Anton Carliyan Komentari hasil temuan Komnas HAM

  • Whatsapp
foto Screenshots saat acara live kompas tv

MITRAPOL.com, JAKARTA – Komisi Perlindungan Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) kembali menyampaikan perkembangan dan temuan lapangan terkait peristiwa penembakan enam orang laksar Front Pembela Islam ( FPI) oleh aparat kepolisian di Jalan Tol Jakarta-Cikampek beberapa waktu lalu.

Hasilnya, kali ini Komnas HAM menemukan lima barang bukti yang diambil dari tempat kejadian perkara (TKP). “Melakukan investigasi atau menyusuri tempat kejadian perkara yang di sekitar Kilometer 50 tersebut, dan mendapatkan sejumlah barang-barang yang bisa dinyatakan atau bisa dilihat sebagai bukti,” kata Komisioner Komnas HAM Amiruddin dilansir dari siaran Kompas TV, Senin (28/12/2020).

Setidaknya ada lima barang bukti yang ditemukan oleh Komnas HAM di TKP. Temuan pertama adalah tujuh proyektil peluru. Namun, dari tujuh proyektil yang ditemukan, Komnas HAM hanya yakin pada enam proyektil peluru yang ditemukan. Kemudian, ditemukan juga empat selongsong peluru. “Selongsong ada empat, tiga utuh, satu kami duga bagian belakang,” ujar Komisioner

Dengan hasil temuan Komanas HAM tersebut Anton Carliyan mantan Kadiv Humas Polri ini juga menyikapi. “Polri sudah berusaha untuk transparan dan Alat-alat bukti yang baru mulai dari peluru selongsong dan CCTV karena yang kita cari adalah kebenaran yang sebenar benarnya, karena itu perlu kita uji yaitu dengan salah satunya Scientifik Investigation, karena sekarang ini tidak adalagi orang yang dapat berbohong,” ucapnya saat acara Live Kompas tv

Kebenaran itu tidak perlu memakai tipu muslihat karena sekarang ini banyak alat-alat canggih, jadi untuk itu saya pesankan juga kepada masyarakat mari kita ikuti perkembangannya, jangan banyak komentar, karena penonton itu lebih pintar dari pada pemain.

Dan disini adalah salah satu wadah yang namanya Komnas HAM tentu saja, apa yang menjadi temuan temuan Komnas HAM itupun juga apabila memang melanggar Ham ini akan menjadi dan melengkapi penyelidikan, tetapi temuan juga masih dalam proses, mangkanya dari itu mari kita ikuti proses ini dengan sebaik baiknya. Jangan berpikir subjektif karena tidak ada satu kebenaran yang mutlak. dan kebenaran yang mutlak mungkin akan ada nanti di pengadilan.” tuturnya

 

 

Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *