Penambangan Pasir Rusak Alam, Anton Charliyan : Hormati Galunggung sebagai Kabuyutan yang dihormati Masyarakat Sunda Galuh

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Tasikmalaya Jawa Barat – Pasir merupakan salah satu barang tambang di Kabupaten Tasikmalaya yang telah lama dieksploitasi. Usaha penambangan pasir dilakukan sejak tahun 1984, setelah terjadinya letusan Gunung Galunggung.

Penambangan pasir dapat menciptakan lapangan kerja dan memberikan kontribusi bagi daerah. Namun, apabila penambangan pasir tidak dikelola dengan baik maka akan mengganggu keseimbangan dan fungsi lingkungan, mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Saat ini, di wilayah Gunung Galunggu semakin marak penambangan pasir, mulai dari area pesawahan, sungai bahkan tempat-tempat tertentu yang dianggap sebagai wilayah yang dilindungi.

Maraknya penambangan pasir di Gunung Galunggung ini mendapat perhatian serius dari Mantan Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol (Purn) Dr. H. Anton Charliyan, MPKN, yang sekaligus sebagai salah satu tokoh masyarakat dan pengamat budaya.

“Gn. Galunggung sebagai suatu Kabuyutan merupakan salah satu tempat bersejarah, dan salah satu tempat yang sangat dihormati serta disakralkan, sehingga harus dijaga kelestarianya,” ujarnya. Rabu (3/3/21).

Lanjutnya, kita lihat apakah kegiatan tersebut ada izin atau tidak dari Kementerian atau Dinas terkait, jika memang ada, kita tidak bisa terlalu jauh ikut campur, kecuali bila dalam praktek operasionalnya dilapangan ternyata merusak lingkungan.

Sesuai dengan UU No 4 Tahun 2009 Tentang Minerba, barang siapa melakukan exploitasi Penambangan tanpa izin atau menimbulkan kerusakan lingkungan bisa diancam Pidana 10 tahun dan denda 10 Milyar.

Selain itu, apabila area wilayah garapannya tidak sesuai dengan koordinat yang sudah ditentukan, tidak adanya reklamasi bekas galian, atau termasuk wilayah bersejarah yang disakralkan oleh Masyarakat, bisa dilakukan penindakan, tapi terkadang pemerintah biasanya kurang sensitif memantau hal-hal seperti itu, jelas Abah Anton sapaan akrab Anton Charliyan.

Masih kata Abah Anton, Dalam hal ini kebetulan yang dipermasalahkan adalah masalah penggalian pertambangan di wilayah Galunggung yang mana memang Gunung Galunggung bagi Masyarakat Priangan merupakan salah satu tempat bersejarah, dan salah satu tempat yang sangat dihormati serta disakralkan, sehingga harus dijaga kelestarianya.

Bagi para pakar sejarah, Gn. Galunggung merupakan suatu kabuyutan tempat suci yang memang diamanatkan sebagaimana yang tersirat dalam Naskah Amanat Galunggung (abad ke-13) yang harus dijaga kelestarianya oleh seluruh Masyarakat Sunda Galuh

Apalagi bagi masyarakat yang lebih paham, kedudukan Gn Galunggung tidak hanya untuk Masyarakat Sunda saja, dalam Naskah Fragmen Ceritera Parahyangan yang ditulis pada abad ke 15 Gn Galunggung merupakan Tarajuna Jawa Dwipa, penyeimbang Paseuk Paku Puseur dari Pulau jawa.

Ini bukan dongeng atau takhyul, yang berkata adalah Naskah peninggalan para Leluhur Sunda, yang artinya bila keseimbangan alam di Galunggung rusak, maka Pulau Jawa pun akan menanggung akibatnya, itu kata Naskah Kuno, paparnya.

Untuk itu mohon pemahaman dan Kesadaran dari semua pihak akan arti penting Gn Galunggung sebagai sebuah kabuyutan yang sudah diamanatkan oleh para pendahulu kita untuk bisa dijaga bersama kelestarianya.

Kalau hal tersebut tidak kita indahkan, lalu siapa lagi kalau bukan cucu cicitnya Ki Sunda yang akan menjaganya..???, ataukah akan kita biarkan saja Kabuyutan Galunggung yang nota bene sebagai Paseuknya Jawa Dwipa rusak dan hanya tinggal sebuah kenangan saja …. ???. Sebagaimana yang pernah terjadi dengan lumpur Lapindo di Pasuruan Jatim. Karena bila Galunggung sampai rusak dan tidak dijaga, saya yakin akibatnya bisa 1000 X lipat dari Lumpur Lapindo, tegas Abah Anton.

Lumpur Lapindo saja yang tidak diamatkan dalam Naskah untuk dijaga dampaknya sampai detik ini belum bisa terselesaikan, apalagi dengan Galunggung, tidak terbayangkan akibatnya …???, makanya para leluhur sampai sengaja menulis sebuah pesan tertulis mewanti-wanti agar anak cucunya bisa menjaga Galunggung, apabila anak cucunya tidak bisa menjaganya akan lebih hina dari bangkai binatang yang ada ditempat sampah !!!, relakah kita semua, sebagai cucu cicitnya bila tidak mampu menjaganya mendapat julukan seperti itu ?????

Jadi terlepas apakah perusahaan tersebut sudah dapat izin atau tidak, sebaiknya bisa menghormati sejarah dan kedudukanya Gn. Galunggung sebagai suatu Kabuyutan yang dihormati oleh seluruh Masyarakat Sunda, pungkas Abah Anton.

 

Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *