Kepengurusan libatkan keluarga, diduga proyek pekerjaan pembuatan saluran air oleh P3A Wonosari Lamtim jadi ajang korupsi

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Lampung Timur – Dugaan carut marut dan tidak beresnya proyek pekerjaan pembuatan saluran air bagi petani oleh P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) di Desa Wonosari Bedeng 35 Pekalongan Lampung Timur sangatlah berasalan.

Menurut warga sekitar ada aroma nevotisme (kekeluargaan) didalam kepengurusan P3A, sehingga menimbulkan dugaan ajang korupsi keluarga. Saat terpilih menjadi Ketua P3A,  Munjari (ayah) dan Haryono sebagai bendahara (anak), Hal ini menjadi sorotan sejumlah warga sekitar dalam mengelola dana proyek tersebut.

Fakta adanya ketidak beresan hasil pekerjaan, terlihat dari tidak ada plang proyek yang menjelaskan jumlah anggaran. Selain itu dinding siring/precast dari hasil cetakan yang dibuat oleh para pekerja terlihat sebagian patah/retak belah, namun tetap dipasang dan ditambal sulam.

Terkait hal itu, Munjari selaku Ketua P3A tidak berada di lokasi pekerjaan,hanya Haryono (anak Munjari) selaku bendahara P3A dan mengatakan bahwa semua hasil pekerjaan sudah baik.

“Pekerjaan baru tahun ini ada, kalau yang retak dan patah itu,karena ada cetakan yang tiga hari dan empat hari. Jadi wajar patah, dan tempatnya sempit dan kami diburu waktu.

“Kalau ada yang patah itu wajar. Cetakan itu adukan 1 zak semen, 3 pasir, 2 batu. Itu juga karena belum kering,” kata Haryono, kepada awak media, Jum’at (21/8/2020).

Saat ditanyakan mengenai tidak adanya plang proyek dilokasi, Haryono berdalih bahwa plang sudah dipasang dilokasi pekerjaan, dan ia juga menjelaskan jumlah nilai proyek yang cukup pantastis dan spesifikasi luas pekerjaan.

“Nilai uang pekerjaan 190 juta dan panjang pekerjaan 1.206 meter.Kalau plang proyek sudah kami pasang dilokasi pak, ditengah-tengah,” kilahnya.

Sementara itu, Sriyono sebagai Kepala Tukang mengamini bahwa ada cetakan precast yang patah tetap dipasang dan sistem pengupahan para pekerja.

“Targetnya tiga bulan pekerjaan ini,kalau ada precast yang patah kita pasang saja. Kami semua berjumlah 11 orang, tukang dibayar 100 ribu dan kuli 80 ribu,” jelas Sriyono.

Atas segala temuan itu, tim media akan meminta tanggapan dari sejumlah LSM yang ada di Kabupaten Lampung Timur. Atas dugaan korupsi dengan melaporkan pekerjaan tersebut kepada pihak yang berwajib atas kerugian negara.

 

 

TIM

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *