Kades Bumi Rahmat intimidasi warganya, ini ceritanya

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Maluku Utara – Sikap tidak terpuji dipertontonkan Kepala Desa Bumi Rahmat, Kecamatan Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Rabu (30/9/2020) kemarin. Sang Kepala Desa ini bukannya membantu warganya tapi malah turut mengintimidasi.

Hal itu bermula pada saat sekelompok orang yang datang mengaku sebagai mantan suami dari salah seorang warga Desa Bumi Rahmat, sebut saja Bunga.

Tujuan kedatangan sekelompok orang tersebut di Desa Bumi Rahmat untuk menyita sebuah rumah milik Bunga, dengan alasan utang piutang.

Tak hanya rumah, sekelompok orang yang mengaku sebagai keluarga mantan suami Bunga itu juga ingin merampas beberapa harta milik Bunga seperti, Kebun, Motor, Kulkas, Piring, dan semua perabotan rumah lainnya.

Padahal, rumah yang berlokasi di Desa Bumi Rahmat ini dibangun oleh Bunga bersama mantan suaminya (Almarhum) sejak pertama menikah hingga bercerai.

Mantan sepasang kekasih ini memulai hidup dari Nol dan memiliki apa yang mereka inginkan. Karena tak mendapat momongan, Bunga dan mantan suaminya memelihara dua orang anak sampai tumbuh dewasa.

Kedatangan kelompok tersebut tak membuahkan hasil, dan pada akhirnya masalah ini diadukan ke Polsek Saketa untuk di medisi.

Kedua pihak dipertemukan. Turut hadir, Kepala Desa Bumi Rahmat, Fardi Hamba dan keluarga Bunga. Tujuannya adalah mencari solusi tentang harta tersebut.

Karena tak ada hasil dari pertemuan itu, kelompok tersebut memaksakan diri untuk menyegel dan mengusir Bunga bersama kedua anaknya dari rumah tersebut.

“Kami sudah dipertemukan, tapi pihak mereka (Pria Alm-red) tidak mau harta ini dibagi. Mereka mau ambil semuanya, terus saya dan kedua akan saya dapat apa? Kalaupun utang Alm ke mereka, mana buktinya? Supaya kita jual saja harta ini untuk bayar utangnya Alm. Bukan dengan cara seperti ini,” kata Bunga mantan istri Alm.

“Yang lebih memalukan lagi, Kepala desa dan perangkatnya ikut serta menyegel dan mengusir kami dari rumah. Padahal saya berhak atas itu. Sepertinya Kades dan perangkatnya berpihak ke mereka. Harusnya tidak dengan cara seperti ini,” sambung Bunga.

Kapolsek Saketa, IPTU Mardan Abdurahman saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sudah melakukan mediasi kepada kedua belah pihak.

“Betul mereka kesini untuk di mediasi, namun keduanya sama-sama keras. Sudah berbagi macam cara saya lakukan agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi sama saja, hasilnya tetap tak ada yang mengalah,” kata Kapolsek.

Sembari mengatakan,”Katanya utang piutang, tapi harus ada bukti. Sebab itu adalah perdata”.

Sementara Kepala Desa Bumi Rahmat, Fardi Hamba mengakui bahwa harta tersebut adalah Harta Gono Gini, yang sifatnya harus dibagi rata (Adil).

“Betul adanya masalah ini dan kemarin sempat saya di panggil ke Polsek untuk mediasi mereka. Kemudian harta ini adalah warisan dari Alm. Apalagi mereka ada anak dua, meskipun anak piaraan tapi mereka masuk dalam Kartu Keluarga Bunga dan Alm,” katanya.

Fardi berjanji akan mengawal dan melindungi warganya, sebab soal utang piutang adalah perdata.

“Kalau ada utang mana buktinya. Kalau mau, warisan itu dijual saja buat bayar utang Alm,” sambungnya.

Anehnya, keesokan harinya, Kepala Desa melalui perangkatnya kembali menyegel rumah tersebut seolah berpihak kepada kelompok tersebut Alm. Langkah yang diambil oleh Kades terlihat kasar dan terkesan mempermalukan Bunga dan Keluarganya.

Tentu sebagai seorang Kepala Desa, ketika ingin mengambil satu keputusan tidak boleh sepihak. Jika ingin melakukan segel atau sita rumah, minimal harus memgantongi surat putusan dari pengadilan, sebab kasus utang piutang adalah perdata.

Saat ini bunga dan kedua anaknya mengungsi di rumah orang tuanya. Sebab rumah dan segala isinya telah di sita oleh Kades dan kelompok tersebut.

 

 

Tim

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *