Curahan hati seorang ibu yang anaknya tewas akibat penganiayaan 

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Jakarta – Banyak orang yang selalu meminta para orangtua yang kehilangan anaknya untuk terus bersabar. Mereka bilang, orangtua yang anaknya meninggal justru beruntung karena sudah ada yang ‘menunggu’ mereka di alam baka.

Tentu saja itu hanya kata-kata penghiburan belaka. Namun bagi beberapa orangtua yang sedih karena anaknya meninggal, hal itu sama sekali bukan penghiburan yang dibutuhkan oleh mereka.

Seorang ibu yang disapa TAN menulis curahan hati tentang kesedihan hatinya ditinggal satu dari tiga anaknya yang meninggal akibat mengalami kekerasan karena dituduh mencuri motor.

Duka tak juga menghilang. Akan selalu ada segumpal hati yang hancur berantakan tanpa satu anak, yang dimana anak yang biasanya bermain bertiga bersama saudaranya.

Menyakitkan saat seharusnya kami sibuk mendekorasi kamar tempat tidurnya, kami malahan justru sibuk menyiapkan pemakaman. Rasa sakit terus berlanjut bertahun-tahun setelah mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya.

Duka tidak pergi. Hal itu akan selalu menggumpal di hati, hancur berantakan tanpa satu lagi anak yang biasa bermain adik perempuannya.

Tan, kepada Mitrapol.com memaparkan kejadian sebenarnya yang terjadi menimpa anaknya berinisial Mic alias Acun, (17) yang meninggal akibat mengalami kekerasan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak mengetahui permasalahan anak saya yang sebenarnya.

Pada tangal 12 September 2020, tepatnya dihari Sabtu anak saya pergi bersama teman-temannya nongkrong tidak jauh dari rumah, (bastem) di daerah Kapuk Muara Rawa, kemudian anak saya dan teman-temannya pergi ke arah Gunung Sahari lalu ke Mangga Besar, mereka keliling muter-muter tidak jauh dari daerah Mangga Besar dan mereka bertemu degan lawan (musuh), yang katanya mereka ingin melakukan tawuran.

TAPI!!!!!. Sebelum tawuran terjadi/dan belum terjadi tauran, ada oknum anggota TNI mengejar teman-teman termasuk anak saya (korban), oknum TNI mengejar anak saya dan teman-temannya yang kabur menggunakan sepeda motor tumpuk 3, lalu sepeda motor yang dinaiki anak saya bersama temannya ditabrak dari belakang hingga mereka terjatuh.

Ditabrak dan ditendang oleh oknum anggota TNI tersebut. Kemudian anak saya dikejar oleh oknum anggota TNI tersebut, ditendang hingga tercebur dan terjatuh ke sungai di Gunung Sahari (Pintu Air Gunung Sahari).

Disitulah oknum anggota TNI tersebut menceburkan diri mengejar anak saya, dan saat anak saya ditangkap di dalam sungai oleh oknum anggota TNI tersebut, tangan anak saya diborgol lalu diangkat dari sungai, anak saya tiba diatas pinggir sungai pintu air Gunung Sahari, anak saya dipukul oleh oknum anggota TNI dan beberapa warga serta ojek ojol yang ikut mukul dengan benda tumpul /balok beberapa kali dan diteriaki curanmor, padahal kenyataannya anak saya bukan pencuri /maling).

Sedih dan tidak terbayangkan anak saya dipukuli dan dihakimi sampai tidak sadarkan diri!!! sampai anak saya Michael Andersen MENINGGAL DUNIA!!!.

Yang lebih mengiris dan menyat hati saya sebagai ibu yang melahirkannya beredarnya berita disalah satu media televisi yang dimana dalam pemberitaannya anak saya selaku curanmor, jelas dan saya pastikan bahwa dalam pemberitaan itu tidak benar ataupun hoax, tegas TAN.

Besar harapan saya untuk adanya keadilan terhadap kematian anak saya,dan saya sudah membuat laporan kepada pihak kepolisian Sektor Sawah Besar dan sudah menerima SP2HP-nya.

Saya mengharapkan hukum yang seadil-adilnya, anak yang seharusnya bersama dua saudaranya sekarang terpisah akibat ulah orang-orang yang sudah menghakiminya secara membabi buta.

Saya bisa membuktikan atas saksi-saksi dan teman-temannya bahwa anak saya tidak melakukan tindak kejahatan curanmor/maling/kriminal dan saya memiliki bukti kepemilikan kendaraan tersebut yang dipergunakan anak saya dan temannya sebagai saksi hidup, pungkasnya.

 

 

Tim

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *