Diduga Lindungi Cukong PETI, Oknum APH Dapat Upeti

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Kotamobagu – Kegiatan pertambangan emas tanpa izin di Potolo Kec Lolayan Kab Bolaang Mongondow, semakin tidak terkendali, para penambang tidak lagi menggunakan cara manual dengan alat bantu berupa linggis dan betel.

Puluhan alat berat terpantau awak media ini dilokasi Potolo, praktis aktivitas alat berat (excavator, red) dengan leluasanya melakukan perambahan hutan disekitar pegunungan potolo.

Hingga saat ini persoalan PETI Potolo masih terus dipersoalkan, dan belum ada satupun cukong yang ditangkap dalam pengrusakan Hutan.

“Dari hasil pantauan kami bahwa, kegiatan pertambangan potolo itu diduga kuat mendapatkan bekingan aparat penegak hukum (APH) Sulut

 

Kepada Mitrapol, Selasa 05/02/21. Sehan Ambaru SH. dugaan kami aparat penegak hukum dalam hal ini oknum anggota Polres ikut bermain karena para cukong Potolo diantaranya OM alias Onal, JM, dan Ko Fani tidak pernah disentuh hukum walupun aktivitas di PETI Potolo jelas ada keterlibatan mereka. “Saya rasa mereka (aparat hukum Polres) ada main dengan para Cukong PETI tersebut,” ujar Ambaru.

Oknum Cukong si pemilik puluhan hektare lahan tambang ilegal di Potolo yang mempekerjakan puluhan alat berat untuk penggalian material emas rupanya memiliki trik khusus untuk melindungi usahanya.

Ia juga mengatakan karena hasil pertambangan di Potolo itu sangat besar sekali olah maka dibagi dengan Aparat sehingga ada Upeti setiap kali pengolahan hasil Emas.” Ujarnya

Ada Upeti di setiap pengolahan hasil Potolo, karena sampai saat ini masih terus dibiarkan,” banyaknya alat beroprasi di lokasi Potolo bukan tidak di ketahui oleh pihak polres.” katanya

Ia pun meminta kepada Polres Kotamobagu segera menangkap para cukong tersebut, karena sampai saat ini mereka masih bebas melakukan aktivitas pertambangan di Lokasi Potolo.

Kalau cuma Penambang Tradisional ditangkap di di penjarakan oleh Kapolres tapi para CUKONG nya Justru biarkan. Apakah memang kapolres takut pada cukong..? Atau ada apa dengan Kapolres tidak berani menindak mereka. “Kapolres harus tangkap mereka, agar apa yang menjadi Kecurigaan kami bisa terbantahkan,”Cetus Sehan.

Ketua Lembaga Penelitian Masyarakat Insan Totabuan. Sehan Ambaru SH mengingatkan tentang Inpres, terjadinya peristiwa tersebut adalah lokasi pertambangan yang berbahaya dan proses pertambangan yang tidak sesuai dengan aturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, melalui (Inpres Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2000), diinstruksikan kepada Menteri, Jaksa Agung, Kapolri, para Gubernur dan para Bupati/Walikota agar melakukan upaya penanggulangan masalah dan penertiban serta penghentian segala bentuk kegiatan pertambangan tanpa izin, secara fungsional dan menyeluruh sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

Memang hingga saat ini persoalan Potolo tidak pernah ada titik temu karena kuat dugaan Oknum petinggi Polres terlibat makanya tidak berani menyentuh ataupun menangkap para cukong tersebut.” Tutup Ketua Lembaga Penelitian Masyarakat Insan Totabuan yang di kenal cukup kritis ini.

Ketika saat diminta konfirmasi kepada para cukong tersebut mendadak tidak bisa dihubungi melalu telpon, WhatsApp.

 

 

Pewarta : Candra.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *