Lemasko pertanyakan kelanjutan operasi Pabrik Sagu di Desa Kekwa Kabupaten Mimika

  • Whatsapp
Gery Okoare, Ketua Lemasko

MITRAPOL.com, Timika – Gery Okoare selaku Ketua Lembaga Masyarakat Adat Suku Kamoro (Lemasko) Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, mempertanyakan kelanjutan pengoperasian Pabrik Sagu yang dikelola oleh Yayasan Somatua di Desa Kekwa Distrik Mimika Tengah, Kabupaten Mimika, Papua.

Gery sapaan Ketua Lemasko merasa heran lantaran menurutnya keberadaan Pabrik Sagu itu bertujuan untuk membantu Warga Masyarakat di wilayah Pesisir Distrik Mimika Tengah khususnya Kampung Kekwa. Namun hingga kini pabrik tersebut belum dapat beroperasi dengan baik dalam hal pengolahan sagu itu sendiri. Ironisnya, dalam mendirikan bangunan pabrik tersebut diketahui sudah menelan anggaran miliaran rupiah.

“Itu (Pabrik Sagu-red) sebenarnya proyek siluman. Karena sampai hari ini faktanya tidak dioperasikan. Anehnya Yayasan itu mau fokus ke Pantai untuk Pariwisata lagi. Kalau mau bikin pabrik sagu silahkan dioperasikan, tapi kenapa harus lari ke Pantai lagi,” kata Ketua Lemasko, Gery Okoare dalam keterangan persnya di Timika, Selasa, (8/9/20).

Dirinya tak menampik bahwa, Pemilik Yayasan Somatua sebagai pengelola pabrik sagu telah berkordinasi denganya selaku Ketua Lemasko namun menurutnya kordinasi itu hanyalah mengenai Pabrik Sagu, bukan kordinasi terkait Pariwisata Pantai.

Ketua Lemasko, Gery Okoare saat jumpa pers

“Memang pemilik Yayasan sudah kordinasi dengan saya tetapi untuk pabrik sagu saja. Kenyataannya sekarang ini sudah lari ke pantai untuk pariwisata, apa maksudnya ini,” ujarnya.

Gery menduga kuat pembangunan pabrik sagu itu merupakan proyek siluman, sehingga pihaknya akan melapor secara kelembagaan adat ke Polda Papua untuk mengusut secara tuntas oknum-oknum yang terlibat dalam dugaan penyelewengan dana miliaran rupiah tersebut.

“Yang menjadi pertanyaan kami, proyek (Pabrik Sagu-red) ini dibanggakan oleh masyarakat tapi sampai sekarang belum dioperasikan, ini ada apa dan mengapa. Jangan ada yang cuci tangan,” terang Gery.

Ketua Lemasko kemudian beratensi kepada Dinas dilingkup Pemkab Mimika serta Polda Papua untuk tidak mengeluarkan ijin terkait Pariwisata Pantai di Mimika.

“Saya minta Dinas terkait dan Polda Papua untuk sementara jangan dulu mengeluarkan ijinnya. Tujuan awalnya untuk Pabrik Sagu tetapi sekarang ini malah Wisata Pantai. Kami tidak mau karena jangan sampai tanah kami di pesisir dirampas,” pintanya.

Gery Okoare menyebut, pembangunan Pabrik Sagu tersebut sebetulnya didasari atas kepentingan bisnis perorangan dari oknum-oknum yang disangkakan.

Ketua Lemasko kemudian mengingatkan kepada Yayasan yang ada di Mimika supaya tidak mengambil alih pengoperasian pabrik sagu tersebut, karena pihaknya akan melaporkan keterlibatan oknum-oknum untuk segera diperiksa.

“Tidak boleh ambil alih (pengelolaan pabrik sagu-red). Nanti yang lain cuci tangan. Harus mereka diperiksa karena itu proyek siluman. Yayasan ini juga awalnya mau mengoperasikan pabrik sagu tetapi kenapa lari lagi ke pantai Keakwa untuk sektor pariwisata. Itu sebenarnya untuk mengelabui masyarakat,” pungkasnya.

Sebelumnya, diketahui pada tahun 2016 silam Pabrik Sagu tersebut dibangun oleh YPMAK atau LPMAK pada saat itu. Dengan tujuan untuk membantu memudahkan masyarakat setempat dalam mengolah atau pemrosesan teras batang rumbia atau pohon sagu untuk dijadikan tepung sagu.

Kekinian, pengelolaan pabrik sagu di Desa Kekwa itu diambil alih oleh Yayasan Somatua untuk melanjutkan Pengoperasian Pabrik Sagu.

Hingga berita ini ditayangkan, Ketua Yayasan Somatua belum dapat ditemui maupun dihubungi via telepon seluler untuk dikonfirmasi terkait hal ini.

 

Reporter : AQM

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *