Masih percayakah ini aksi perjuangan, Waspada Demo tolak Omnibus Law hanya kedok untuk hasrat berkuasa

  • Whatsapp

Oleh : Irjen. Pol. (Purn) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N

Ibu pertiwi : Sudah jatuh ditimpuk tangga ………..
Terlepas dari benar dan salah, baik dan buruk, merugikan atau tidak ? suara untuk rakyat atau bukan.

Cuma kalau kita lihat dari sisi hati nurani dan sisi logika yang sangat sederhana saja, aksi Demo menolak Omnibus law ini terkesan terlalu dibesar-besarkan, dibuat-buat dan sangat lebay.

Sebuah Undang-Undang ketika masih jadi RUU sebelum diputuskan dan diketok Palu, pasti sudah melalui proses yang sangat panjang, melalui kajian, diskusi, seminar, dan lain-lainnya.

Bahkan pasti melalui puluhan kali Sidang, mulai dari Sidang Internal, Sidang Komisi, Sidang Pleno sampai dengan Sidang Paripurna dan seterusnya, sebelum sampai pada tahap terakhir finalisasi.

Yang kami herankan, pada kemanakah mereka-mereka yang saat ini ramai-ramai Demo pada saat itu ???

Kalau mereka bilang tidak tahu, itu semua Bullshit, karena di DPR itu hadir seluruh komponen wakil rakyat se-Nusantara, baik dari kalangan Parpol, Daerah, Suku, Agama, Budaya, termasuk Ormas, comunitas, perkumpulan dan lain-lainnya, semua ikut terlibat tanpa ada satu orang anggota pun yang tidak diundang dan diberi tahu.

Kalau mereka mau kritis dan peka tinggal kasih tahu komunitasnya masing-masing saat itu juga untuk menyampaikan keberatan.

Justru kenapa baru ramai setelah diketok dan disyahkan, seolah-olah skenarionya itu dibiarkan dijebak, agar masuk Got dan Selokan dulu, baru setelah itu disalahkan ramai-ramai, kemudian ditimpuk dan digebuki dari segala arah.
Apalagi dengan agenda aksi yang berjilid-jilid makin nampak lah kelebaianya, terlebih setelah itu yang turun bukan lagi dari kalangan buruh tapi dari kalangan mahasiswa ……????

Tapi masih mending dan masih bisa difahami jika mahasiswa ikut campur sebagai bentuk kepedulian, tapi ada hal yang lebih tidak masuk akal lagi, sekarang yang aksi demo itu malah dari kalangan yang selama ini selalu membawa-bawa bendera Agama yakni dari alumnus 212, FPI, GNF plus KAMI, yang nota bene merupakan BSH (Barisan Sakit Hati) yang selama ini selalu mencari gara-gara dan bikin gaduh.

Apa pula hubugan langsung antara Buruh dan Agama ???,

Sepengetahuan saya perjuangan Agama itu semua orang tahu yang harus di maximalkan adalah syiar dan dakwahnya, bukan aksi dan demo, karena tidak ada dalam sejarah atau riwayat Baginda Rosul memperjuangan Islam dan kebenaran melaui cara Aksi dan berdemo..? apalagi tuntutan aksinya sekarang ini bukan Omnibuslaw lagi tapi “TURUNKAN JOKOWI”.

Perintah dan targetnya, lakukan terus aksi demo sampai Jokowi turun !!! Di Negara kita ini kadang aneh bin ajaib juga yaaa, DPR yang berbuat, DPR yang ketuk Palu, kok Presiden yang jadi salah……, yaaa.

Dari sini semakin jelas bahwa Ombibuslaw hanyalah sebagai Triger atau pemicu saja, sebetulnya semua itu tidak begitu penting, apakah ini Benar atau Salah, untuk kepentingan rakyat atau bukan, karena ujung-ujungnya disetiap aksipun tuntutanya tetap saja sama yaitu “Turunkan Jokowi”. Apapun makananya minumanya teh Botol.

Denga analisis yang sederhana ini, masihkah kita percaya bahwa mereka semua itu memperjuangkan Ombibus Law……… ???

Kira-kira pantaskah aksi-aksi mereka itu …….??? secara moral dan etika, disaat bangsa sedang sakit, berduka sedang prihatin, sedang konsentrasi dengan Pandemi Covid 19, sebagai seorang anak bangsa yang peduli dan bertanggung jawab bukannya ikut membantu meringankan penderitaan Masyarakat malah ujung-ujungnya teriak-teriak “TURUNKAN JOKOWI”.

Ini tidak lebih ibarat sedang jatuh ditimpuk tangga lagi, bukankah dengan adanya seruan-seruan tersebut, bukan hanya secara moral dan etika sangat tidak pantas, tapi secara hukumpun mungkin sudah bisa dikategorikan kedalam Ranah Percobaan Makar ???

Selamat yaaa ……. kepada para pejuang yang senantiasa mengatas namakan Agama dan Demokrasi.

Dimana sekarang semua orang tahu siapa sesungguhnya anda-anda semua ini, tidak lain dan tidak bukan hanyalah sekumpulan mahluk yang senantiasa memelihara, memupuk dan mengembangkan terus syahwat keinginanmu dan keegoanmu untuk berkuasa …………..

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *