Misteri Ayunan Nenek, Film Indonesia terbaru De Toeng akan segera tayang

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Jakarta -Mewabahnya pandemik covid 19 membuat perekonomian sampai terhenti termasuk penayangan sejumblah film karna adanya pembatasan dan aturan kendati demikian Bapak Anis Baswedan kembali mengijinkan, Memasuki awal tahun 2021 beberapa film siap menghibur masyarakat

Pada Kamis 11 Februari 2021 akan tayang dilayar lebar

Turatea Pictures milik Asmin amin budayawan dan pilitisi Makasar menggandeng Kartika Waode Sari dan Sean Hasyim.

Sineas Bayu pamungkas berkarya lagi, Sean Hasyim yang pernah bermain di Ketika Cinta Bertasbih (2009), Air Mata Terakhir Bunda (2013) dan Genteng-Ganteng Serigala ( 2015) memerankan dokter keturunan Makassar, yang baru ditugaskan ke Jeneponto.

Dia membawa istrinya, Hanum (Kartika) dan seorang putrinya, Rania anak pertama pasangan dokter yang berusia 7 tahun.

Rania adalah anak Makassar, Resyha Nafisa Zildjiani (12).

Rania inilah yang selalu bertemu dengan ‘nenek’ penghuni Bukit Toeng.

“Ini thriller horor yang tak ada darah, tak ada hantu atau pocong gentayangan. Ini murni mengangkat budaya dan cerita rakyat di Jeneponto,” papar Bayu (sutradara),

Nenguak sekelumit plot film yang serentak tayangdi jaringan studio 21 dan XXI di Indonesia, Kamis 11 Februari pekan ini.

Redaksi mendapati fakta menarik bahwa De Toeng, adalah film yang 90 persen syutingnya di Jeneponto.

Dari sekitar 26 pemain, dan puluhan pemain figuran asal Jeneponto, para pemain pendukung utama dari Makassar.

Bayu menyebut keterlibatan budayawan dan politisi Asmin Amin yang memang kelahiran Jeneponto, ia berperan sebagai Karaeng Ledeng, tokoh pemilik rumah dan lahan di bukit Toeng.

De Toeng berlatar belakang mitos bukit Toeng (Ayunan), sekitar 90 Km sebelah timur kota Makassar.

Di daerah ini, ada mitos seorang nenek baik hati, yang sering mendendangkan lagu pengantar tidur kepada anak dan cucunya di ayunan.

Bukit Toeng terletak di Kampung Tanetea, Kelurahan Bontorannu, Kecamatan Bangkala, sekitar 30 km sebelah barat kota kabupaten Jeneponto.

Rumah yang akan dipakai sebagai lokasi syuting di bukit Toeng adalah villa milik wakil bupati Jeneponto, Mulyadi Mustamu.

Bayu lugas menerangkan bahwa SulSeL punya banyak sisi budaya dan kearifan lokal yang menarik di angkat ke layar lebar.

“Saya ingin memperkenalkan horror yang bertutur dari cerita kuat sehingga saya menghindari adegan yang tiba-tiba apalagi suara keras yang mengagetkan dan justeru noise. Saya ingin ketakutan itu merambat pelan dan perlahan dengan imajinasi penonton berada pada titik adegan yang dituju sehingga suasana tegang dan menakutkan karena ceritanya,” jelasnya mantap.

Sineas yang humble dan selalu berharap perfilman nasional digarap dengan visual sinematografi yang indah karena Indonesia sungguh sangat memesona.

So, Anda ditunggu Nenek yaa di 11 Februari di bioskop kesayangan untuk mencoba di ayun sama nenek, penasaran?

 

Pewarta : Desy

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *