Perkara dugaan pemalsuan akte Hotel Griya, saksi ngaku beli saham dari Robert Hutahean

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan Sumut – Sidang lanjutan perkara dugaan pemalsuan akte notaris terkait saham hotel Griya Medan, atas nama  terdakwa Robert Hutahean (54), kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

Persidangan ini berbeda dengan sidang sebelumnya yang digelar secara virtual (online). Pada sidang yang digelar di ruang Cakra-9, Selasa (27/10/2020) ini, terdakwa terlihat hadir di kursi pesakitan.

Dua saksi yang didengar keterangnya antara lain, Irfandi, salah seorang pemegang saham hotel griya, dan  Gordon Eliwon Harianja, notaris yang menerbitkan Akte No 16.

Saksi Irfandi mengakui jika semula merupakan karyawan PT. Berlian Sarana Wisata (BSW)  yang mengelola Hotel Griya, dengan jabatan Humas dan Personalia. Belakangan saksi membeli saham PT ( BSW) dari terdakwa sebanyak 70 lembar.

Mendengar pernyataan itu, JPU Sani Sianturi langsung mengajukan pertanyaan, “Apakah karyawan boleh membeli saham PT BSW ?”

Irfandi menjawab ” Boleh, sesuai undang-undang perseroan terbatas, ”

Jawaban itu langsung ditangkis JPU dengan mengatakan, karyawan boleh memiliki saham, apabila disetujui oleh dua komisaris PT BSW, sesuai dengan undang-undang perseroan terbatas.

Perusahaan PT BSW, papar JPU, memiliki dua komisaris, yakni terdakwa Robert Hutahean dan saksi korban Aini Sugoto.

Saksi Irfandi juga ditanya soal Akte No 14  tanggal 16 Agustus 2018, yang memiliki dua versi.  Pertama, versi yang dipegang Aini Sugoto yang menyatakan PT BSW hanya memiliki dua konusaris (pemilik saham) yakni Aini Sugoto dan terdakwa.

Sedang versi kedua yang dipegang terdakwa, yang menyatakan pemegang saham ada beberapa orang, yakni terdakwa Robert Hutahean, Aini Sugoto juga Irfandi 70  lembar,  Darsono  Sormin 20 lembar, dan  Syahrial 10  lembar saham.

Saksi Irfandi mengakui hanya mengetahui Akte No 14 yang dipegang terdakwa Rober Hutahean. Sedangkan Akte No 14 yang dipegang Aini Sugoto,
saksi mengaku tidak mengetahuinya.

Giliran saksi Gordon Eliwon Harianja, notaris yang diminta oleh terdakwa untuk menerbitkan Akte No16 tanggal 13 Juni 2019.

Minyinggung tentang Akte No 14 yang memiliki 2 versi, Gordon mengaku tidak mengetahuinya. Dan mengetahuinya setelah diperlihatkan penyidik kepolisian.

Usai pemeriksaan kedua saksi, ketua majelis hakim Deson Togatorop menunda sidang hingga Selasa pekan depan.

Sesuai dakwaan, semula, Aini  Sugoto (saksi korban) membeli  tanah  di Jl.Tengku Amir Hamzah  Blok A Nomor 38,40,42,44 – 48 Kec. Medan Helvetia, Medan yang diatasnya terdapat  4 ruko, yang dirubah menjadi  Griya  Hotel Medan  yang memiliki 36 kamar.

Tahun 2008, Aini  Sugoto sepakat dengan terdakwa membuat Akta CV Berlian Sarana Wisata (BSW). Kemudian ditingkatkan menjadi PT Berlian Sarana Wisata (BSW).

Akta Pendirian, melalui Notaris Ratna Dewi, lalu  terbitlah Akte No.10 Tanggal. 16  September 2011 tentang pendirian PT BSW. Modal dasar 100  lembar saham dengan nilai perlembar Rp.1.000.000,- sehingga  seluruhnya berjumlah Rp. 100 juta.

Modal disetor 25 persen  dari 100 lembar  saham. Terdakwa memiliki saham 12  lembar Rp.12juta , sedangkan Aini  Sugoto  memiliki sahan 13  lembar Rp.13 juta.Jabatan  terdakwa di  PT BSW  sebagai  Direktur, dan Aini  Sugoto
sebagai  Komisaris.

Kemudian  disepakati  pula perubahan jumlah  saham, sesuai Akte No 14 yang diterbitkan notaris Ratna Dewi tanggal 16 Agustus 2918, modal perseroan menjadi 300 lembar  saham  dengan nilai perlembarnya Rp.1.000.000,- sehingga seluruhnya  sebesar  Rp.300 juta. Lalu disetor  sejumlah  80 lembar saham  dengan   nominal seluruhnya Rp.80 juta

Saham yang masih dalam simpanan sejumlah 220 lembar dan akan dikeluarkan oleh perseroan bila diperlukan tambahan modal atas persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sejak berdiri tahun 2011 sampai 2019, terdakwa tidak pernah membuat laporan keuangan. Maka tanggak 10 Juni 2019, diadakan RUPS Luar Biasa.

Hebohnya, RUPS Luar Biasa itu bubar sebelum waktunya, Aini Sigoto tidak berkenan melanjutkan rapat, sebab terdakwa menghadirkan beberapa orang pemegang saham yang tidak dikenal oleh Aini Sugoto.

Rupanya,  saham  PT. BSW yang disimpan berjumlah  220 lembar tersebut telah dijual terdakwa  kepada  Irfandi  sebanyak 70  lembar,  Darsono  Sormin  sebanyak 20 lembar, dan  kepada  Syahrial  sebanyak  10  lembar.

Dalam RUPS Luar Biasa yang tidak dihadiri Aini Sugoto, terdakwa diangkat sebagai  Direktur, saksi Irfandi  selaku Wakil Direktur, serta  saksi Darsono  Sormin  selaku Komisaris dan Syahrizal  serta  Aini  Sugoto sebagai anggota komisaris.

Kemudian terdakwa meminta  Notaris  Gordon Eliwon Harianja untuk membuat  Akta Penegasan  RUPS Luar Biasa PT. BSW, sesuai dengan hasil rapat 10 Juni  2019.

Akibat perbuatan terdakwa, Aini  Sugoto mengalami kerugian Rp 10 miliar . Perbuatan terdakwa diancam dalam pasal 266 ayat (2)  KUHPidana.

 

 

Pewarta : ZH

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *