Program BPNT diduga kuat hanya memperkaya Suplier dan oknum lainnya

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pandeglang Banten – Program bantuan sembako merupakan pengembangan dari program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebagai program transformasi bantuan pangan untuk memastikan program menjadi lebih tepat sasaran, tepat jumlah, tepat waktu, tepat harga, tepat kualitas,dan tepat administrasi.

Program ini diharapkan dapat memberikan pilihan kepada penerima manfaat dalam memilih jenis, kualitas, harga dan tempat membeli bahan pangan.

Untuk program Sembako, pemerintah meningkatkan nilai bantuan dan memperluas jenis komoditas yang dapat dibeli sehingga tidak hanya berupa beras dan telur seperti pada program BPNT, namun juga komoditas lainnya yang mengandung sumber karbohidrat, protein hewani,protein nabati maupun vitamin dan mineral sebagai upaya dari Pemerintah untuk memberikan akses Keluarga Penerima Manfaat (KPM) terhadap bahan pokok dengan kandungan gizi lainnya.

Dari prinsip 6T yang menjadi perhatian penuh masyarakat yaitu Tepat Harga,Tepat Sasaran dan Tepat Kualitas.Namun,sangat berbeda ketika ditemukan dilapangan bahwa yang dialami oleh para KPM didesa pasangrahan kecamatan Munjul, diduga tidak tepat harga.

Hal ini diperkuat dengan apa yang diterima oleh KPM dari e-warung yang ditunjuk untuk desa pasanggrahan,Kecamatan munjul kebupaten Pandeglang Banten, tidak sesuai dengan saldo yang ada dengan apa yang didapatkan, dan bahkan KPM tidak pernah mengetahui harga satuan diagen yang ditunjuk.

Kami juga pernah menerima beras yang ada kutuan pak,dan terpaksa tetap harus saya masak,sepertinya itu campuran pak,papar salah satu warga yang dimana namanya enggan disebutkan ini.

Informasi yang dapat dihimpun oleh Mitrapol.com dari KPM didesa pasanggrahan ini, bahwa yang diterima hanya Beras 10 Kg, Telor 2 Kg, dan Tahu 2 bungkus kecil, sayuran dan Jeruk 1 kg, serta Kacang Ijo seplasltik kecil.

Kami masyarakat (KPM) hanya sebatas mengambil ke e-warung yang ditunjuk, dan harga satuannya kami tidak pernah mengetahuinya.

Mitrapol.com mencoba menggali informasi dari agen didesa pesanggrahan untuk pengucuran BPNT bulan september 2020, Ade juga tidak mengetahui harga satuan dari yang didapatkan KPM.

Ia pak, saya juga tidak mengetahuinya, untuk masalah harga silahkan bapak tanyakan ke TKSK aja pak, terang Ade melalui telepon selulernya. Senin (21/09/20).

Jika diperhitungkan harga pasaran untuk beras yang kami terima hanya perkilonya harga Rp.9.000 x10kg jumlahnya Rp.90.000,telor 2 kg harga pasaran Rp.24.000 x 2kg sejumlah 48 ribu,dan tahu jika diharga pasar para KPM Rp.6.000,bungkusan sayuran paling juga 3ribuan,jeruk pasaran yang bagusnya Rp.15.000,dan harga kacang ijo paling hitungan Rp.5.000,jadi jumlah keseluruhan Rp.167.000.tegasnya

Dari jumlah penghitungan keseluruhan yang diterima oleh KPM adalah Rp.167.000.Jika dicermati dengan saldo yang ada KKS jumlahnya Rp.200.000,berarti sangat jelas bahwa jumlah uang para KPM sejumlah Rp.33.000 hilang entah kemana.tuturnya.

Dengan apa yang dirasakan oleh KPM dan keterangan dari e-warung sangat jelas dan patut diduga adanya monopoli yang dilakukan oleh Suplier kepada agen yang ditunjuk yang ada di desa Pesanggrahan khususnya dan di Kabupaten Pandeglang umumnya.

Dari jumlah uang KPM dalam hitungan pasar yang Rp.33.000 sangat jelas adalah upaya pihak para pengusaha (Suplier) dalam meraih keuntungan tanpa melihat ketentuan prinsip program sembako yakni 6T (Tepat Sasaran, Tepat Jumlah, Tepat Waktu, Tepat Harga, Tepat Kualitas, dan Tepat Administrasi).

Sampe pemberitaan ini ditayangkan TKSK kecamatan Munjul belum menjawab telepon awak media.

 

 

Pewarta : R. Siregar/Rapeng

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *