Kejati Sumut dalami perkara dugaan kredit fiktif di BTN Cabang Medan

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan Sumut РKejati Sumut proses perkara  dugaan kredit fiktif Rp 39,5 miliar di Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Medan, dengan agunan 93 Surat Hak Guna Bangunan (SHGB), yang diajukan Canakya, Direktur PT. Krisna Agung Yudha Abadi (KAYA).

Selain itu, pihak pidana khusus (Pidsus) Kejati Sumut juga telah memanggil beberapa orang dari pihak PT Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Medan.

Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sumut Agus Lumban Gaol saat dikonfirmasi melalui via WhatsApp, Rabu (11/11/2020), membenarkan adanya pemanggilan terhadap beberapa orang.

Pemanggilan itu, berkaitan dengan adanya dugaan kredit fiktif sebesar Rp 39,5 miliar di BTN Cabang Medan, dengan agunan 93 lembar SHGB.

“Benar. Kita telah memanggil pihak Bank BTN. Namun, baru sedikit yang dipanggil,” jelas Agus.

Saat ditanyakan lebih lanjut, Agus meminta agar awal media konfirmasi kepada tim pidsus. “Lebih lanjut ke tim aja ya…,” katanya.

Diketahui, kasus dugaan korupsi kredit fiktif Rp 39,5 miliar ini bermula tahun 2014, Canakya, Direktur PT. 00KAYA mengajukan kredit kepada BTN Cabang Medan.

Nilai kredit sebesar Rp 39,5 miliar, dengan jaminan 93 lembar Sertifikat HGB atas nama PT. Agung Cemara Realty.

Dalam kasus ini, Mujianto memberikan kuasa kepada Canakya Suman di Kantor Notaris Elvira untuk menjual 93 SHGB.

Berdasar kuasa menjual itu, Canakya Suman malah mengajukan kredit, dan mendapat pinjaman sebesar Rp 39,5 miliar.dari BTN Cabang Medan.

Proses pengajuan kredit, dibantu oleh seseorang bernama Dayan Sutomo yang mengenalkan Canakya kepada Ferry Sonefille selaku Kepala Kantor Cabang BTN Medan, dan menjadi penghubung ke pejabat bagian kredit BTN Cabang Medan.

Hasil kerja yang dilakukan Dayan,
diduga mendapat sukses fee sebesar Rp 2 miliar, yang kemudian berbagi dengan orang dalam BTN.

Awalnya, yang diagunkan hanya 58 SHGB , dan telah dilakukan pembuatan Akta Pembebanan Hak Tanggungan (APHT). Sedangkan 35 SHGB diketahui belum dilakukan APHT.

Selanjutnya, Juni 2016 sampai Maret 2019, Canakya mengalihkan dan atau menjual ke-35 sertifikat yang. Belum APHT kepada orang lain, tanpa seizin pihak BTN Cabang Medan.

Akibatnya, BTN Cabang Medan mengalami kerugian berupa hilangnya 35 SHGB yang bernilai Rp. 14.775.000.000.

Sesudah itu, perkaranya pun bergulir di PN Medan, Canakya, Direktur PT. KAYA menjadi pesakitan, dengan dakwaan penggelapan/penipuan.

 

 

Pewarta : ZH

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *