Mengenal Lebih Dekat PJBN, wadah syiar dakwah seni dan budaya serta peradaban Nusantara

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pandeglang – Ketua Umum Paguron Jalak Banten Nusantara (PJBN) Prof. Drs. KH. TB. Sangadiah MA adalah salah satu tokoh Ulama kharismatik Banten, dan juga sesepuh Banten, yang dikenal sebagai seorang sederhana.

Prof Drs KH TB Sangadiah MA tersebut selain sebagai tokoh Ulama di Banten, juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al – Bantani, dan sekaligus Ketua Umum PJBN, sebuah padepoknya yang berada di Desa Pagadungan Kecamatan Karang Tanjung Kabupaten Pandeglang Banten.

Tim Mitrapol berkesempatan mengunjungi Padepokan Abah Sangadiah yang biasa disapa Abah Sepuh yang didampingi putrinya sebagai Ketua pengurus harian DPP HJ. Ratu Ageng Rekawati KD,SE.,S.Sos.,MH yang bisa dipanggil Bunda Ratu, dengan ciri khasnya yang santai Abah Sepuh mengatakan, PJBN bukan Ormas, melainkan sebagai Wadah Syiar dakwah seni dan budaya serta peradaban Nusantara sebagai pewaris para leluhur, yang mengedepankan Watoni’ah, ujarnya, Jumat (28/5/2021).

Lanjutnya, anggota PJBN saat ini sudah ada dimana-mana selain di Indonesia, juga ada diluar negeri, kurang lebih sudah ada di 8 Negara dan sudah terdaftar di Kementerian RI dengan No SK MENKUMHAM RI NO : AHU – 0001026.AH.01.08.TAHUN 2020.

Jalak Banten adalah penerus sejarah para kerajaan, tujuanya supaya tidak punah tergerus dengan kemajuan zaman, yang saat ini sedang berkembang pesat dengan teknologi canggih.

Sampai saat ini (PJBN) masih mempertahankan latar belakang kerjaan kesultanan parawali dan ulama pewaris tahta, ketika kala itu parawali dengan susah payah menyiarkan ajaran agama isalam dimuka bumi.

PJBN selqin Wadah Syiar juga seni dan budaya peradaban Nusantara yang meneruskan sejarah Para wali dan ulama yang kalau itu mengajarkan Islam, selain berdakwah kala itu para wali sampai menciptakan kesenian budaya agar mereka mau masuk Islam, bahkan sampai menggelar kesenian wayang kulit di sebuah alaun – alun masuknya harus pakai baca sahadat.

Paguron Jalak Banten Nusantara adalah sebuah Wadah Syiar dakwah seni dan budaya juga peradaban Nusantara bukan Ormas, berdiri dari tahaun 1622 Masehi yang mengedepankan Watoniah.

Penasehat dan pembina PJBN sendiri terdiri dari para ulama, sekarang sudah resmi terdaftar di Kemenhukam RI, terbentuknya sebagai wadah Paguron Jalak Banten Nusantara, sebagai upaya untuk membangun peradaban Nusantara. Tujuannya untuk memperjuangkan dan mengawal pelestarian seni dan budaya yang hidup di bumi Nusantara, agar jangan sampai hilang ditelan arus zaman.

Abah Sangadiah

Masih menurut Abah,”Siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga budaya dari warisan leluhur nenek moyang, jika tidak kita rawat maka budaya baru impor dari asing akan mengubah tatanan dan nilai-nilai yang ada di masyarakat kita, bisa – bisa kita tidak mengenali darimana kita berasal dan siapa leluhur kita,” ujar Abah.

PJBN Selain sebagai wadah peradabann budaya Nusantara, Paguron Jalak Banten Nusantara (PJBN) adalah wadah perkumpulan warisan Karuhun Leluhur Nusantara Yang mempunyai sejarah peradaban.

Paguron Jalak Banten Nusantara (PJBN) adalah salah satu wadah tempat bernaungnya Para Kesatria dan Srikandi Se Nusantara, Elemen Masyarakat, Lintas Suku, Agama, Organisasi, Lembaga, Perguruan Beladiri, Budayawan, serta Komunitas dan Masyarakat lainnya yang melebur menjadi satu di wadah PJBN,” jelasnya.

Abah menegaskan bahwa PJBN bukan ormas yang bergerak di bidang membekingi kelompok tertentu. PJBN adalah wadah yang bersifat independen, tidak terafiliasi dengan partai politik manapun.

PJBN adalah wadah yang didirikan untuk meneguhkan peradaban dan pelestarian seni dan budaya Nusantara. anggota PJBN didoktrin untuk merangkul siapapun, menjaga etika dan kehormatan dan menjaga marwah Rahmatan Lil Alamin.

Seluruh pencinta dan pelestari seni budaya bergerak menjaga dan mengangkat Marwah Peradaban Budaya Karuhun di bumi Nusantara tercinta ini.

PJBN hadir sebagai wadah untuk senantiasa menjaga identitas suatu bangsa, bersinergi dalam Bhineka Tunggal Ika. Banyak orang bertanya kenapa dinamakan Jalak, nama Jalak digunakan dari sejarah pada saat Ulama besar datang ke Banten untuk meng Islamkan daerah ini.

Saat itu Ulama tersebut menggunakan selendang yang berubah menjadi Jalak Banten untuk melawan kekuatan Jalak Rawi yang terbuat dari besi Persani yang digunakan tokoh animisme saat itu. Ketika mereka kalah mereka pun mengakui kekalahan dan sesuai perjanjian kalau kalah yang kalah harus ikut ajaran agama kala itu masing – masing punya agama, sehubungan jalak dari kesultanan menang akhirnya lawan itu bergabung menjadi sebagai muslim dan berbaiat langsung ke Mekkah.

“Dalam makna harfiah Jalak punya arti singkatan dari Jami’atul Akhlak atau Jalankeun, Aturan, Lalakon, Amanah, Karuhuh (Jalak). Jalankeun artinya menjalankan ibadah yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Lelakon artinya bisa melakukan lelaku atau tirakat. Amanah artinya dapat dipercaya dan menjadi suri tauladan, Dan karuhun artinya menjaga warisan leluhur nenek moyang kita dalam membangun peradaban,” imbuh Abah Sepuh.

Ia berpesan,”Ksatria dan Srikandi serta Para Pendekar PJBN harus menjadi suri tauladan di masyarakat menjujung tinggi nilai luhur budaya, beradab, berkultur, berwibawa, militansi, religius dan berjiwa ksatria. Insya Alloh maslahat dan bermanfaat bagi umat dan agama, PJBN akan selalu tampil di garda terdepan menjaga NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.”

PJBN juga tidak sekedar melestarikan budaya Nusantara tetapi mempunyai makna yang sangat luas untuk menjaga keutuhan NKRI. dengan kebudayaan kita bisa menjalin hubungan silaturahmi dengan saudara saudara kita yang lain.kita tidak melihat warna kulit, suku dan agama karena kita adalah satu di bawah bendera merah putih.
“Dengan demikian tidak ada lagi stagnasi komunikasi antar suku dan agama. Kita bisa duduk di satu meja untuk bicara hitam dan putih.

Ia memaparkan,”Generasi penerus bangsa dan yang paling utama tentunya, anggota PJBN bisa menjadi contoh baik di tengah masyarakat.”

“Sesuai dengan filosofi Jalak yakni Jamiatul Akhlak artinya jalankeun aturan lalakon amanah karuhun, ini suatu perbuatan yang bertujuan mulia,” tandas TB Sangadiah yang biasa di panggil Abah Sepuh.

 

Pewarta : Muklis/Heru

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *