Robert Hutahean dituntut 3,5 tahun penjara, terkait dugaan pemalsuan akte Hotel Griya

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan Sumut – Robert Hutahean (54), warga Komplek Kota Baru, Titipapan Kec. Medan Marelan, Medan, dituntut 3 tahun 6 bulan penjara, karena terbukti bersalah melakukan dugaan pemalsuan terkait surat-surat Hotel Griya Medan.

Menurut JPU Sani Sianturi dalam nota tuntutan yang dibacakan dalam persidangan di ruang Cakra-9 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jumat (4/12/2020), terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 263 KUHP.

Nota tuntutan dibacakan JPU dalam persidangan dipimpin hakim ketua Deson Togatorop yang langsung dihadiri terdakwa Robert Hutahaean didampingi penasihat hukumnya.

Menurut JPU dalam dakwaan dan tuntutannya, semula Aini  Sugoto (saksi korban) membeli  tanah  di Jl.Tengku Amir Hamzah  Blok A Nomor 38,40,42,44 – 48 Kec. Medan Helvetia, Medan, yang diatasnya terdapat  4 ruko, yang dirubah menjadi  Griya Hotel, yang memiliki 36 kamar.

Tahun 2008, Aini  Sugoto sepakat dengan terdakwa Robert Hutahaean  membuat Akta CV Berlian Sarana Wisata (BSW). Kemudian ditingkatkan menjadi PT Berlian Sarana Wisata (BSW).

Akta Pendirian, melalui Notaris Ratna Dewi, lalu  terbitlah Akte No.10 Tanggal. 16  September 2011 tentang pendirian PT BSW. Modal dasar 100  lembar saham dengan nilai perlembar Rp.1.000.000,- sehingga  seluruhnya berjumlah Rp. 100 juta.

Modal disetor 25 persen  dari 100 lembar  saham. Terdakwa memiliki saham 12  lembar Rp.12juta , sedangkan Aini  Sugoto  memiliki sahan 13  lembar Rp.13 juta. Jabatan  terdakwa di  PT BSW  sebagai  Direktur, dan Aini  Sugoto sebagai  Komisaris.

Kemudian  disepakati  pula perubahan jumlah  saham, sesuai Akte No 14 yang diterbitkan notaris Ratna Dewi  tanggal 16 Agustus 2918, modal perseroan menjadi 300 lembar saham  dengan nilai perlembarnya Rp.1.000.000,- sehingga seluruhnya  sebesar  Rp.300 juta. Lalu disetor  sejumlah  80 lembar saham  dengan   nominal seluruhnya Rp.80 juta

Saham yang masih dalam simpanan sejumlah 220 lembar dan akan dikeluarkan oleh perseroan bila diperlukan tambahan modal atas persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Lebih lanjut disebutkan pula, sejak berdiri tahun 2011 sampai 2019, terdakwa tidak pernah membuat laporan keuangan, maka tanggak 10 Juni 2019, diadakan RUPS Luar Biasa.

Hebohnya, RUPS Luar Biasa itu bubar sebelum waktunya, Aini Sigoto tidak berkenan melanjutkan rapat, sebab terdakwa menghadirkan beberapa orang pemegang saham yang tidak dikenal oleh Aini Sugoto.

Rupanya,  saham  PT. BSW yang disimpan berjumlah  220 lembar tersebut telah dijual terdakwa  kepada  Irfandi  sebanyak 70  lembar,  Darsono  Sormin  sebanyak 20 lembar, dan  kepada  Syahrial  sebanyak  10  lembar.

Dalam RUPS Luar Biasa yang tidak dihadiri Aini Sugoto itu, terdakwa diangkat sebagai  Direktur, saksi Irfandi  selaku Wakil Direktur, serta  saksi Darsono  Sormin  selaku Komisaris dan Syahrizal  serta  Aini  Sugoto sebagai anggota komisaris.

Kemudian terdakwa meminta  Notaris  Gordon Eliwon Harianja untuk membuat  Akta Penegasan  RUPS Luar Biasa PT. BSW, sesuai dengan hasil rapat 10 Juni  2019.

Menurut JPU Sani Sianturi, akibat perbuatan terdakwa, Aini  Sugoto mengalami kerugian Rp10 miliar.

 

 

Pewarta : ZH

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *