga (GOR) Fogagoru.

Setelah itu, Kejari Weda juga telah berhasil menetapkan mantan Kabag Pemerintahan Halteng, Rahmat Safrani pada Jum’at (10/7/2020) kemarin sebagai tersangka.

Rani dan Rahmat diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan cara menyalahgunakan kekuasanya untuk memotong secara paksa uang masyarakat pemilik lahan GOR Fagogoru sebanyak Ratusan Juta Rupiah tanpa menggunakan kwitansi.

Dari perbuatan itu, dua sekawan ini diancam pidana dalam pasal 12 huruf e jo pasal 18 ayat 1 huruf b uu nomor 31 tahun 1999, tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan uu nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas uu nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana pemberantasan korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Namun begitu, siapa sangka, ternyata Rahmat dan Rani pernah bermimpi di siang bolong untuk lolos dari jeratan hukum. Hal itu jelas tertuang dalam sebuah komunikasi lewat Via SMS yang tak lain adalah menaruh harapan di orang nomor Satu Halteng (Bupati).

Berikut SMS Rahmat kepada Rani yang dibeberkan oleh Humas JPKP Halteng, Rosihan Anwar kepada Mitrapol.

Rahmat : “Rani jangan ngana drop..dan takut gertakan..pak bupati juga tdk tinggal diam”

Rahmat : “Masalah ini so mau aman, krn dong geser kita kaluar dgn jaminan dong selesaikan..makanya kk abo dong bgm dong tra tau tong dua sasaran”

Rahmat : “Jangan seperti itu, saya pergi pim ini so baku ambe deng bupati utk kase batal rani..cuma beliau pigi dan menjaminkan masalah ini dia pe urusan dan tanggung”

Rahmat : “Ngana kira Jaka tra masuk juga, torang semua kena tarda..”

Rahmat : “Ngana bisa perbaiki ngana pe bap di jaksa itu krn merasa di tipu dan di paksa..jangan terjebak. Ngana jang bilang tong so tau, tara bole bilang jang saya keliru. Kase peta 2019 saja dulu. Maksudnya pasti kejari klo minta”

Dari chat di atas, JPKP meminta kepada pihak Kejari Weda untuk serius dan terus mencari biang dari titik awal permasalahan GOR Fagogoru.

“Kami dari JPKP menduga, ada oknum yang sengaja menjadikan Rani dan Rahmat sebagai kuda hitam untuk melakukan pemotongan uang dari masyarakat pemilik lahan GOR. Karena tanpa diperintah mereka juga tidak akan berani melakukannya. Terus kenapa selalu ada Bupati dalam komunikasi mereka,” kata Humas JPKP, Selasa (21/7/2020).

Sementara Kepala Kejaksaan Negeri Weda, Arif Budiman saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya akan terus mendalami kasus GOR Fagogoru berdasarkan alat bukti.

“Masih berjalan. Dalam menangani suatu kasus, kami berdasarkan pada alat bukti. Semua tergantung dari alat bukti,” tutupnya.

 

 

Pewarta : Syahwan

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *