Keprihatinan Abah Anton terkait pelecehan situs patilasan Karangmulya

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Jabar – Viral beredar di media sosial, Dua buah foto yang menunjukkan wisatawan tengah menaiki batu patilasan Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Situs Karangkamulyan adalah situs arkeologi yang terletak di Desa Karangkamulyan, Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat. Situs ini merupakan peninggalan dari zaman Kerajaan Galuh. Lokasinya berada di jalan poros Ciamis Banjar dengan luas 25,5 hektar. Situs ini bercorak Hindu-Sunda.

Salah satu foto memperlihatkan seorang wanita yang berdiri di atas batu lambang peribatan itu. Kemudian, di foto yang lainnya memperlihatkan seorang laki-laki dengan pose yang hampir sama. Berfoto dengan gaya berdiri di atas batu patilasan Karangkamulyan tersebut.

Aksi wisatawan yang dinilai tidak sopan tersebut menuai kritik dari berbagai pihak, salah satunya dari tokoh Nasional pemerhati budaya, Irjen Pol (P) DR. Dr. H. Anton Charliyan Mpkn yang juga mantan Kapolda Jabar dan Kadiv Humas Polri.

Kepada mitrapol, Irjen Pol (P) DR. Dr. H. Anton Charliyan Mpkn yang biasa disapa Abah Anton ini menyampaikan keprihatinannya, Mari kita jadikan pembelajaran untuk lebih saling menghormati adat istiadat tradisi agama dan kepercayaan. Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung, ujarnya.

Lanjut Abah Anton, Dengan terjadinya peristiwa ini mari kita jadikan pembelajaran bersama, untuk lebih menggali lagi arti Bhineka Tunggal Ika dengan seksama tidak hanya sekedar sebuah pemahanan sempit tentang arti berbeda-beda tetapi tetap satu, karena kita hidup di Nusantara ini memang ditakdirkan sebagai bangsa yang Multy Cultur, Multy Etnis dan Multy Agamis.

Kita boleh berbeda agama, bahasa daerah, etnik, keturunan budaya tradisi, adat istiadat bahkan Kepercayaan, tapi sebagai mana kita sepakati bersama dari awal pembentukan bangsa dan negara ini, kita harus saling menghargai, kita harus saling menghormati, kita harus saling toleransi segala perbedaan-perbedaan tadi, kalau tidak ingin disebut tidak tahu adat, tidak tahu etika atau bahkan bisa saja dilabeli sebagai sebuah sikap yang intoleran.

Intoleransi bukan hanya terhadap agama saja tetapi terhadap segala perbedaan, intinya kita harus lebih mengedepankan sikap-sikap tepi seliro, toleransi dalam setiap perbedaan.

Makanya ada pepatah dari daerah Jawa Barat, Kacai jadi saleuwi kadarat jadi salebak, yang artinya, dimana bumi dipijak disana langit dijunjung. Ciri sabumi, cara sadesa, mari kita jadikan perbedaan ini sebagai sebuah keindahan yang harus kita jaga bersama.

Apalagi yang menyangkut adat tradisi agama dan kepercayaan, hal tersebut sangat sensitif, karena akan menyakiti bukan hanya satu individu, tapi bisa menyakiti dan menyulut emosi satu komunitas, suku bangsa bahkan satu Negara, karena didalamnya ada terkandung nilai-nilai luhur. Kesucian, Sakralisme Kepercayaan, bahkan kebanggan, kehormatan harga diri dll, yang sekali lagi kita ingatkan, akan sangat sensitf bila hal tersebut terganggu dan ternodai.

Mari kita jadikan pembelajaran untuk lebih saling menghormati adat istiadat, tradisi, agama dan kepercayaan. Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung, pungkas Abah H. Anton Charliyan.

 

 

Red

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *