MIRIS! Kisah Keluarga Asep Sujana Tinggal di Gubuk Reyot Tanpa ada Uluran Tangan Pemerintah

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pandeglang – Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah perseorangan, keluarga kelompok, dan atau masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan atau gangguan tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya baik secara jasmani, rohani maupun sosial secara memadai dan wajar.

Namun masih ada warga kampung Banjarsari desa Cimanis, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang – Banten belum sepenuhnya merampungkan program RTLH ( Rumah Tinggal Layak Huni ) yang dicanangkan pemerintah sejak kepemimpinan Presiden Joko Widodo, dan bahkan salah satu warga yang belum pernah mengenal namanya bantuan pemerintah jenis apapun apalagi dalam keadaan dampak covid-19.

Asep Sujana (40) harus menghidupi ke empat orang anaknya sendiri yang dimana istrinya sudah setahun lebih meninggalkan mereka kembali ke sang Kuasa untuk selamaya.

Asep Sujana, adalah salah satu warga yang belum tersentuh batuan program jenis apapun termasuk Program RTLH (Rumah Tinggal Layak Huni), pasalnya mereka masih tinggal dirumah dengan ukuran 4×6 meter persegi lantai masih berupa panggung dan dinding dari bambu dan sebagian asbes.

Berdasarkan hasil investigasi Mitrapol.com dilapangan dengan kondisi keluarga yang memang butuh perhatian pemerintah, bapak Asep Sujana memaparkan kesedihannya terhadap pemerintah yang dimana bahwa keluarganya seakan bukan warga Negara Indonesia, Rabu 27/01/21.

Saya menghidupi empat dari enam orang anak sendirian pak, yang dua anak saya udah berumah tangga, istri saya sudah meninggal dunia akibat sakit dikakinya, saya tidak bisa berbuat banyak untuk membawa berobat istri saya dikarenakan keadaan perekonomian kami yang serba kekurangan,”terang Asep.

 

Saya sendiri warga negara indonesia merasa tidak pernah diperhatikan pihak desa pak,”paparnya dengan meneteskan air matanya.

Saya melihat warga yang lain padahal kehidupannya layak malah mendapatkan bantuan, baik PKH, BPNT, dan jenis bantuan lainnya, saya bersama keluarga saya belum pernah pak, apalagi baru-baru ini katanya bantuan pemerintah untuk dampak covid-19.

Saya hanya membangun gubuk untuk tempat tinggal kami ditanah perbatasan tebu milik PT. Aman Agrindo yang sudah bangkrut.

Ketika saya mencari nafkah menjadi kuli dikebun orang terpaksa anak-anak saya ditinggal, biarpun mereka tidak ada yang mengurusnya digubuk kami.”tambahnya.

Anak saya paling kecil umur 4 tahun, tidak mengenal namanya minum susu,atau makanan enak lainnya.Kami tidak mengenal dengan penerangan listrik pak, kami hanya memakai lampu totok dan kadang gelap-gelapan dimalam hari ketika minyak buat lampu totoknya habis.

Sangat sedih pak, tambahnya dengan cucuran air mata sedangkan bapak saya dahulunya seorang TNI yang ikut memperjuangkan Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945.

Tetangga lingkungan setempat yang enggan menyebutkan namanya ini ke Mitrapol.com membenarkan keadaan yang dialami oleh bapak Asep.

Ia benar pak, kadang anak-anaknya main ketempat saya dengan tanpa ada yang urus ketika bapaknya lagi kuli dikebun orang, Memprihatikan sebenarnya dan saya berharap pada pemerintah Desa maupun Kabupaten dengan adanya warga yang seperti ini keluhan warga masyarakat yang kurang mampu dan layak dibantu diharapkan semua program pemerintah yang sudah dianggarkan setiap tahun bisa terrealisasi semuanya tepat sasaran dan transparan demi terwujudnya kesejahteraan rakyat indonesia secara menyeluruh.”singkatnya.

 

Pewarta : R.Siregar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *