Terpidana PETI Potolo Bebas Berkeliaran di Kotamobagu

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Manado Sulut – Ironis, Terpidana PETI Potolo atas nama Gusri Lewan yang sedianya sudah dijatuhi hukuman penjara oleh Pengadilan Tinggi (PT) Manado, 10 Bulan penjara dan denda 10.000,000 (Sepuluh juta rupiah) malah asik bersantai ria di salah satu cafe ternama di Kotamobagu.

Gusri yang awalnya di Pengadilan Negeri Kotamobagu dijatuhi hukuman 1 Tahun penjara melakukan banding di PT Manado . PT Manado kemudian menjatuhi hukuman sebagaimana tertuang dalam putusan nomor 101/PID/2020/PT MND Tanggal Pembanding/Terdakwa ; Agusri Lewan Terbanding/Penuntut Umum ; Jasmin Samahati,SH,MH.

Dalam bunyi putusan Terpidana diperintahkan oleh PT Manado agar tetap ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) tapi anehnya terpidana malah bebas berkeliaran diluar se olah-olah tidak ada salah terhadap negara.

Menanggapi persoalan ini, Ketua LSM Lidik Pro Kotamobagu, Oske Sayow menyayangkan tindakan hukum dari se akan-akan hanya tajam kebawah.

Ketua LSM Lidik Pro Kotamobagu, Oske Sayow

“Gusri kan sudah terpidana dan bahkan diperintahkan Pengadilan untuk ditahan, kenapa kemudian terpidana bebas berkeliaran seolah-olah tidak bersalah, ucap Sayow dengan nada kesal.

Ingat, lanjut Sayow, akibat dari aktifitas PETI di Potolo yang dilakukan oleh Terpidana Gusri, hutan menjadi gundul dan bahkan merusak ekosistem yang ada.

Karenanya, jangan kemudian pihak Penegak hukum memberikan perlakuan khusus kepada perompak hutan.

“Terpidana gusri itu sudah sangat jelas merusak tatanan hutan,ini juga dibuktikan dengan putusan sidang yang mengatakan bahwa gusri bersalah, terus alasan apalagi yang menjadi acuan APH untuk tidak menahan Gusri, tegasnya.

Selanjutnya, Akibat penambangan peti tampa ijin di Potolo dan sekitarnya negara dirugikan 10 milyar karena terjadi pengrusakan hutan sehingga aset negara berupa Hasil Hutan Kayu dan Non kayu tidak di bayar. Sementara itu penambang PETI sudah meraup keuntungan ratusan milyar diareal tersebut dan kepada yang telah menjual tanah serta yang menerbitkan SKT segera di proses.

“Hasil PETI ini sangat jelas tidak masuk ke Negara dan hanya dinikmati oleh Cukong dan Cungko, karena tak ada perlakuan khusus bagi mereka yang secara sadar telah merusak tatanan hutan di wilayah Tanoyan,” tutupnya.

 

 

Pewarta : CR07

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *