Kisah miris keluarga Sukarna, Hidup susah tidur beralaskan tikar di rumah berlantaikan Tanah Merah

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pandeglang Banten – Memprihatinkan, begitulah kondisi kehidupan yang dialami pasangan suami isteri (Pasutri) Sukarna Sigit (55) dan Enah (58) warga Desa Cigeulis Kecamatan Cigeulis Kabupaten Pandeglang Banten.

Akibat ketiadaan biaya untuk membangun rumah layak huni mereka terpaksa menempati rumah yang belum selesai dibangun milik peninggalan orang tua Enah.

Mirisnya keadaan ini sudah dialami oleh Ibu Enah bersama suami dan 8 orang anak sejak 2 tahun terakhir.

Untuk mengetahui kehidupan keluarga ini, kita cukup menempuh perjalanan selama 5 menit dari pinggir jalan raya jalan Nasional Panimbang – Cibaliung,yang patokannya tidak jauh dari Puskesmas Cigeulis, sebab lokasi gubuk barada di RT 01, RW 06 Desa Cigeulis.

Saat disambangi oleh Mitrapol.com kelokasi, wartawan bertemu dengan ibu enah bersama anak gadisnya yang baru kelas 1 SMP yang sedang sakit. Rabu,(16/09/20).

Sementara suaminya Sukarna Sigit sedang di kebun untuk mencari nafkah.

Tak ada barang mewah dalam rumah berlantai tanah itu. Hanya beberapa kursi bekas yang disediakan untuk tamu dan 1 buah tempat tidur usang di dalam rumah yang belum selesai dibangun berdindingkan asbes.

Di rumah berukuran 6,5×3meter milik keluarga miskin ini hanya 1 kamar yang digunakan tidur bersama anak-anaknya langsung bergandengan dengan dapur. Satu sebagai kamar tidur dan yang 2 lagi hanya tekpat kosong dan melompong dikarenakan pembangunan yang belum diselesaikan karena tidak memiliki uang,satunya dijadikan dapur untuk masak. Di dalam kamar, terdapat beralaskan tikar tanpa kasur.

Kepada Mitrapol.com, perempuan asli asal Cigeulis Kecamatan Cigeulis ini menceritakan perjalanan hidup keluarganya menempati gubuk bekas peninggalan orang tuanya yang berukuran kecil yang dahulunya persis kandang ayam.

“Ini tanah peninggalan orang tua saya, dulunya ini bangunan bilik kecil peninggalan orang tua. Awalnya kami tinggal dirumah bilik hasil dibangun orang tua. Jadi biarpun kecil kami tetap tinggal bersama 8 anak saya pak,alhamdullilah yang 3 orang anak saya sudah berkeluarga,yang satu lagi kerja kuli dijakarta dan 4 lagi masih kecil-kecil,terang Enah dengan wajah senyum seakan menutupi suatu kesedihan.

“Kalau musim hujan atau angin, kami terpaksa kami bertahan bersama anak -anak dikarenakan bangunanya belum selesai,pintu aja belum ada masih melompong pak,dan jika musim hujan kadang ada ular yang masuk kerumah, ungkapnya lirih.

Ibu Enah mengatakan, dia dan suaminya baru bisa membangun rumah ini hanya sebatas begini, bapak liat sendirilah !? lirihnya, karena keterbatasan biaya dan himpitan ekonomi niat tersebut sampai hari ini belum terselesaiakan.

Kami sempat diajukan mendapatkan bedah rumah dari program pemerintah, data kami sudah masuk, suami saya sudah ikut rapat, tapi kata orang desa tidak bisa dikarenakan kami mendapatkan program PKH.

Ia memang kami mendapatkan program PKH pak, Alhamdullilah dan program BPNT, yah sekarang dalam keadaan Covid-19 ini kami hanya mendapatkan 80 ribu perbulan, dan kami sudah 4 bulan tidak mendapatkan bantuan sembako yang setiap bulan itu pak, jelas Enah.

Saya sangat berharap, Pemerintah Kabupaten Pandeglang khususnya dan Pemprov Banten umumnya agar memberikan bantuan berupa perbaikan rumah layak huni.

“Semoga dengan diberitakan oleh teman-teman media, Pemerintah bisa bantu keluarga kami untuk bangun rumah layak huni” ujarnya..

Sementara itu, Royen Siregar selaku Ketua LSM SANRA (Sayap Amanah Nusantara) DPW Banten sangat merasa sendih dan perlu perhatian cepat dari pemerintah Kabupaten Pandeglang untuk melihat keadaan keluarga Bu Enah.

Saya sudah melihat langsung keadaan rumah ibu Enah ini,rumahnya melompong ada kusen tanpa pintu, baik depan dan belakang,kusen tanpa jendela,kamar tempat tidur hanya beralaskan tiker,dinding rumah yang belum tertutup,jika hujan deras turun dan angin jelas sekali keluarga ibu ini akan basah, tegas Royen.

Hewan saja bisa diurus oleh manusia,manusia yang jelas dalam kepemerintahan ada aturan,dan saya yakin sebenarnya bukan keinginan keluarga ibu Enah ini mau seperti yang dialami sekarang,kita pergunakan hati nurani untuk membantu saudara kita,pemerintahan desa Cigeulis tolong perhatikan warganya,apakah tidak pernah memperhatikan para warganya ?, imbuhnya.

 

 

TIM

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *