“Tersandungkah” Peraih Adimakayasa di Aceh…?

  • Whatsapp
Ilustrasi

MITRAPOL.com, Banda Aceh – Masih kita ingat beberapa bulan yang lalu di saat Irjen Pol Drs.Wahyu Widada M.Phil diangkat sebagai Kapolda Aceh, begitu “besar” harapan masyarakat,LSM,awak media ,tokoh-tokoh masyarakat terhadap sosok seorang alumni Akpol terbaik tahun 1991 yang berpengalaman di bidang reserse ini menuntaskan kasus-kasus “mangkrak” selama ini dan melaksanakan Penegakkan Hukum tanpa “memandang bulu” siapapun itu.

Kedatangan sosok Kapolda Aceh Irjen Pol Drs.Wahyu Widada M.Phil di Aceh disambut dengan penuh suka cita disertai sebuah harapan Penegakkan Hukum yang baik nantinya jelas tersirat di wajah-wajah masyarakat Aceh saat itu.

Irjen Pol Drs.Wahyu Widada M.Phil mulai menunjukkan sikap ramah,tegas,disiplin dalam 100 hari kerjanya bertugas sebagai Kapolda di Aceh, bahkan beliau mulai melakukan silahturahmi kepada Forkominda Aceh serta menggelar pertemuannya dengan para wartawan di Aceh.

Sosok Kapolda Aceh ini langsung banyak di elu-elukan oleh masyarakat Aceh disaat 100 hari kerjanya melakukan gebrakkan pemberantasan dugaan Korupsi,Kolusi,Nepotisme (KKN) dan pemberantasan illegal mining,illegal loging serta mafia minyak.

Kapolda Aceh si peraih Adimakayasa itu juga sempat mengeluarkan statmentnya yang berbunyi lebih kurang seperti ini “siapapun yang menghalangi tugas wartawan/media,laporkan saya”, yang membuat para wartawan di Aceh merasa demokrasi dan kebebasan pers begitu besar diberikan oleh Kapolda Aceh Irjen Pol Drs.Wahyu Widada M.Phil.

Kebanggaan memiliki sosok Kapolda Aceh yang baru ini terus berjalan beberapa bulan, banyak tokoh, LSM, awak media yang mendatangi Kapolda Aceh dalam rangka silahturahmi dan memberikan dukungan moral.

Suasana itu ternyata hanya berlangsung beberapa bulan saja sampai akhirnya hadir Pandemi Covid-19 di Aceh, mulailah sosok Kapolda Aceh ini focus terhadap pencegahan berkembangnya virus ini di wilayah kerjanya.

Video himbauan untuk pencegahan menyebarnya virus covid-19 dari Kapolda Aceh menjadi viral dan kegiatan-kegiatan sosialnya diangkat oleh hampir seluruh media di Aceh sampai lahirlah “kue surganya” pak Kapolda Aceh.

Kasus KKN dan tangkapan illegal mining serta mafia minyak juga berjalan proses hukumnya, akan tetapi tidak secepat dan se viral “kue surganya” milik Kapolda Aceh itu, kasus-kasus tersebut serasa berjalan sangat lambat bahkan lebih lambat daripada mulai beredarnya foto-foto Kapolda Aceh dengan beberapa pengusaha yang selama ini diduga banyak masalah secara hukum di bumi yang terkenal dengan Syariat Islamnya ini.

Mulailah permasalahan muncul satu persatu di Polda Aceh, seperti raibnya excavator yang ditangkap oleh team Tipiter Polda Aceh saat itu dari halaman belakang Polda Aceh sebagai penyimpanan sementara,dugaan tidak diprosesnya beberapa hasil tangkapan excavator tersebut sesuai aturan hukum yang berlaku.

Hari demi hari dan bulan demi bulan terus berjalan, sosok Kapolda Aceh yang begitu di elu-elukan awalnya oleh masyarakat Aceh ini mulai mendapatkan kritik dari LSM dan awak media terhadap kinerjanya sebagai Penegak Hukum.

Kasus-kasus dugaan KKN sampai saat ini pantauan awak media kami belum ada yang dituntaskan sampai ke meja hijau dan yang sedang menjadi viral adalah kasus pengusaha muda Bireuen mengenai dugaan KKN nya dan illegal mining serta dugaan non procedural penjualan minyak di SPBU nya yang ditangkap serta di police line oleh team Polda Aceh akan tetapi tidak diproses hukum sampai tuntas hingga saat ini yang telah “berjalan ditempat” dan “terdampar” di Polda Aceh berbulan-bulan.

Kapolda Aceh saat ini sepertinya sedang melakukan aksi “tutup mulut” dengan masker sehingga agak sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan dari awak media apalagi terkait kasus Mr. M Pengusaha muda asal Bireuen itu.

Media kami juga telah mengirimkan surat permohonan klarifikasi tertulis menanyakan kasus illegal mining dan dugaan permainan minyak yang telah di police line oleh pihak Polda Aceh milik pengusaha muda Bireuen tersebut kepada Kapolda Aceh akan tetapi sudah satu bulan ini belum di jawab juga.

Pantauan awak media kami perubahan sikap terbuka,tegas serasa mulai hilang dari sosok peraih gelar Adimakayasa ini, apakah karena wajahnya mulai tertutup dengan masker sehingga tak terlihat lagi wajah ramahnya…? Sikap tegasnya sudah mulai tertutup dengan virus covid-19 yang mulai bergentayangan di Aceh…?

Akankah alam Aceh yang begitu mempesona dapat membuat semua orang yang datang “terbuai” bahkan dapat “tersandung” di saat melangkah di Bumi Aceh ini…?

Ntahlah…Hanya Tuhanlah yang tau…!!!

 

 

Pewarta : Indra

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *