Geuchik jadi sasaran empuk untuk di ‘Pungli’

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Aceh Utara – Mulai awal tahun 2015, Desa mendapatkan sumber anggaran baru yakni Dana Desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Perjalan Dana Desa sendiri yang sudah berjalan 7 tahun lamanya, belum menunjukan perubahan yang signifikan ditingkat desa, tentunya hal ini disebabkan oleh berbagai faktor.

Selama pogram Dana desa di jalankan oleh pemerintah pusat, membuat sebagian oknum – oknum memandang desa sebagai lahan bisnis yang menggiurkan, bagaimana tidak hampir setiap tahunnya anggaran Dana Desa terus bertambah.

Hampir diseluruh Kecamatan khususnya di Kabupaten Aceh Utara setiap tahun adanya pogram titipan yang sengaja disodorkan oleh oknum – oknum tertentu untuk para pemangku kekuasan tingkat bawah yaitu geuchik (Kepala Desa -red). Pogram -pogram titipan itu pun sengaja disodorkan sebagai ajang bisnis.

Tidak hanya pogram titipan beberapa kecamatan di Aceh Utara juga terjadi pungutan liar (Pungli) dengan alasan sebagai uang cuma -cuma untuk oknum tertentu. Pungli tersebut dibiarkan begitu saja dan dikomandoi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Yang memaksa para geuchik harus mengeluarkan uang jutaan rupiah.

Berdasarkan hasil investigasi media ini di salah satu Kecamatan di Aceh Utara , dimana pungli di lakukan oleh Forum Geuchik. Uang hasil pungli tersebut untuk di serahkan kepada oknum di Kecamatan dan juga para oknum ditingkat Kabupaten.

Dimana para geuchik harus menyetor uang tersebut dalam beberpa tahap serta uang tersebut diluar Rencana Kerja Pemerintah Gampong (RKPG), dengan jumlah jutaan rupiah.

Tentunya ini menjadi suatu permasalahan yang besar bagi pembangunan Desa, dimana para geuchik terpaksa harus menyisihkan uang tersebut dan wajib disetorkan, dan kalau ada geuchik yang tidak melakukan penyetoran, maka akan dipersulit dan berbagai tekanan pun muncul disaat pencairan Dana Desa.

Banyak geuchik yang ada di Kecamatan Baktiya, menuturkan bahwa di Kecamatanya terjadi pungutan hingga Rp 5.500.000,00 di tahun 2020 lalu.

“Ditahun 2020 ini kami para geuchik harus menyetor uang kepada forum geuchik hingga 5.500.000, dan itu kami setor bertahap yang pasti jumlahnya harus sampai segitu,”Ucap geuchik tersebut.

Dirinya menambahkan bahwa uang tersebut akan dikasih kepada pihak muspika dan juga iuran wajib forum sebesar 600.000 per tahun dan 500.000 untuk uang pembangunan sekolah swasta di Kecamatan, sedangkan lebihnya dikatakan untuk muspika, jadi kami tidak pun menanyakan apakah uang tersebut sampai ke pihak muspika atau tidak, jadi kami tidak tau pastinya dibawa kemana.

“Disaat kami serahkan uang tersebut kami tidak memiliki pegangan apapun, dimana tidak ada bukti penyetoran, mungkin ini sengaja dilakukan. Dan apabila uang ini tidak kami setor maka kami akan dipersulit saat pencairan Dana Desa serta pada Laporan Pertanggung jawaban Akhir,”Jelas Geuchik

Disaat media menanyakan dari mana para geuchik mendapatkan uang tersebut dengan kisaran yang besar.??

Dengan nada polos dan geram geuchik tersebut menjawab, ya pandai pandai kita dilapangan tentunya kita sisihkan dari apa yang kita ajukan dalam RKPG, “ya carong -carong tanyoe seumeunget lah dalam laporan akhir. Uroe nyoe Pancuri Ka awaknya tapi uram pancuri bak kamoe geuchik , pakoen meunan tapeugah, karena kamoe ceumeucue uroe nyoe keu awaknyan tapi tanggoeng jaweb jih ateuh kamoe,” Ucap geuchik dalam bahasa Aceh.

Dirinya juga mengatakan bahwa munculnya forum geuchik bukanlah untuk membela hak – hak geuchik dimana kita lihat apa yang terjadi saat ini, Forum geuchik hanya menjadi perpanjangan tangan oknum – oknum yang menganggap desa hari ini sebagai anak gadis yang masih polos.

“Hari ini kami ditekan melalui forum, kami harus ikut pogram titipan, uang iuran atau apalah namanya semua nya dilakukan melalui perpanjangan forum, dan forum geuchiklah yang menyampaikan semuanya kepada kami. Dan kami terpaksa mengikuti karena ada tekanan-tekanan,” sebut Geuchik

Kami geuchik hari ini ditekan dari berbagai arah, kami sudah tercekik tapi tidak bisa memberontak dan melawan, karena semua dilakukan di bawah tangan. Kalau kami bicara dan memberontak ya kami akan jadi korban.

Sementara itu pengakuan lain dari pada geuchik bahwa selama ini mereka merasa keberatan dengan apa yang terjadi dimana dilakukan pungutan seperti ini, tapi kami tidak tau harus melapor kemana. Dan kami tau hari ini kami telah membodohi diri kami sendiri tapi tidak bisa berbuat apa – apa dan ini sudah dilakukan secara sitematis.

Namun, disela waktu lain kami dari media sudah mencoba untuk untuk melakukan konfirmasi dengan Ketua Forum Geuchik Baktiya melalui Telphon seluler, akan tetapi setelah di hubungi berkali – kali Ketua Forum Itu tidak mengangkat telphon nya.

 

Pewarta : (Malik/Tim).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *