Laut Matras bakal digarap Tambang KIP, Wakil Ketua LIN Babel : PT. Timah harus gunakan Hati

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Bangka – Sebagai sebuah lembaga kontrol sosial, Lembaga Investigasi Negara (LIN) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) sampai saat ini terus menjalankan tugas dan fungsinya.

Bahkan terkait persoalan rencana kegiatan penambangan biji atau pasir timah di perairan Matras, Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka kini menuai menuai keluhan sekaligus protes dari sejumlah masyarakat nelayan Sungailiat, Bangka menyita perhatian pihak LIN Babel.

Oleh karenanya, Jumat (30/10/2020) siang tim khusus (timsus) LIN Provinsi Babel didampingi LSM Peduli Masyarakat Pesisir (PMP) Sungailiat dan LSM Komando Pejuang Merah Putih (KPMP) Bangka turun meninjau lokasi Pantai Matras, Sungailiat.

Tak sekedar menyaksikan kondisi perairan Pantai Matras, rombongan timsus LIN Provinsi Babel pun saat itu menyempatkan diri pula melakukan dialog dengan para perwakilan nelayan setempat yang kebetulan sedang berada di kamp nelayan Pantai Matras, Sungailiat.

Wakil ketua LIN Provinsi Babel, Nurul Hidayah yang memimpin rombongan saat itu berusaha mendengar keluh kesah perwakilan nelayan setempat hingga hal itu pun sempat mengundang rasa iba timsus LIN dan rombongan.

Seorang nelayan Sungailiat, Zainudin (62) mengaku jika dirinya saat ini tetap tak setuju alias menolak jika kapal isap produksi (KIP) melakukan giat penambangan pasir timah di perairan Pantai Matras dan sekitarnya.

Alasannya, jika dilakukan giat penambangan maka akan berdampak kerugian yang timbul terhadap masyarakat nelayan setempat.

“Jelas kami nelayan akan merasa kesulitan mencari ikan. Saat ini juga nelayan banyak kekurangan penghasilan. Biasanya kalau kapal isap masuk sudah pasti TI apung pun pasti ikut-ikutan masuk dan nambang nanti malah makin parah. Jadi yang jelas kami nelayan tidak setuju dengan adanya giat penambangan di laut Matras ini,” ungkap nelayan di hadapan wakil ketua LIN Provinsi Babel dan rombongan siang itu ditemui di kamp nelayan Pantai Matras.

 

Hal senada diungkapkan pula oleh nelayan lainnya asal lingkungan Kelurahan Sinar Jaya – Jelutung, Sungailiat, Sukardi (46) kepada timsus LIN Provinsi Babel. Bahkan nelayan ini pun mengaku sejak tahun 2015 lalu masyarakat nelayan Sungailiat pun sempat menolak KIP yang hendak beroperasi di perairan Matras Sungailiat

“Sampai saat ini pun nelayan tetap menolak jika perairan Matras ada kegiatan penambangan termasuk KIP,” kata Sukardi ditemui di kediaman mantan Kaling Sinar Jaya – Jelutung, Sungailiat, Jumat (30/10/2020) sore.

Tak cuma mendengar aspirasi masyarakat nelayan Sungailiat, timsus LIN Provinsi Babel pun siang itu sempat pula berdialog dengan masyarakat khususnya para pengunjung pantai Matras, Sungailiat.

“Kalau perairan Pantai Matras ini ada penambangan jelas nanti air laut tidak biru lagi. Malah nantinya jadi kurang indah pemandangan pantainya,” kata salah seorang pengunjung saat ditemui timsus LIN Provinsi Babel dan rombongannya siang itu di Pantai Matras, Sungailiat.

Di sela-sela kunjungan ke Pantai Matras siang itu, wakil ketua LIN Provinsi Babel, Nurul Hidayah menerangkan sesungguhnya masyarakat nelayan setempat tak terima jika perairan Matras dan sekitarnya terdapat aktifitas segala bentuk aktifitas penambangan.

“Nah dari kunjungan kami kawasan Pantai Matras hari ini sekaligus berdialog langsung dengan masyarakat nelayan maupun para pengunjung objek wisata alam pantai ini jelas artinya nelayan maupun masyarakat pecinta wisata menolak adanya aktifitas penambangan, di laut Matras,” kata Nurul kepada awak media, Jumat (30/10/2020) sore.

Oleh karenanya Nurul mendesak agar PT Timah Tbk selaku pemegang Ijin Usaha Penambangan (IUP) di perairan Matras dan sekitarnya untuk dapat mempertimbangkan secara matang dan menggunakan hati nurani dalam pemberian ijin tersebut kepada perusahaan mitra PT Timah Tbk.

“Kita fahami itu jika memang kegiatan penambangan timah tersebut untuk kepentingan negara melalui perusahaan BUMN itu (PT Timah Tbk — red) tapi setidaknya gunakan hati nurani terlebih dahulu sebelum menjalankan program kerjanya tersebut. Kasihan nasib nelayan,” kata Nurul.

Tak cuma itu, bahkan Nurul pun sangat menyayangkan jika rencana kegiatan penambangan 10 unit KIP dikabarkan bakal ‘mengobok-obok’ laut Matras, Sungailiat justru hal itu tak menutup kemungkinan bakal menimbulkan polemik di kalangan masyarakat.

“Ada baiknya lakukan sosialisasi terlebih dahulu secara intensif dan libatkankan masyarakat nelayan. Bukan sebaliknya saat sosialisasi hanya mengundang segelintir kelompok tertentu yang nota benenya sama sekali motifnya hanya untuk kepentingan pribadi saja,” singgung Nurul.

Dalam kesempatan sama, Andri Lesmana selaku ketua LSM PMP Sungailiat pun mengungkapkan hal serupa. Bahkan ditegaskanya pihaknya saat ini merasa terpanggil terkait keluhan masyarakat nelayan Sungailiat saat ini menolak rencana sedikitnya 10 unit KIP bakal menambang di perairan Matras.

“Sebagai LSM Peduli Masyarakat Pesisir kami merasa terpanggil untuk membantu dan membela kepentingan masyarakat nelayan Sungailiat,” kata Andri ditremui di kawasan Pantai Matras siang itu.

Selain LSM PMP Sungailiat, persoalan rencana penambangan di perairan Matras yang menggunakan sarana KIP ini pun menuai sorotan pula dari ketua LSM KPMP Bangka, Suhendro.

“Kawasan Pantai Matras ini merupakan ikon wisata di Kabupaten Bangka, jadi sangat disayangkan jikalau ada kegiatan penambangan,” kata Suhendro.

Bahkan dirinya berharap timsus LIN Provinsi Babel dan LSM PMP Sungailiat termasuk LSM KPMP Bangka yang dipimpinnya saat ini dapat saling berkolaborasi dan bersinergi dalam upaya membela aspirasi masyarakat nelayan Sungailiat.

 

 

Tim

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *