Kupas Hasil Temuan Komnas HAM Bersama Anton Charliyan

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM) merilis hasil penyelidikan atas tewasnya enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) yang terjadi di Tol Jakarta-Cikampek Km 50 pada 7 Desember 2020. Komnas HAM menyatakan, peristiwa tewasnya empat dari enam anggota laskar FPI merupakan pelanggaran HAM. Penyelidikan Komnas HAM dilakukan secara independen, melibatkan beberapa organisasi masyarakat sipil dan dokter forensik.

Berikut ini hasil investigasi Komnas HAM yang dirilis pada Jumat (8/1/2021). Pelanggaran HAM Komnas HAM mencatat, enam orang anggota laskar FPI itu tewas dalam dua peristiwa yang berbeda. Peristiwa pertama, dua anggota laskar FPI tewas ketika bersitegang dengan aparat kepolisian dari Jalan Internasional Karawang Barat sampai Tol Jakarta-Cikampek KM 49. Sementara peristiwa kedua, berlangsung setelah KM 50 Tol Cikampek. Saat itu, empat orang anggota laskar FPI masih hidup dan berada di bawah penguasaan resmi anggota Polda Metro Jaya

Komisioner Komnas HAM sekaligus Ketua Tim Penyelidikan Peristiwa Karawang, Choirul Anam, mengatakan empat orang tersebut kemudian tewas. “Terdapat empat orang yang masih hidup dalam penguasaan petugas resmi negara yang kemudian juga ditemukan tewas. Peristiwa tersebut merupakan bentuk dari peristiwa pelanggaran hak asasi manusia,” kata Anam. Anam mengatakan, penembakan sekaligus terhadap empat laskar FPI dalam satu waktu itu tanpa ada upaya lain untuk menghindari jatuhnya korban. “Mengindikasikan adanya unlawful killing terhadap keempat anggota laskar FPI,” ujarnya.

Mantan Kapolda Jawa barat, Anton Charliyan saat live yang di tayangkan salah satu stasiun televisi Kompas TV live, Sabtu 09/01/2021 mengatakan, Ini mengindikasikan ada situasi yang darurat, walaupun efeknya yakni kepada Komnas Ham yang sudah merekomendasikan namaun disini perlu bisa dilihat motif tindak pidana tersebut karena pihak kepolisian kita ini sedikit banyaknya belajar walaupun bukan hanya tapi juga motif dan pada tindak pidana itu sendiri,

“Makanya di dalam tindak pidana ada yang dikatakan Barang siapa dengan sengaja, Apakah petugas petugas ini dengan sengaja atau kah karena situasi darurat, karena kalau kita lihat dengan adanya tembak menembak ini situasi darurat, ini bisa masuk kepada overmah sedangkan ada satu yang bisa masuk keperkab Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 petugas boleh menggunakan senjata api ketika dalam keadaan membeladiri dan juga akan mengancam keselamatan dirinya maupun keselamatan Jiwanya,”ucap anton

Jadi disini dan oleh saya pun juga berharap agar overmah ini juga bisa di dalami karena overmah ini sendiri ada yang Absolute ada yang relatif ada juga yang situasional atau karena tidak mungkin seorang petugas ujug ujug/ tiba tiba menembak begitu saja, tapi ada sesuatu hal yang menyebabkan demikian dan juga Polri lebih mengedepankan tanya kenapa di bawa? Karena ingin diambil keterangannya agar semua masalah ini terungkap.” Cetus anton

Tetapi ternyata adanya sebuah insiden sehingga mengakibatkan meninggal dunia yang saya juga turut belasungkawa apapun juga meninggal dunia ini harus diusut sama memang menghilangkan nyawa namun sebab-sebab itu sendiri persautanitas daripada itu harus kita ungkap secara mendalam.”Kata Anton

itulah yang mungkin bisa saya Kemukakan untuk sementara ini jangan hanya sekedar tetapi juga jadi jangan hanya sekelas iumen insiden sekelas isiden jadi tanda terjadinya tindak pidana itu sendiri yang harus di dalam oleh bersama sesuai dengan pasal 48 KUHP dengan tetapan bawah Apabila terjadi suatu tindak pidana dalam keadaan terpaksa maka hukumpun juga akan mengatursesuai ketentuan yang berlaku.” Ujar Anton Carliyan

 

Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *