Rugikan Kantor Pos Medan 2 milyar, Marudut divonis 4 tahun penjara

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan – Marudut Maruli Nainggolan (50), Manager Keuangan dan Benda Pos Materai (BPM), divonis 4 tahun penjara, denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan, karena terbukti merugikan Kantor Pos Medan Rp 2 miliar lebih.

Putusan itu disampaikan majelis hakim Tipikor diketuai Bambang Joko Winarno dalam sidang virtual di ruang Cakra- 3 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (25/01/2021).

Meski demikian, terdakwa tidak dibebani uang pengganti kerugian negara, sebab kerugian negara sepenuhnya dibebankan kepada Sri Hartati.

Menurut majelis hakim, terdakwa terbukti bersalah secara bersama-sama dengan  Sri Hartati Susilawati (berkas terpisah  dan telah vonis),  melakukan perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan berlanjut dan melawan hukum.

Perbuatan terdakwa melanggar pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 UU No 31 tahun 1999 dan telah diubah menjadi UU No 20 tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

Putusan majelis hakim beda tipis dibanding tuntutan JPU  Aristomy Siahaan yang menuntut terdakwa 4 tahun penjara, denda Rp 200juta subsider 6 bulan kurungan.

Peristiwanya, Nopember 2016 sampai Mei 2018  di Kantor Pos Medan di Jalan Pos Nomor 1 Kelurahan Kesawan, Kec. Medan Barat, Medan

Selaku Manager Keuangan dan BPM, terdakwa Marudut Maruli Nainggolan, tidak mengendalikan pengelolaan keuangan dan benda pos, prangko, benda filateli, meterai dan benda lainnya.

Secara melawan hukum, terdakwa telah menyerahkan tugasnya kepada Sri Hartati Susilawati yang menjabat sebagai staf keuangan.

Perbuatan terdakwa telah memperkaya Sri Hartati Susilawati dan merugikan keuangan negara.

Terbongkarnya perkara ini, Kamis 17 Mei 2018, saksi Ringgo  Vallerie melakukan pemeriksaan persedian Benda Pos dan Materai (BPM) di Kantor Pos Medan.

Pertama dicek, laporan bulanan persedian benda materi yang ada di Web Sistem Informasi Manajemen Konsunyasi dan Filateli.

Nah, diketahui Materai 3000 berjumlah 153.400 lembar; dan Materai 6000 sebanyak 2.218.350 lembar; namun saat pengecekan fisik, kurang sebanyak 349.000 keping.

Anehnya, kardus yang seharusnya berisi materai, malah berisi kertas HVS dan sampul-sampul bekas.

Sesudanya, dikumpulkan seluruh staf Kantor Pos Medan yang berhubungan dengan Materai. Kemudian saksi Sri Hartati mengaku telah mengambil dan menjual Materai tersebut.

Sri Hartati juga mengaku, uang penjualan materai  tidak distor ke Kasir. Modus yang dilakukan Sri Hartati,  mengganti meterai dengan kertas HVS dengan cara membuka tali dua dari samping dus, tanpa merusak segel.

Tujuannya, agar mengecoh  petugas pemeriksa, saat pemeriksaan fisik, seolah-olah meterai masih utuh dalam dus.

Materai hasil curian itu, dijual Sri Hartati langsung ke masyarakat atau melalui petugas loket, Rp.6.000 perkeping.

Perbuatan Sri Hartati, berdampak langsung kepada terdakwa Marudut Maruli Nainggolan, selaku Manager keuangan dan BPM yang bertanggung jawab dalam Pengelolaan dan penjualan meterai.

Berdasarkan Laporan Hasil Audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sumatera Utara, akibat perbuatan terdakwa, ditemukan kerugian negars Rp2.094.000.000.

Perlu diketahui, dalam perkara ini Sri Hartati Susilawati (49) divonis 5 tahun penjara, denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan, dan diwajibkan mengganti kerugian uang negara Rp 2.094.000.000 subsider 5 bulan kurungan.

 

Pewarta : ZH

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *