Moderasi Beragama Dalam Pendidikan Islam, Orasi Ilmiah Saat Wisuda Mahasiswa STIT SIFA

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, BOGOR – Sekolah Tinggi ilmu Tarbiyah Sirojul Falah(STIT) menggelar wisuda mahasiswa di gedung serbaguna welasih Citeureup Bogor dengan Prokes yang ketat,acara tersebut dihadiri dewan guru dan tamu undangan.

Dalam orasi ilmiah yang disampaikan oleh Dr.Zaenal Abidin M.SI tidak sedikit tamu yang hadir terenyuh dan tergugah atas apa yang di utarakan didalam acara wisuda tersebut. Selasa (2/2/21) Suasanapun begitu Hidmat dan sumringah karena mahasiswa yang sudah di wisuda merasa bangga telah lulus menjadi sarjana.

Dalam sambutannya, Dr. Zaenal Abidin M.SI mengucapkan pertama-tama sebagai insan yang beriman dan bertakwa pantas kita ucapkan syukur alhamdulilah hari ini dalam keadaan sehat walafiat sehingga dapat menggelar acara wisuda sarjana angkatan XI Program studi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Sirojul Falah (STIT SIFA) Tahun Akademik 2019-2020.

Tambahnya, para wisudawan wisudawati harus siap terjun langsung dalam realitas kehidupan sehari-hari dan siap berkiprah dimana saja untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh dibangku kuliah,dalam rangka meningkatkan kualitas hidup diri dan turut mencerdaskan generasi bangsa Indonesia dimasa yang akan datang.

Pendidikan Islam memiliki kontribusi yang signifikan dalam mempertahankan penyebaran pemahaman keagamaan yang moderat kedalam ilmu agama yang didapat dalam pendidikan keagamaan seperti pesantren dan madrasah serta optimalnya kiprah para ulama dan kyai yang masih menjadi rujukan perilaku keberagamaan masyarakat,menjadikan agama masyarakat Indonesia masih berada pada titik yang aman.

Dalam kehidupan demokrasi akan terlihat dan terlaksana dengan baik ketika masyarakat memiliki kepekaan yang tinggi dalam segala macam perbedaan yang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Puralisme ini madzab kaum sosiolog melihat titik temu perasamaan antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Multikulturalisme, ini mazdabnya anthropology, dimana mereka melihat keunikan sebagai kekayaan atau kearifan lokal.Jika itu semua dilakukan dengan tujuan untuk hidup bersama sama dengan keharmonisan, tidak menganggap yang satu benar dan yang lain salah,yang benar tidak harus mematikan yang salah sebaliknya.

Secara umum ,moderasi Beragama atau wasathiyyah berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral dan watak sebagai ekspresi sikap keagamaan individu atau kelompok tertentu. Prilaku keagamaan yang didasarkan pada nilai-nilai keseimbangan tersebut konsisten dalam mengakui dan memahami individu maupun kelompok lain yang berbeda.”Ucapnya.

 

Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *