Pembelajaran tatap muka bakal diterapkan bertahap di wilayah perbatasan Nunukan

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Nunukan – Kepala dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Nunukan, H. Junaidi SH mengatakan, sesuai dengan hasil kajian tim Gugus percepatan Penanganan Covid -19 bersama tim dinas pendidikan bahwa Keseluruhan sudah ada 11 Sekolah melaksanakan Pembelajaran tatap muka.

H. Junaidi SH yang didampingi Kepala Bidang Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa jadi dasar kita pertama membuka sekolah tatap muka ini adalah regulasi yang mengatur jadi secara legal formal itu dasar kita adalah surat keputusan bersama empat menteri perubahan SKB itu menyatakan bahwa zona kuning dan hijau boleh dibuka.

“Nunukan saat ini berdasarkan data yang dirilis oleh tim gugus pusat itu masuk kedalam zona kuning artinya kabupaten nunukan itu boleh membuka tatap muka di perbolehkan pertama yang harus diketahui semua pihak,” ujar Junaidi kepada wartawan di Nunukan belum lama ini.

Lanjutnya, kedua Dengan status kabupaten kita itu boleh membuka kemudian berikan ruang kepada sekolah untuk mengajukan permohonan kepada dinas pendidikan nanti dinas pendidikan melakukan verifikasi.

“Dinas pendidikan itu memohon kepada dinas kesehatan untuk melakukan rekomendasi dan ketim gugus kalau rekomendasi sudah terbit dari dinas kesehatan dan tim gugus maka nanti kemudian dinas pendidikan akan menetapkan untuk dapat ditetapkan pada sekolah,” jelasnya.

Kepala dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Nunukan, H. Junaidi SH

Ada beberapa persyaratan yang harus terpenuhi diantaranya dia sekolah itu harus sudah lengkap daftar periksa yang standar minimal daftar periksa yang harus disiapkan,

“sarana mencuci tangan kemudian hand sanitiser nya kemudian cadangan maskernya,” imbuhnya.

kemudian ada pernyataan dari kepala sekolah dan kesepakatan bersama antara sekolah dengan tim apa namanya komite itu bersedia atau siap melaksanakan tatap muka itu dulu yang menjadi dasar.

“tim kesehatan itu bersama dengan tim dari dinas pendidikan turun ke lapangan untuk Verifikasi Faktual apakah benar sekolah itu layak untuk dibuka tatap muka,” ucapnya.

Sudah ratusan sekolah yang mengajukan permohonan yang sudah diverifikasi dan sudah ada hasilnya.

Namun baru ada beberapa sekolah yang sudah diverifikasi tidak semuanya juga itu memenuhi syarat untuk bisa dibuka hingga tahap kedua ini baru 11 Sekolah.

Tahap pertama ada tiga sekolah tahap kedua ada 8 Sekolah diantaranya

1.SMP Negeri 01.Lumbis.

2. SMP Negeri 01 Krayan dan.

3.SMP Negeri.04 Krayan

Lanjut widodo menjelaskan bahwa untuk tahap kedua itu ada 8 delapan Sekolah khusus wilayah Perbatasan diantaranya:

01.SMP Negeri.01 Sebuku

02.SMP Negeri 02 Sebuku

03.SMP Negeri 01 Sembakung

04.SMP Negeri 03 Krayan Selatan.

05.SD Negeri 04 Sebuku

06.SD Negeri 05 Sebuku

07.SD Negeri 009 Sebuku

08.SD 006 Sembakung

Sesuai dengan surat Rekomandasi dari Tim Gugus tugasPercepatan penanganan Covid-19 Nomor: 259/Set.GTP/Covid-19/NNk/1X/2020 tanggak 22 September 2020.

Sekolah khusus untuk wilayah pulau Nunukan dan pulau sebatik ini karena tingkat atau prevalensi terjadinya penyebaran virus masih sangat tinggi sangat dinamis perkembangan kasus covid juga di pulau Nunukan juga sangat dinamis perkembangan terakhir kan ada tambahan .

Sesuai dengan data kemudian berdasarkan kajian analisis juga dari epidemiologi nya untuk wilayah Nunukan dan 5 kecamatan di Pulau sebatik ini masih dipertimbangkan meskipun Nunukan dan sebatik itu beberapa sekolah yang mengajukan memang memenuhi syarat sebenarnya.

Tetapi dari potensi penyebaran masih cukup tinggi sehingga tim gugus masih untuk sementara ditunda dulu kondisi di Nunukan dan Pulau Sebatik.

khusus untuk pulau sebatik sepanjang sekolahnya itu layak dan memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan syarat teknis dari sisi kesehatan itu akan ditetapkan.

Menurut Widodo kalau bicara zona kuning wilayah sebagian wilayah Sembakung juga zona kuning utamanya adalah tingkat mobilitas orang keluar Masuk Nunukan begitu juga dari sebatik tujuan Nunukan jika itu sangat tinggi tingkat mobilitas inilah yang akan memicu yang terjadinya penyebaran virus ini contoh sebatikkan dekat tawau sabah Malaysia lebih gampang.

Kemudian kalau ke Tarakan juga gampang nunukan itu ke Tarakan ke Bulungan ke mana ke makassar surabaya dan seterusnya lancar ini yang membikin kita masih khawatir terjadi serangan

disebabkan penyebaran oleh penularan manusia ke manusia lain apalagi mobilitas yang sangat tinggi.

Sebagai contoh kasus terakhir yang kita baca di Tarakan saja tiba-tiba ada 29 langsung penumpang dari surabaya yang tiba di Tarakan dan dinyatakan positif kita tahu itu seperti itu kita enggak tahu di Nunukan ini juga akan berita yang kita sudah ada penularan lokal.

Menjadi bahan analisis kenapa kemudian pulau Nunukan itu masih kita tunda dulu meskipun dasar regulasi atau berdasarkan ketentuan peraturan perundang -undangan ” di bolehkan tetapi bukan diwajibkan” boleh masih ada pertimbangan kalau kemudian pemerintah daerah atau tim gugus masih memandang ini prevalensi yang masih cukup tinggi dan belum ditetapkan untuk membuka kelas.

Kita menunggu sampai dengan ada keputusan dari tim gugus dan dinas kesehatan menerbitkan rekomendasi

“Jadi untuk saat ini memang nunukan dan sebatik belum dilakukan pembelajaran Tatap Muka guru dengan siswa¬† tapi bukan berarti sekolah yang tidak layak.

Ada beberapa yang mengajukan sudah layak hanya pertimbangan dari sisi ancaman bahaya penularan yang masih tinggi cukup riskan, ujar Widodo.

“Kalau daerah wilayah 3 memang mobilitas orang itu akan kurang karena jarak juga jauh, terkadang orang luar juga jarang masuk begitulah pertimbangannya,” tutupnya.

(Yuspal)

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *