Paus Terdampar di Bangkalan Madura ini kata Ahli Ilmiah

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Jakarta – Berita paus terdampar nampaknya sudah cukup sering terdengar. Baru-baru ini, ada 49 paus yang terdampar di Pantai Desa Patereman, Modung, Bangkalan, Madura, Jumat (19/2/2021).
Sebenarnya apa yang membuat paus sering terdampar? Dilansir Sydney Morning Heralds, ilmuwan kelautan Vanessa Pirotta mengatakan bahwa sebenarnya ada beberapa teori yang melandasi peristiwa tersebut.

Diketahui paus mengandalkan suara untuk echolokasi. Jika indra pertama manusia adalah mata, untuk paus adalah telinga mereka.

Tapi terkadang karena gangguan, suara dari paus ini mengarahkan paus ke arah yang salah yakni daratan. Ahli biologi kelautan Olaf Meynecke mengatakan, karena paus adalah mahluk yang sangat setia kawan, paus lainnya juga akan segera sigap ketika mendengar panggilan.

“Ketika seekor paus mendapat masalah, ia akan memanggil. Seperti yang akan kita lakukan, beberapa paus akan memilih kerabat mereka daripada kelangsungan hidupnya sendiri. Mereka akan mencoba menjangkau mereka. Panggilan yang mereka buat sangat mengganggu. Itu bukan panggilan biasa. Anda dapat mendengarnya dari suara mereka,” jelasnya.

Selain itu, alasan yang paling mungkin adalah kemampuan navigasi yang dimiliki paus mengalami masalah karena kekurangan nutrisi makanan. Alasan lainnya bisa dikarenakan gempa bumi, radiasi api matahari, dan polusi suara dari sonar militer.

Kadang paus yang terdampar tidak hanya 1-2 saja. Jika paus yang terdampar memiliki jumlah yang besar, sebagian ahli berteori bahwa itu bisa saja karena pemimpin paus mengambil jalan yang salah. Mungkin sang pemimpin tengah sakit atau bingung sehingga mengembara ke tempat yang tidak seharusnya.

Lanjut pada kejadian terdamparnya paus, ketika mereka sudah mulai mendekati daratan, akan banyak distorsi yang membuat mereka terperangkap.

“Echolokasi mereka bekerja paling baik saat mereka berada di laut terbuka atau di mana ada batu keras untuk memantul. Tepi pasir menyerap sonar mereka terlalu cepat, jadi mereka harus sangat dekat untuk mengenali sonar mereka,” ujar Meynecke.

Pada saat paus menyadari bahwa mereka telah menyimpang terlalu jauh, mereka terperangkap. Mereka tidak tahu ke mana harus pergi, atau bagaimana cara keluar dari daratan.

“Mereka kehabisan air. Mereka panik,” tuturnya.

Di sinilah upaya penyelamatan paus seringkali dibantu oleh para manusia. Seperti yang dilakukan para warga di Patereman, Madura. Mereka beramai-ramai menghalau paus ke lautan. Paus yang dihalau sebelumnya berjumlah kira-kira 100, namun kemudian dilaporkan 49 paus kembali ke daratan dan mereka terdampar.

 

Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *