Tega bunuh dua anak tirinya, Rahmadsyah divonis 15 tahun penjara

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan Sumut – Tega membunuh dua anak tirinya, Rahmadsyah (29) yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh bangunan divonis 15 tahun penjara.

Putusan itu disampaikan majelis hakim diketuai Denny L.Tobing pada persidangan virtual di ruang Cakra-8 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (04/02/2021).

Menurut majelis hakim, perbuatan terdakwa melanggar pasal 338 KUHP, yakni secara keji membunuh 2 anak tirinya, Ikhsan Fathilah (10) dan Rafa Anggara (5).

Hal yang memberatkan, papar majelis hakim, perbuatan terdakwa sangat sadis dan tidak mencerminkan sikap sebagai suami dan ayah.

Selain itu, perbuatan terdakwa tidak manusiawi dan menimbulkan penderitaan mendalam bagi ibu korban.

“Sedangkan hal meringankan tidak ditemukan,” jelas majelis hakim.

Putusannya majelis hakim sama beratnya dengan tuntutan JPU Chandra Naibaho yang juga menuntut terdakwa 15 tahun penjara.

Disebutkan dalam dakwaan, Jumat 19 Juni 2020, terdakwa Rahmadsyah bersama kedua korban, Ikhsan Fathilah dan Rafa Anggara sedang berada di rumah mereka di Jalan Brigjen Katamso Gang Usaha Kel. Sei Mati, Kec. Medan Maimun, Medan.

Sedangkan Fathul Zannah selaku ibu kandung kedua korban, tidak berada di rumah, masih bekerja dan pulang sekira jam 00.00 WIB.

“Biasanya, kedua korban tidur di rumah neneknya. Namun karena kedua korban hendak meminta uang jajan kepada ayah tirinya, maka keduanya pulang ke rumah,” ujar JPU.

Saat sedang menonton tivi, kedua korban meminta uang kepada terdakwa untuk membeli es krim, namun terdakwa mengatakan tidak punya uang.

Lalu, korban mengatakan, “Ayah pelit kali, cari ayah barulah kami, mamak kan masih muda, masih cantik, ujar korban seperti yang tertuang dalam dakwaan .

Perkataan korban membuat terdakwa tersinggung, spontan mengangkat tengkuk kedua korban dan membenturkan
kepala keduanya ke tembok kamar sebanyak 5 kali.

Kedua korban langsung tak berdaya dan jatuh ke lantai. Melihat masih ada pergerakan, terdakwa menginjak perut dan dada Ikhsan sebanyak 4 kali, serta menginjak perut dan dada Rafa Anggara 5 kali, sehingga kedua korban tidak bergerak..

Selanjutnya, terdakwa menyembunyikan mayat kedua korban di samping Sekolah Global Prima Medan yang tak jauh dari rumah mereka.

Lalu, mayat Ikhsan ditutupi dengan seng dan triplek di samping tembok sekolah. Sementara mayat Rafa dibuang ke dalam parit.

Sekira jam 00.00 WIB, Fathul Zannah pulang ke rumah dan tidak mengetahui perbuatan terdakwa karena setiap malam kedua korban memang tidur di rumah neneknya.

Sabtu 20 Juni 2020 sebelum pergi bekerja, Fathul Zannah melihat kedua korban tidak ada datang ke rumah. Sehingga Fathul bertanya kepada terdakwa, namun terdakwa hanya diam.

Sesudahnya, terdakwa tidak berani pulang ke rumah karena merasa dihantui oleh kedua korban.

Sekira jam 24.00 WIB, Fathul pulang kerja tidak melihat terdakwa dan kedua anaknya. Fathul curiga, keesokan harinya mencari kedua korban ke rumah neneknya, namun tidak ada.

Selanjutnya, Fathul melihat pesan chat Facebook yang dikirimkan terdakwa. Isinya, pengakuan terdakwa yang telah membunuh kedua korban.

Setelah membaca pesan, Fathul spontan berteriak dan menjerit histeris. Lalu, dibantu warga, akhirnya sang ibu menemukan mayat kedua anaknya di samping Sekolah Global Prima Medan.

 

Pewarta : ZH

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *