Akibat terendam Banjir selama Sepekan Petani di Pandeglang bisa Gagal panen

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pandeglang – Sekitar 300 hektar pesawahan di tiga desa di wilayah Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten, terendam air sejak tiga hari lalu seiring dengan hujan turun terus menerus. Ketiga desa yang terendam banjir itu; desa Bulagor, Idaman, Sukadame. Rabu 23/12/2020

Akibat curah hujan yang tinggi dan kurang berfungsinya drainase, juga mengakibatkan ratusan rumah warga di wilayah tersebut terendam air setinggi 30 – 50 cm. Hingga sore tadi, hujan deras masih turun.

Kabid Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Iping, yang didampingi Koordinator PPL Kecamatan Patia, Bambang Sugiharto, menjelaskan, areal sawah yang terendam banjir itu mencapai 307 hektar di 7 desa. Diantaranya desa Cimoyan 150 ha, Idaman 70 ha, Surianeun 45 ha, Babakankeusik 25 ha, Rahayu 7 ha, serta Ciawi dan Patia masing-masing 5 ha.

“Data itu kami peroleh dari hasil investigasi Muspika Patia bersama tim Tagana, KSB, perangkat desa dan PPL Pertanian,” tutur Iping, kepada awak media di kantornya,

Menurut Iping, ratusan hektar tanaman padi yang terendam banjir itu baru berusia antara 12 hingga 45 hari setelah tanam (HST). Jika tanaman padi sampai dengan Lima hari, diduga kuat tanaman tersebut akan mati atau fuso.

Para petugas dari tengah melakukan pendataan terhadap seluruh areal pesawahan yang terendam banjir tersebut dan juga pendataan rumah warga. Namun tidak ada korban manusia dalam peristiwa banjir ini.

Sementara Ketua Tagana Kabupaten Pandeglang, Ade Mulyana, menjelaskan, banjir melanda beberapa desa di wilayah Pandeglang Selatan, di Kecamatan Munjul melanda Desa Sukasaba dan di Kecamatan Patia melanda Desa Idaman, Desa Ciawi dan Desa Babakan Kesik. Sedangkan di Kecamatan Sukaresmi melanda Desa Karyasari.
Banjir tersebut selain membuat para petani merugi karena persawahanya terendam banjir juga tanaman padinya hancur, selain itu para penggembala kerbau maupun kambing harus mencari rumput ke dataran yang tinggi dan sangat jauh, demi ternaknya tetap bisa makan, itulah perjuangan yang harus di jalani masyarakat Desa Bualagor dan yang lainya yang dilanda banjir.

Menurut keterangan para petani dan pengembala kerbau warga Desa Bualagor mengatakan, selama banjir ini kami benar – benar terpukul selain kami harus kehilangan tanaman padi kami juga tiap hari harus berjuang untuk mencari rumput buat makan ternak kami, selain itu banjir sekarang beda sama jaman dahulu, karena dahulu walaupun banjir kami masih bisa kesana kemari menggunakan alat tradisional perahu, tapi sekarang boroning kesana kemari mau kepasar aja sudah tidak bisa karena tidak ada alat tranfortasi seperti perahu.

Lanjut ia, kalau banjir dulu walaupun seminggu lebih masih ada harapan bagi kami, karena padi tidak bakalan mati atau membusuk karena tidak ada hama kiong mas yang belakangan ini yang marak di sawah memangsa padi yang baru beres ditanam,” jelasnya

 

 

 

 

Pewarta : Muklis

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *