Pemuda Berani Bersatu, Bersatu Kita Maju

  • Whatsapp

Catatan singkat dalam rangka HSP ke-91 Tahun 2019.
Oleh :  Marusaha Lbn Toruas ST.

MITRAPOL.com, Humbasan Sumut – Hand phone saya telah menunjukkan Pukul 21,05 Wib, baru saja kami membubarkan diri bersama-sama dengan Pemuda lainnya, yang sudah diskusi sejak Pukul 15.00 Wib, pertemuan pemuda atas undangan DPD KNPI Kabupaten Humbang Hasundutan terpilih, bertepatan dengan Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 91 Tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa KNPI Humbang Hasundutan masih mempunyai semangat yang kuat untuk mempersatukan Pemuda Humbang Hasundutan, sebagaimana semangat para pemuda yang berkongres pada 28 Oktober 1928,

Semangat sumpah pemuda inilah yang menggerakkan para pemuda dari lintas Organisasi Kepemudaan (OKP) untuk menghadiri pertemuan yang membahas keberadaan dan eksistensi kepemudaan di Humbang Hasundutan empat tahun belakangan ini.

Topik utama yang dibahas dalam Diskusi yang bertepatan di momen sumpah pemuda ini adalah, tentang pelantikan KNPI Periode 2019-2022 yang diketua Dina Situmeang, SH, MH, srikandi pertama yang memimpin KNPI Humbang Hasundutan, selain topik tersebut juga dibahas Pengarustamaan Kebijakan Kepemudaan, dalam diskusi tersebut menyadari bahwa Pembangunan kepemudaan itu tidak hanya dilaksanakan melalui pendekatan organisasi, tetapi dipandang dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka.

Selain itu pembangunan kepemudaan harus dikoordinir dengan baik. Dengan jumlah komponen pemuda yang besar ini, sejatinya eksistensi pemuda dalam kehidupan berdaerah sangat signifikan, mereka nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa disemua sektor kehidupan.

Pada saat bersamaan timbul keprihatinan melihat beberapa pemuda dan Pimpinan OKP, banyak pemuda dan beberapa Pemimpin OKP yang hanya memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan melupakan kepentingan Pemuda secara umum sebagai bagian dari rakyat Humbang Hasundutan.

Diskusi tersebut memunculkan ketidak berpihakan penguasa daerah. Pembangunan kepemudaan, tidak hanya dari segi anggaran tetapi juga terhadap Persatuan dan kesatuan pemuda, tata kelola kepemudaan, dan juga manajemen konflik yang secara sengaja dipelihara penguasa, entah untuk apa dan kepentingan siapa, mereka sengaja memelihara konflik, sebagaimana penjajah yang memecah belah pemuda, melalui Devide Et Impera, sehingga negara kita terjajah sebegitu lama. Banyak keputusan penguasa diambil bukan atas dasar pemikiran logis dan rasional.

Pertimbangan pemerintah lebih banyak didasarkan atas emosi dan kepentingan sendiri, Penguasa sengaja merepotkan dirinya mengantar undangan ke OKP tertentu sesuai seleranya, padahal kalau mereka berpikir logis dan rasional cukup undangannya di sampaikan ke Induk OKP yaitu KNPI. KNPI akan menyebarkan ke OKP-OKP yang ada. Mereka tidak sadar dengan bertindak seperti itu sama saja merepotkan dirinya sekaligus mengkerdilkan dirinya sendiri.

Banyak peserta yang mempertanyakan sikap pemerintah daerah yang memilah milah OKP, Saya berusaha menghibur dan memberi pemahaman kepada saudara-saudara saya OKP, bahwa memaknai sumpah pemuda bukan hanya berbaris di lapangan merdeka, tapi kita berdikusi dan bercerita, bertukar pikiran tentang persatuan dan Kesatuan serta Pembangunan kepemudaan, juga dimaknai sebagai satu semangat dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda.

Kita harus membiasakan dan menciptakan agar organisasi Kepemudaan menyediakan, memelihara, dan menumbuhkan dikalangan generasi muda, tradisi berpikir, bersikap kritis dan menggalang solidiaritas diantara generasi muda itu. Tradisi berpikir kritis dikalangan pemuda harus ditanamkan sebagaimana tradisi berpikir para peserta Kongres Pemuda ke II, 28 oktober 1928.

Sebagai ketua KNPI periode 2016-2019 yang baru saja selesai, sangat prihatin melihat pemuda Humbang Hasundutan, penyebabnya adalah lemahnya konsistensi sikap pemuda saat ini. Mereka lebih suka memilih jalan pragmatis dan segera meninggalkan idealisme ketika mendapat kesempatan untuk diri sendiri dan akan bersungut-sungut dan balik menyerang penguasa yang disanjungnya, ketika kesempatan yang diharapkan tidak dapat diraih.

Pragmatisme dan oportunisme sikap kaum muda dapat dilihat secara nyata saat ini, banyak kawan-kawan pemuda yang dulunya menanjung-nanjung penguasa, sekarang menyerang karena mereka tidak mendapatkan kesempatan apa-apa. Perilaku seperti inilah yang sering dipertontonkan pimpinan OKP yang akan menular kepada anggotanya.

Banyak Pemuda saat ini dengan bangganya hanya bermodalkan cari muka (Carmuk) kepada Penguasa, mereka hanya mengikuti keinginan penguasa. Cari muka dikalangan pemuda menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia itu memiliki sifat ingin dipuji, ingin memperoleh perhatian. Melalui pujian dan sejenisnya itu membuat dirinya memiliki eksitensi dan sekaligus kepuasaan.

Cari muka berlawanan dengan prinsip-prinsip profesionalisme yang mengedepankan fungsi produktivitas. Disi lain cari muka merupakan sebuah instrument yang secara sosiologis menimbulkan dominasi suatu kelompok dan memarginalisasi pada kelompok lain, terjadi transformasi sosial yang tidak kondusif.

Cara tersebut dibuat untuk menguasai dan mendominasi menimbulkan dampak yang destruktif. Subjektif dalam pengambilan keputusan dan sebaliknya menggusur ukuran-ukuran objektif dari satu standar nilai. Dengan kata lain Ilmu pengetahuan, maupun moral tak berarti apa-apa menghapi orang yang cari muka. Carmuk harus dihilangkan dan dibasmi, karena penyakit tersebut bisa menular kepada generasi muda berikutnya.

Kami tidak akan Carmuk,”Karena kami sudah punya muka” kami tetap tegar, mengikuti seperti air mengalir-tanpa harus hiporkrit. Bukankah se ekor Ikan bisa tetap tawar meskipun berada di air laut yang mengandung garam. Kami telah menunjukkan kami mampu eksis di dikala sebahagian besar oknum pemuda memilih pragmatisme dan oportunisme dan selalu Cari Muka dengan Penguasa. Bagi kami yang paling penting kami tidak sendiri.

Bahwa kami adalah kumpulan individu yang idealis juga bisa berprestasi, mempunyai output yang bermanfaat, dan jelas kontribusinya bagi organisasi dan masyarakat. Lihatlah bahwa kami adalah SDM yang tidak hanya bekerja untuk mencari sesuap nasi, tetapi juga bekerja dalam rangka ekspresi idealisme. Se idealis cita-cita pemuda yang telah berani bersumpah, sebagaimana sumpah kami pada hari ini bertanah air satu, tanah air tampa diskriminasi, berbangsa satu, bangsa tanpa kemunafikan dan berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.

Itulah yang kan kami gelorakan dan tularkan ke generasi kami berikutnya. Selamat hari Sumpah Pemuda ke 91 Tahun. Hiduplah Konsisten sekonsisten para Pemuda 1928 yang mampu mempersatukan Indonesia, untuk kemerdekaan. PEMUDA BERANI BERSATU.

 

 

Pewarta : FP

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *