Ilegal Mining, Ilegal Loging dan Minyak Ilegal di Aceh siapakah yang bermain…?

  • Whatsapp

Bagian Ke-2

Mitrapol.com, Provinsi Aceh – Pengerukan hasil bumi di Aceh terus berlanjut, pelaku illegal mining, illegal logging dan minyak illegal di Aceh masih sangat merajalela, pelaku-pelaku pengerusakan alam Aceh tersebut seakan-akan tidak tersentuh hukum, apalagi para “Godfather – Godfather” dan “para mafia” dibalik permainan itu, mereka selalu disebut-sebut berada dibalik semua tindakan kejahatan tersebut tetapi tidak pernah berhasil diungkap sampai beredar issue jika ada “beking dan orang kuat” dibelakang cukong dan mafia yang terus bermain dilapangan.

Para pelaku ilegal mining dan ilegal logging tanpa ampun menggerogoti Sumber Daya Alam (SDA) Aceh secara “rakus” sehingga mengakibatkan kerusakan yang cukup parah di bumi Aceh ini.

Masyarakat Aceh sudah sangat resah dan terganggu akibat kejahatan tersebut dan “momok” bencana alam selalu menghantui mereka akibat pengerusakan alam.

Bencana Alam seperti banjir dan longsor seakan menjadi “bom waktu” yang kapan saja bisa meledak jika tindakan kejahatan tersebut tidak diberantas dengan serius sampai tuntas.

Negara telah mengeluarkan regulasi yang tegas sebagai sarana untuk menjerat para penjahat-penjahat lingkungan antara lain melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara yang menegaskan setiap orang yang melakukan kegiatan penambangan tanpa memiliki izin diacam dengan pidana maksimal 10 tahun dan denda paling banyak 10 miliar rupiah. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan Dan Perusakan Hutan juga telah mengancam pelaku pembalakan liar dengan pidana 10 tahun penjara dan denda paling banyak 5 miliar. Hal ini tentu telah menunjukkan bahwa Negara sangat serius dalam menjaga kelestarian alam.

Sekarang, tanggung jawab penegakan hukum tersebut berada di pundak kepolisian yang memiliki wewenang dan kekuasaan untuk menindak para pelaku kejahatan lingkungan alam tersebut.

Penindakan yang telah dilakukan oleh pihak Kepolisian pun hari ini dipertanyakan, sanggupkah Polda Aceh memberantas pelaku pembalakan liar, penambangan liar serta permainan minyak illegal di Aceh…?

Keraguan masyarakat Aceh cukup beralasan, dikarenakan Polda Aceh terindikasi hanya memberantas para pelaku dilapangan saja, sedangkan pemodal dan para “Godfathernya” seakan-akan tidak tersentuh hukum.

Janji Kapolda Aceh Bapak Irjen Pol,Drs.Wahyu Widada M.Phil yang mengatakan segera memburu para pelaku pengerusakan alam Aceh harus segera dibuktikan, Pak Kapolda Aceh harus mengerahkan anggotanya untuk mengusut semua tindakan illegal logging, illegal mining dan minyak illegal di Aceh sampai tuntas, bukan hanya para pelaku dilapangannya saja akan tetapi juga para “boss besar” yang berada dibelakangnya termasuk para oknum yang menjadi tameng para pemain dilapangan selama ini, tentu bukanlah perkara sulit buat Kapolda Aceh Irjen Pol.Drs.Wahyu Widada,M.Phil dalam membongkar permainan para mafia dan “boss-boss besar” dibalik kejahatan tersebut, namun pertanyaannya beranikah Kapolda Aceh melakukannya…?

Kapolda Aceh seharusnya segera mengevaluasi kinerja tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) untuk menuntaskan kasus-kasus illegal logging, illegal mining dan mafia minyak illegal yang ada di bumi Aceh secara cepat dan berkelanjutan sebelum terjadi bencana alam yang dapat merenggut nyawa di bumi Aceh nantinya.

Hasil investigasi tim Mitrapol Aceh ke lapangan berhasil memetakan beberapa daerah kasus tertinggi kejahatan tersebut, seperti daerah Aceh Besar, Meulaboh, Nagan Raya dan Geumpang Pidie sehingga harapan masyarakat Aceh kepada Kapolda Aceh agar lebih fokus terhadap daerah-daerah tersebut sampai benar-benar tuntas, jangan sampai seperti selama ini terus terjadi, yaitu disaat team Polda Aceh mau turun ke lapangan para pemain sudah bersembunyi dan disaat team Polda Aceh pulang maka bermunculan lagi exavator-exavator tersebut, sehingga masyarakat menjadi tanda tanya.

Mengenai tugas fungsi Polsek dan Polres setempat terhadap hal tersebut juga menjadi tanda tanya besar di kepala masyarakat Aceh. Sikap tegas Kapolda Aceh untuk dapat membantah issue-issue liar selama ini termasuk dugaan adanya kongkalikong dengan para oknum sangatlah ditunggu oleh semua pihak.

Operasi Penindakkan yang menghabiskan uang negara sangat besar tersebut tentunya harus sebanding dengan penindakkan atau hasil tangkapan dilapangan oleh Tim dari Polda Aceh sehingga anggaran yang digunakan dapat termanfaatkan dengan baik nantinya.

Polda Aceh juga seharusnya mengekspos setiap penindakan kasus illegal logging, illegal mining dan minyak illegal tersebut secara transparan agar masyarakat Aceh dapat menilai kinerja jajarannya, berapa exavator yang bermain dan berapa yang berhasil di tangkap oleh pihak Kepolisian.

Kapolda Aceh sebagai pejabat negara harus terbuka dengan masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengetahui dan menilai kinerja Polda Aceh dalam menindak dan memberantas para mafia penghancur bumi Aceh.

Investigasi Media Mitrapol sampai berita ini diturunkan masih terus saja “mengganas” exavator-exavator di daerah Kabupaten Nagan Raya,Kabupaten Aceh Barat di sepanjang sungai tutut, Kabupaten Aceh Besar serta Kabupaten Pidie seputaran Geumpang yang mencapai ratusan exavator yang sedang “memperkosa” Ibu Pertiwi kita dan Ibu Pertiwi seakan sudah lelah berteriak memanggil bantuan kepada anak-anak bangsa ini agar dapat menyelamatkannya.

Dimanakah Kapolres dan Kapolsek Setempat…?
Dimanakah Pasukkan Team Tipidter Polda Aceh…?
Sampai kapankah Ibu Pertiwi mendapatkan bantuan pertolongan dari Anak Negeri ini…?
Ntahlah…Hanya Tuhanlah yang tau…!
B E R S A M B U N G…

 

Pewarta :  T Indra

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *