LP2KP Derek Ismail, Mendesak Polres Kota, Kotamobagu Turun dan Tangkap Pelaku PETI yang menggunakan B3

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, BOLMONG – Penambang emas tanpa izin (PETI) di Kawasan Bolaang Mangondow (Bolmong) menggunakan bahan zat kimia merkuri dan sianida yang berbahaya, untuk proses mengolah memurnikan emas. Dalam jumlah tertentu, kedua senyawa itu bisa menyebabkan kematian pada manusia.

Guna menghindari Razia para petugas mereka para oknum bos penambang emas melakukan kegiatannya di tempat tertentu.

“Salah satunya yaitu melakukan perendaman dengan bahan kimia, material yang mengadung logam mulia emas itu di rumah para pelaku.

Menurut wakil ketua Divisi Intelejen Investigasi Lembaga Pemantau Pembangunan dan Kinerja Pemerintah (LP2KP) Ahmad Derek Ismail, hasil investigasi pihaknya, pengolahan material itu salah satunya dilakukan oleh pelaku PETI, RL di rumahnya di Kecamatan Lolayan, meski dalam pengolahan itu menggunakan Bahan Beracun Berbahaya (B3)

“Jadi, RL ini mempekerjakan warga sekitar mengambil material yang mengandung emas dari Lokasi Potolo dan mengangkutnya ke rumah. Setelah sesampainya di rumah dilakukan proses perendaman yang menggunakan bak khusus, Ini untuk menghindari operasi dari petugas berwenang,” katanya.

Derek Ismail meminta, Pihaknya mendesak Polres Kota Kotamobagu untuk turun dan memanggil RL. Jika terbukti, melanggar Undang-Undang nomor 4 tahun 2009 tetang pertambangan mineral dan batubara serta Undang- Undang nomor 32 tahun 2009 tetang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Untuk sementara RL ini bisa di jerat dengan Pasa 161 Undang- Undang Nomor 4 tahun 2009 dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 10 miliar, junto Pasal 103 Undang-Undang nomor 32 tahun 2009. Dengan ancaman minimal 1 tahun penjara dan maksimal 3 tahun penjara serta dendan paling sedikit Rp 1 miliar dan paling banyak Rp 3 miliar,” ujar Derek

“Sebab yang bersangkutan dengan sengaja memerintahkan kepada masyarakat untuk mengambil material dengan pembagian untuk RL, 7 karung dan untuk pekerja 3 karung,” ujarnya.

Penertiban harus dilakukan katanya mengingat bahan kimia yang digunakan sangat berbahaya bagi masyarakat sekitar.

Merkuri atau air raksa (hydrargyrum/Hg) merupakan logam berat yang umumnya digunakan pada termometer non digital. Merkuri dilarang digunakan untuk menjadi bahan pengolahan emas karena berbahaya bagi kesehatan manusia. Salah satu dampak yang ditimbulkan ketika terpapar merkuri adalah munculnya kanker

“Merkuri dapat menyebabkan toksisitas, antara lain gangguan fungsi hati dan ginjal, gangguan syaraf hingga memicu kanker,” cetus Derek

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bolmong Abdul Latif mengatakan pihaknya akan menelusuri informasi tersebut. “Kami akan turun dan menindak para pelaku dalam waktu dekat ini,” katanya.

 

 

Pewarta : (Chandra)

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *