Berani nyulik, Ayong cuma dituntut 9 bulan penjara

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan Sumut – Susanto Alias Ayong (40) warga Jl. Mawar 2 Kel. Bunga Tanjung, Kec. Datuk Bandar Timur, Tanjung Balai, Sumatera Utara, dituntut 9 bulan penjara, karena terbukti bersalah merampas kemerdekaan orang lain.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tiorida J. Hutagaol dan Nelson Victor  yang digantikan Robert Silalahi yang bersidang di ruang Cakra-7 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (15/12/2020), meminta kepada majelis hakim agar menghukum terdakwa 9 bulan penjara.

Dalam persidangan yang langsung dihadiri oleh terdakwa Ayong, nota tuntutan dibacakan dengan sangat ringkas, tanpa uraian peristiwa penculikan terhadap korban, Sjamsul Bahri alias Ationg.

Peristiwanya, Kamis 09 Januari 2020 sekira pukul 20.00 Wib. Awalnya, terdakwa mendapat informasi dari Edo alias Ari Sitorus tentang korban yang lagi dugem di Strum di Komplek Selecta Jalan Listrik Nomor 02 Kec. Medan Petisah, Medan .

Mendapat informasi, Ayong pun merapat ke Strum untuk menagih utang Ationg. Sampai di Selecta, Ayong bertemu dengan Edo alias Ari Sitorus, Sulaiman dan Roby  (ketiganya DPO).

Lalu, terdakwa bersama  Sulaiman, Roby dan  Edo  menunggu saksi korban Ationg. Tak lama, Ationg pun turun dari lantai-3 dengan menggunakan lift.

Sulaiman langsung menarik  Ationg ke dalam lobby sembari mengambil dompet, HP android Samsung serta HP Nokia kecil dan kunci rumah Ationg.

Kemudian terjadi perdebatan soal utang piutang, dan korban minta terdakwa untuk bersaba dan berjanji akan segera membayar utang tersebut.

Terdakwa malah makin beringas dan meminjam Kijang Innova dari Rudi als Along . Lantas, ketiga orang suruhan terdakwa memaksa Ationg untuk masuk ke mobil.

Selanjutnya mobil yang dikemudikan Sulaiman bergerak  dan mobil dipacu menuju Tanjung Balai.

Dalam perjalanan, Ationg dipaksa menjepit batu bata antara betis dan paha. Apabila batu bata jatuh, korban dipukul dan ditendang oleh orang suruhan terdakwa.

Sekira pukul 03.30 wib,  mobil innova sampai di Tanjung Balai dan  Ationg dibawa ke Polsek Tanjung Balai Selatan dan diserahkan kepada petugas.

Anehnya, waktu itu, seseorang  bernama Latif datang ke Polsek Tanjung Balai Selatan, juga menagih utang sambil memukuli korban.

Ujung peristiwa, terdakwa mengantarkan Ationg ke rumah mertuanya,  setelah korban menyerahkan nomor PIN ATM kepada terdakwa.

Bahkan sebelum pergi, terdakwa masih sempat mengubar ancaman, “Sempat nggak kau bayar uang itu, kumatikan kau, ingat itu”

Menurut JPU, perbuatan terdakwa melanggar Pasal  333 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Majelis Hakim diketuai Jarihat Simarmata menunda persidangan hingga dua pekan untuk mendengar notabelaan (pledoi) penasihat hukum terdakwa.

Usai persidangan, keluarga korban langsung meradang mendengar tuntutan 9 bulan penjara.

Istri korban, Fenny Laurus Chen mengaku sangat kecewa dengan tuntutan yang diberikan JPU terhadap terdakwa.

“Nggak manusiawi. Ancaman hukumannya 8 tahun penjara, tapi tuntutan cuma 9 bulan penjara,” ketusnya kepada sejumlah wartawan.

Fenny Laurus Chen juga menduga adanya “permainan” JPU yang menangani perkara tersebut.

 

 

Pewarta : ZH

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *