Dengan Target Lampung Bebas Buta Al,quran Yayasan Umar Bin Abdul Aziz akan Bangun Kampung Qur’an Al-Fushha

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pesawaran – Kampung Quran Al Fushha Kabupaten Pesawaran yang berada di bawah naungan Yayasan Umar Bin Abdul Aziz berdiri di lahan persawahan seluas sekitar 6.000 meter di Desa Bogorejo, Kecamatan Gedung Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

Hanya dipagari kawat setinggi sekitar satu meter dan tanpa tembok pembatas, secara langsung mengesankan bahwa Sekolah Alam Kampung Quran Al Fushha Kabupaten Pesawaran milik seluruh masyarakat; terbuka, dan siap menerima siapa saja yang berkunjung, dari kelas dan status sosial apapun; petani, buruh, wartawan, dokter, hingga pejabat.

Gagasan dibangunnya Kampung Quran ini sangat keren dan tidak main-main, yakni wahana silaturahmi untuk menyatukan Indonesia dengan tujuan menyatukan umat Islam tanpa melihat aliran, mazhab dan ormas. Kampung Quran Al-Fusjha juga menargetkan Lampung Bebas Buta Alquran pada 2025. Di lokasi seluas sekitar 6.000 meter ini, tampak beberapa bangunan, lebih tepatnya pondokan atau saung dari bambu yang mampu menciptakan suasana kampung yang nyaman.

Selain itu ada beberapa bangunan dari kayu (anjungan) yang tampak elegan, dibangun minimalis dengan gaya modern. Di kepung persawahan dan rumah penduduk, semakin menguatkan suasana ngampung yang damai dengan semilir angin dan canda riang anak-anak kampung yang bebas keluar masuk (umumnya mereka adalah santri/siswa di Kampung Quran). Belum lagi hamparan jerami sisa panen petani.

Media ini cukup beruntung bisa berkunjung dan bertemu langsung dengan Ketua Yayasan Umar Bin Abdul Aziz sekaligus pengelola Kampung Quran Al Fushha, Iqbal Abdul Aziz, yang mengaku lebih senang disebut ‘Sang Pelayan Kampung Quran’ pada, Kamis (22/4/2021), tepat 10 Ramadhan.

Memasuki lokasi Kampung Quran, kita disambut bangunan masjid yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan. Masjid yang mulai dibangun sejak 1 Juli 2020 ini diberina nama Masjid Sayiddah Zainab. Kemudian tepat di bagian belakang masjid adalah kolam ikan yang pada salah satu sisinya berdiri beberapa saung bambu.

Selain tata letak dan bentuk bangunan yang cukup nyeni, yang paling mengesankan adalah cara ‘Sang Pelayan Kampung Quran’ Sayyid (guru/ustaz) Iqbal, dalam menyambut menerima kunjungan kami pada siang yang cukup terik itu, ramah dan hangat. Keramahan dalam takaran yang tepat dan tidak dibuat-buat. Jelas sekali dia adalah sosok yang pandai menerima dan menyambut tamu.

“Mohon maaf saya sedang ada kajian sebentar dengan para sayyidah (guru wanita), mohon maaf terpaksa harus menunggu sebentar,” ujarnya seraya meminta salah satu guru menemani kami di salah satu pondok bambu.

Hanya berselang beberapa menit, Sayyid Iqbal ‘Sang Pelayan Kampung Quran’ langsung menemui kami. Dengan hangat dan humble dia menyapa kami seraya memperkenalkan diri. Tidak lupa, sekali lagi dia meminta maaf karena kami harus menunggu.

“Maaf harus menunggu, tadi sedang ada rapat kecil diskusi dengan para sayiddah terkait rencana dan progres pembelajaran kita,” katanya.

Pada detik selanjutnya kami berbincang-bincang santai di salah satu pondokan bambu yang berdiri di atas kolam ikan, semacam aula pertemuan dari bambu yang mampu menampung sekitar 50 orang.

Dengan santai juga dia berbagi kisah prihal perjuangan pembangunan Kampung Quran Al Fushha. Sungguh, menurut saya pertemuan ini menjadi sebuah silaturahmi yang sangat bernutrisi. Kepada media ini, Iqbal menceritakan Kampung Quran Al Fusha adalah sekolah alam yang menggunakan kurikulum nasional dengan menguatkan pembangunan karakter melalui mata pelajaran bernuansa Islam dan kearifan lokal.

“Sengaja kita bangun seperti ini, terbuka dan tak ada tembok yang tinggi seperti pesantren pada umumnya, agar masyarakat bisa tahu kegiatan kita dan kita juga bisa mengetahui kehidupan masyarakat sekitar sehingga tidak ada sekat dan batasan. Mereka bisa kapan saja datang ke sini. Kampung Quran ini adalah milik semua,” ujarnya memulai cerita.

Selain mengenalkan Quran dan nilai-nilai Islam kepada santrinya, Sekolah Al Fusha juga mengusung kurikulum membangun karakter dengan mengenalkan permainan lokal tradisional seperti gasing, egrang, congklak, lompat tali, layang-layang dan permainan tradisonal lainnya.

“Di era saat ini permainan tradisional menjadi penting bagi anak-anak kita, sebab hadirnya gadget, adalah hama yang merusak generasi masa depan kita. Gadget (Android) telah yang membangun persepsi ‘orang lain adalah pengganggu’. Bisa kita lihat anak-anak saat ini, asyik dengan dirinya sendiri tanpa komunikasi dengan orang lain. Akibatnya liguistik kita berkurang. Berbeda dengan permainan tradisonal jaman dulu yang malah sebaliknya, ‘semakin ramai semakin asyik’ sehingga persepsinya kita membutuhkan orang lain. Nah, hal ini yang penting.” Sangat keren bukan?

Satu lagi yang membuat sekolah ini layak menjadi pilihan bagi yang ingin gaul, keren, tapi tetap berada di jalur yang positif. Sekolah Kampung Quran memberi jaminan bahwa peserta didik akan mampu berbahasa asing dengan baik, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris. Belum lagi kajian Alquran dilakukan dengan metode yang menyenangkan.

“Kita sedang membangun masjid yang kita beri nama Masjid Sayyidah Zainab, masjid ramah anak yang dibangun dengan anggaran Rp 3,5 milyar yang berasal dari sumbangan Sayiddah Zainab. Karena itu, masjidnya kita beri nama Masjid Sauyidah Zainab,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan masjid itu nantinya akan memiliki ruang khusus bermain anak (play land) seperti mall dan supermarket serta ada taman bermain bagi anak. Tujuannya adalah agar anak betah di masjid.

Kurikulum Dan Pembelajaran

Terkait kurikulum dan pembelajaran, Iqbal menuturkan Sekolah Alam Kampung Quran Al Fusha telah membuat kurikulum hingga tingkat perguruan tinggi. Dia juga menyampaikan saat ini Kampung Quran Al Fusha telah memiliki jaringan internasional yang kuat sebab telah bekerja sama dengan 27 perguruan tinggi negeri berkualitas bagus di Turki. Sehingga jika nanti ada yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi di Turki pihaknya siap membantu.

“kita sudah bekerja sama dengan Turki sehingga jika ada yang ingin melanjutkan pendidikan ke sana, kami siap membantu,” kata Iqbal.

Dalam kesempatan ini, Iqbal juga menjelaskan saat ini di Kampung Quran Al Fusha baru ada pendidikan TK dan SD. Untuk SD jumlah santrinya 80 orang dengan jumlah pengajar 15 orang. Yang menarik, model pembelajaran di sekolah ini bervariasi, layaknya menu sarapan yang bergizi tinggi. Model pembelajaran yang diterapkan yaitu: Kelas Gedung (belajar di dalam kelas seperti sekolah pada umumnya), Kelas Saung (1 saung satu kelas), Kelas Tenda (belajar di dama tenda) dan Kelas Alam, yakni belajar di alam terbuka.

“Teknisnya saat datang pagi, semua siswa ke kantor terlebih dahulu, setelah itu baru dibagi kelas. Ini sistemnya bergantian supaya anak tidak bosan dan mereka tetap semnagat untuk belajar.”

Terkait pembiayaan, dia mengatakan pihaknya mengundang semua orang tua untuk terlibat. Dalam pertemuan tersebut dijelaskan apa saja kebutuhannya dan berapa anggaran yang dibutuhkan. “Semua orang tua dan wali murid kita undang, kita libatkan dalam pembiayaan. Kita juga jelaskan kegunaannya untuk apa,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan akan dibuka tingkat SMP dengan biaya masuk Rp 4.000.000 untuk tiga tahun dan biaya bulanan Rp 900.000, yang akan digunakan untuk kebutuhan santri; baju seragam (3 stel), makan, laundry, dan penginapan/asrama (boarding).

Selain kelas regular, menurut dia, Kampung Quran juga memiliki kelas khusus ibu-ibu dan bapak-bapak, yang khusus belajar baca dan mengkaji Quran, jumlahnya sekitar 700 santri.

Kelas khusus ini terbagi dalam beberapa level, yaitu: Level 1 targetnya adalah lancar baca (12 pertemuan), Level 2 fasih baca (12 pertemuan), Level 3 bisa mampu terjemah Quran (24 pertemuan).

“Insya Allah dalam semua level targetnya selalu sesuai,” katanya.

Dalam bincang-bincang ini Iqbal juga mengatakan dalam waktu yang tidak lama lagi akan dibangun Museum Quran yang isinya adalah Quran yang berasal setiap Negara dan berbagai belahan dunia.

“Turki sudah siap memberikan bantuan 1 juta Quran. Kita memang sudah bekerja sama dengan salah satu organisasi di Turki, Khairat, yang merupakan mitra strategis Pemerintah Turki. Di Turki kampusnya bagus-bagus, biaya kuliah dan biaya hidup di Turki murah, lebih murah dari biaya kuliah di Bandar Lampung, padahal kualitasnya di atas perguruan tinggi kita. Sudah ada beberapa yang kuliah di sana melalui jalur kita; dari Darul Hufaz 1 orang, MAN 1 Bandar Lampung (1), Pringsewu (1), dan Pesawaran (1),” kata Iqbal.

Satu hal lain yang sangat keren adalah Sekolah Kampung Quran Al Fusha juga berupaya menjadikan Kampung Quran sebagai tempat wisata rohani. Oleh sebab itu, keamanan, kebersihan, dan keamanan menjadi hal yang sangat penting di sini, baik secara umum maupun bagi santri secara pribadi.

“Kita kenalkan mereka sense of tourism; aman, bersih, nyaman. Kita berharap nantinya lokasi ini bisa menjadi tujuan wisata, sehingga ekonomi masyarakat bisa tumbuh. Selain itu, kebersamaan dan toleransi juga kita ajarkan karena itu merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan,” pungkas Ustaz Iqbal. Yuuk kita belajar Alquran di Kampung Quran.

Nah, bagi kaum muslim yang ingin berperan serta bersedekah menanam amal demi ladang akhirat bisa mengambil kupon donasi bernilai Rp9.000 rupiah per kupon. Kirim ke Nomor Rekening 123 888901 BNI Syariah a.n. Yayasan Umar Bin Abdul Aziz Lampung.

 

Pewarta : Deni W

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *