FORMAT Kecewa Dengan PT. MIFA BERSAUDARA yang tidak “Bersaudara” Dengan Masyarakat Meulaboh

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Aceh – Bedasarkan surat permohonan masyarakat peunaga cut ujong kepada Forum Masyarakat Aceh Barat (FORMAT) pada tanggal 13 Juli 2020, terkait perihal penyelesaian ganti rugi rumah dan lahan masyarakat peunaga cut ujong dengan PT.MIFA BERSAUDARA yang berada dalam Gampong Peunga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat.

Menindak Lanjuti Laporan Masyarakat Peunaga Cut Ujong, Rasyidin. Hr (Ketua FORMAT) dengan Pengurusnya lansung turun ke Gampong Peunaga Cut Ujong dan meninjau kelapangan guna memastikan laporan masyarakat, setelah kami turun melihat dengan seksama bahwa benar laporan masyarakat tersebut dengan fakta yang kami lihat sendiri ucapnya.

Rasyidin mengatakan setelah kami melihat langsung bagaimana menderitanya masyarakat Peunaga Cut Ujong yang setiap hari menghirup debu batubara, jangankan untuk manusia bahkan tanaman warga juga ikut mati karena debu batu bara yang bagitu banyak setiap harinya, baik melalui yang di bawa oleh angin laut maupun akibat turning (tempat tranfer batu bara dari dumtruck ke conveyor), tidak cuma hal debu, bahkan pada waktu musim hujan warga Gampong Peunaga Cut Ujong juga mendapatkan kiriman air yang berwarna hitam pekat di duga akibat dari debu batubara yang berasal dari pada turning ungkap Ketua FORMAT.

Foto: Rasyidin,Hr – Ketua FORMAT

Rasyidin dan pengurusnya juga sudah menjumpai pihak Perangkat Gampong Peunaga Cut Ujong, dalam hal ini kami berjumpa dengan Agustiar selaku Keuchik Gampong Peunaga Cut Ujong, bahwa keuchik menjelaskan beberapa hal, yang pertama, membuat kami bingung kenapa ada perbedaan dalam pembayaran rumah dan tanah masyarakat kami..? yang kedua, kami selaku keuchik menilai bahwa siapa yang “bertaring” di gampong ini maka hanya tanah dan rumah dia yang di bayar, ada apa ini…?

Masih ucap Agustiar jika rumah dan tanah yang sudah di bayar oleh Pihak PT. Mifa Bersaudara hanya berjumlah sebanyak 12 rumah dan tanah, sedangkan yang belum di bayar berjumlah lebih kurang 50 rumah dan tanah, kenapa kami ini di beda-bedakan, tanya Agustiar.
Ketua FORMAT beserta pengurusnya berinisiatif untuk berjumpa langsung dengan pihak-pihak Perusahaan, yang pada saat itu hadir Kuasa Hukum PT.MIFA BESAUDARA yang bernama Yasir dan ada beberapa kawan-kawan lainnya, pada pertemuan itu belum ada jawaban yang pasti, yakni belum bisa ditentukan kapan waktu yang pasti soal pembayaran ganti rugi lahan dan rumah masyarakat tersebut dengan alasan corona/covid 19,

“kemudian masyarakat yang didampingi pengurus LSM FORMAT mendatangi Pimpinan DPRK Kabupaten Aceh Barat yaitu Bapak H.KAMARUDIN (wakil ketua DPRK Aceh Barat) untuk menyampaikan perihal tentang derita yang dirasakan oleh Masyarakat Gampong peunaga Cut Ujong, namun sampai saat ini belum ada tindak lanjut terkait persoalan tersebut oleh pihak DPRK.

Rasyidin mengatakan kami FORMAT lahir dari masyarakat akan tetap berkomitmen penuh dan selalu menyampaikan permasalahan yang dialami oleh masyarakat kepada pihak-pihak terkait, namun jika penyampaian kami ini tidak di respon secara serius, maka kami menilai bahwa publik secara luas perlu mengetahui masalah ini ucapnya.

Rasyidin mengibaratkan dalam bahasa Aceh, “Kulat pak di meulaboh, kulat goh di tripa, yang toe han meutume pajoh, yang jioh meutume rasa” artinya (yang dekat tidak merasakan manfaat yang jauh mendapatkan manfaat)

Dalam kesempatan ini T. Ediman Saptra, S.H. (Humas Format) melakukan koordinasi dengan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum-Advokasi dan Keadilan Aceh (YLBH-AKA) untuk melakukan advoksi masalah yang dialami oleh masyarakat Peunaga Cut Ujong.

Hamdani Mustika (Ketua YLBH-AKA) mengatakan permasalahan Perusahaan yang ada di seluruh Aceh harusnya menjadi manfaat bagi warga sekitar Perusahaan tersebut, bukan menjadi sebuah kemudaratan yang diberikan oleh mereka (pihak Perusahaan), dalam hal ini Hamdani Mustika menilai bahwa PT. Mifa Bersaudara adalah salah satu Perusahaan “raksasa” yang berada di pantai barat selatan, tentu permasalahan untuk membebaskan lahan masyarakat yang ada di sekitar Perusahaan bukan permasalahan yang begitu berat bagi perusahaan tersebut, namun kejadian hari ini malah berbanding terbalik apa yang masyarakat sekitar “perusahaan raksasa” tersebut rasakan, kehadiran perusahaan yang di agung-agungkan oleh Pemkab Meulaboh dan beberapa Tokoh Politik Aceh telah membuat kemudaratan untuk warga disekitar perusahaan tersebut ujarnya.

Hamdani Mustika mengatakan bahwa PT. Mifa Bersaudara telah melanggar Undang-Undang Nomor 5 tahun 1984 tentang Perindustrian, jika ini di biarkan saja tentu akan menjadi dampak yang sangat besar pada lingkungan hidup dan juga berdampak langsung pada manusia yang berada di sekitar perusahaan tersebut tutupnya.

 

 

Pewarta : T,Indra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *