Pembangun Way Mada terkesan Asal asalan

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pesawaran – Pengerjaan rehabilitasi Daerah Irigasi Way Mada Jaya melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pesawaran Tahun Anggaran 2021 ini kurang pengawasan sehingga pengerjaannya terkesan ingin cepat selesai dan tergesa-gesa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, tender pengerjaan proyek yang dibuat pada 08 Maret 2021 itu dipercayakan kepada Dinas PUPR dan berkategori Pekerjaan Rekonstruksi dengan nilai pagu anggaran Rp 3.567.108.070,00 yang berasal dari APBD Kabupaten Pesawaran Tahun 2021.

Dalam pelelangan, pengerjaan proyek ini dimenangkan PT. Nenggala Taman Raya yang berkantor di Jalan Kelapa Sawit VIII No. 122 Perumnas Way Halim Bandar Lampung dengan harga penawaran Rp. 3.499.234.500,91 hingga menjadi Rp. 3.498.720.000,00 dari hasil negosiasi.

Namun pada papan informasi yang terpasang di lokasi pengerjaan proyek, CV. Anak Singkong sebagai kontraktor dengan nomor kontrak: 04/KTR IPDMI/AIR/PPK/2021 dan CV. Gracio Consultan sebagai konsultan tidak menunjukkan masa kerja dan volume kegiatan tersebut, sehingga menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan di masyarakat.

Selain itu, berdasarkan pantauan di lokasi, Minggu (30/5/2021), tidak ada pengawasan dari pihak pemenang tender terkait pembangunan proyek tersebut. Sebab, saat ditanya dan diminta informasi tidak ada yang mengaku sebagai mandor atau pengawas yang bisa dikonfirmasi terkait tender tersebut.

Para pekerja mengaku hanyalah pekerja yang diarahkan untuk melakukan pekerjaan itu tanpa ditunjukkan RAB pelaksanaan oleh mandor dan pengawas. Oleh sebab itu, dalam pemantauan tersebut terkesan para pekerja bekerja seenaknya; membuat adukan dan melakukan pemasangan batu agar pekerjaan cepat selesai karena tidak diawasi.

Bahkan beberapa pekerja mengaku tidak tahu berapa upah atau ongkos harian mereka karena dibayar per kubik. “Ini hitungannya kubikasi Bang upahnya, dan nanti dari PU yang menghitung berapa jumlah yang kami terima dari kerja ini,” ujar salah satu pekerja yang tidak mau menyebut namanya.

Sementara itu, salah satu warga yang tidak mau namanya ditulis mengaku heran dan sangat menyayangkan kondisi seperti ini. Sebab, menurut dia, uang yang digunakan dalam pengerjaan proyek tersebut bukan jumlah yang sedikit.

“Uang yang digunakan jumlahnya milyaran yang berasal dari APBD Kabupaten Pesawaran. Kalau kurang pengawasan bagaimana kualitas hasil pekerjaannya nanti, padahal anggaran yang digunakan adalah uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan. Sebagai masyarakat biasa, saya berharap pekerjaan yang peruntukannya untuk masyarakat harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

 

Pewarta : Deni W

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *