ABK WNI Meninggal di Taiwan, Begini Respon PT. ABP Pemalang

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pemalang – Media sosial facebook dihebohkan oleh postingan akun atas nama Damir Pelautabangan di group Pusat Berita Pemalang pada, Minggu 14 maret 2021 sekira pukul 18.17 WIB.

Dalam postingan tersebut, akun facebook Damir menyebutkan, bahwa perusahaan pengerah tenaga kerja khusus kru kapal penangkap ikan sudah sering melakukan tindakan nakal dan tidak bertanggungjawab terhadap kru Anak Buah Kapal (ABK) yang dikirim oleh perusahaan. Mulai dari penelantaran ABK, pemotongan Gaji ABK, penggelapan gaji bahkan kematian.

Akun facebook Damir juga meyakini, bahwa berdasarkan pengaduan terhadap dirinya melalui group Whatsapp pelaut pemalang oknum perusahaan tersebut sudah sangat terkenal memakan keringat ABK, bahkan para korban sudah melaporkan kepihak berwajib. Bahkan, akun Damir menyebutkan bahwa perusahaan telah dilindungi oleh oknum aparat, pengacara bahkan sampai wartawan.

Postingan Damir, juga disertakan screenshot postingan akun bernama khofifah pada group suara pelaut Indonesia. Postingan khofifah pada group tersebut pada minggu 14 Maret 2021 sekira pukul 15.00

Berdasarkan informasi tersebut, awak media Mitrapol.com berusaha menghubungi Akun Facebook Damir Pelautabangan melalui messeger untuk meminta konfirmasi terkait apa yang disampaikan pada postingannya. Namun sampai berita ini diturunkan, yang bersangkutan tidak berani memberikan konfirmasi terkait PT. Anugrah Bahari Pasifik.

Direktur Utama PT. Anugrah Bahari Pasifik (ABP), Hengki Wijaya membenarkan bahwa Anak Buah Kapal yang diberangkatkan melalui perusahaannya atas nama Satrian Ndikele berangkat pada Agustus 2019 dan hilang kontak pada oktober 2019 karena ABK tersebut berada di tengah laut dan tidak ada sinyal, dan pada tanggal 21 februari 2021 dikabarkan berita duka bahwa Satrian Ndikele meninggal dunia.

Hal tersebut disampaikan Hengki Wijaya selaku Direktur Utama PT. Anugerah Bahari Pasifik kepada awak media pada Senin 15 Maret 2021 di kantornya.

Berdasarkan berita acara yang disampaikan kapten kapal, bahwa Almarhum meninggal dunia akibat sakit perut dan diberikan izin untuk istirahat, sebelum meninggal yang bersangkutan sempat mengjisap rokok dan saat dibangunkan untuk sarapan, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia.

Informasi tersebut disampaikan kepihak keluarga atas nama Windi, yang diketahui oleh pihak perusahaan bahwa windi merupakan istri dari almarhum, karena selama almarhum bekerja komunikasinya dengan saudari windi, termasuk rekening gajinya. Namun, setelah PT. ABP mengabarkan berita duka teraebut, diketahui bahwa saudari windi merupakan calon istrinya.

Kemudian, Windi memberikan nomer keluarga yang bisa dihubungi oleh pihak PT. ABP, yang diketahui nomer tersebut merupakan nomer dari keponakan ayah almarhum.

“Sebelum windi memberikan nomer keluarga yang dapat dihubungi, bahwa keluarga almarhum sedang kurang harmonis, orang tua Satrian Berpisah, dimana ayahnya tinggal di sorong, ibunya tinggal di ambon dan almarhum tinggal di Buton”, ujar Dirut PT. ABP

Pihak perusahaan sudah komunikasi dengan Sarifudin yang merupakan ayah dari almarhum. PT. ABP pun memberikan data kronologi atas meninggalnya ABK Satrian Ndikele dan jenazah akan dipulangkan paling lambat bulan Juli 2021.

“Karena situasi Covid-19 dan hukum internasional, jenazah masih tertahan di kapal, kapten kapal terus membangun komunikasi dengan negara yang akan menjadi tempat bersandar, setelah mendapat izin sandar, jenazah akan dibawa kerumah sakit untuk visum dan baru akan di persiapkan kepulangannya ke tanah air.”Katanya.

“Tahapan pemulangan jenazah sudah kami lakukan, Kami dari Perusahaan, tetap mengupayakan agar jenazah segera di pulangkan ke indonesia”. Imbuhnya.

Disinggung mengenai pemberitaan dimedia online nasional, yang menyebutkan bahwa kuasa hukum korban, Maulana akan mendesak PT. Anugerah Bahari Pasifik untuk bertanggungjawab atas kepulangan jenazah korban. Hengki menjelaskan, bahwa dirinya sudah bertemu dengan Maulana dan yang bersangkutan mengerti atas kondisi pandemi, jenazah paling lama akan dipulangkan bulan Juli.

“Saya sudah bertemu dengan Maulana, yang katanya kuasa hukum korban. Namun ada keganjalan dari surat kuasa yang diberikan. Surat kuasa hukum ditandatangani oleh khofifah, dimana khofifah bukan ahli waris dari Almarhum.”Tutupnya

 

Pewarta : (Rizqon Arifiyandi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *