Tim Independen turun, pantau Hubungan Sosial Masyarakat Dengan TPL

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Toba – Sekaitan dengan terjadinya bentrok antara masyarakat Desa Natumingka Kecamatan Borbor dengan karyawan PT.Toba Pulp Lestari,Tbk yang mengakibatkan adanya korban luka dari kedua belah pihak telah mengundang berbagai reaksi, tanggapan bahkan kecaman dari berbagai pihak yang secara umum dominan menyudutkan posisi PT.TPL sebagai pihak yang dipersalahkan.

Hal itu diperparah lagi dengan munculnya pemberitaan oleh beberapa media bahwa pihak PT.TPL melakukan pembongkaran paksa terhadap makam kerabat keturunan Op.Punduraham Simanjuntak dari lokasi HTI TPL dimana berita ini langsung mendapat kecaman dari berbagai pihak karena berita ini merupakan sesuatu yang sangat sensitif dalam budaya orang Batak.

Pada sisi lain dengan adanya sikap dari masyarakat Desa Natumingka untuk menghalangi karyawan PT.TPL untuk melakukan penanaman Eucalyptus periode tanam ke-6 di lokasi HTI TPL juga memunculkan tanda tanya besar bagi anggota masyarakat terkait legitimasi perizinan areal HTI yang diusahai TPL di lokasi yang menjadi sumber terjadinya bentrok antara kedua belah pihak.

Sehubungan dengan ketiga issu yang berkembang tersebit akhirnya Tim Independen memandang harus segera mengungkap fakta yang sebenarnya sehingga pada hari Selasa (25/05/2021), Tim Independen yang terdiri dari Ir.Hasudungan Butar-Butar,M.Si sebagai Sekretaris bersama rekannya Ir. B.Rickson Simarmata, MSEE, IPM langsung turun ke lapangan untuk melakukan observasi langsung sekaligus pengumpulan data maupun informasi dari berbagai pihak terkait.

Dan dari hasil wawancara dengan masyarakat Desa Natumingka dan karyawan PT.TPL di lokasi yang berbeda diperoleh informasi bahwa kejadian bentrok antara masyarakat Desa Natumingka dengan karyawan TPL terjadi pada pukul 06.30 wib pagi dan berhenti pada pukul 15.00 wib sore hari setelah pihak keamanan turun mendamaikannya.

Dari hasil amatan bahwa lokasi kejadian berada sejauh 15 km dari batas Desa Natumingka dan masih berada di dalam wilayah HTI TPL, bukan di wilayah Desa Natumingka seperti yang beredar dieddia sosial. Perlu ditambahkan bahwa jarak terdekat antara batas desa dengan lokasi HTI TPL sejauh 600 m saja.

Adapun awal mula bentrok tersebut karena masyarakat Desa Natumingka yakni keturunan Op.Puduraham Simanjuntak menghalangi karyawan TPL untuk mengerjakan penanaman Eucalyptus dilokasi HTI yang baru selesai dipanen beberapa waktu yang lewat karena mereka merasa itu adalah tanah adat mereka, sementara menurut karyawan TPL lokasi itu adalah lokasi HTI TPL yang sah dengan dasar bahwa tanaman Eucalyptus sudah ditanami secara terus menerus selama 5 periode tanam dan tidak pernah ada masalah.

Bentrok kedua kelompok massa ini bermula dari aksi dorong mendorong dan puncaknya terjadi saat adanya aksi pelembaran kayu yang mengakibatkan korban luka di kedua kelompok massa termasuk terhadap personel Polres Toba.

Dari masarakat keturunan Op.Duraham Simanjuntak ada 2 orang korban luka yaitu Jusman Simanjuntak dan Agus Simanjuntak, sedangkan dari pihak PT.TPL ada 5 orang, yakni Sulaiman Simanjuntak (karyawan), Prinawati (karyawan), Teddy Panjaitan (Security), Basrin Nababan (Security), Setia Simatupang (Security). Sementara korban dari pihak Personil Polres Toba ada 1 orang yakni Aipda Mahendra Keliat.

 

Pewarta : Abdi.S

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *