Seberapa Jauh Instrumen Asesment Resiko Residivis Dalam Mengukur Tingkat Pengulangan Tindak Pidana

  • Whatsapp
Foto : Eko Setiawan, A.KS. Pembimbing Kemasyarakatan Muda Pada Balai Pemasyarakatan Klas II Pekalongan

MITRAPOL.com, Jateng – Dalam penyusunan Penelitian Kemasyarakatan yang di buat oleh Pembimbing kemasyarakatan untuk mengambil sebuah rekomendasi yang tepat tidak terlepas dari data yang di peroleh baik dari hasil wawancara, mempelajari dokumen ataupun informasi yang di dapat dari petugas, salah satu bahan yang di gunakan untuk mengambil sebuah rekomendasi adalah instrument-instrumen penilaian yang di lakukan oleh Pembimbing Kemasyarakatan untuk mengukur tingkat pengulangan tindak pidana.

Hal itu sangat penting di lakukan dalam rangka mencapai tujuan system pemasyarakatan. Sebagaimana kita ketahui bahwa tujuan system pemasyarakatan untuk memfasilitasi proses perubahan perilaku dan integrase social tidak lepas dari pandangan bahwa kejahatan atau pelanggaran hukum tidak hanya di lihat sebagai pelanggaran legal formal, namun merupakan konflik yang terjadi antara pelaku kejahatan dengan korban/masyarakat dan di sebabkan oleh factor-faktor tertentu. Faktor-faktor penyebab tindak pidana ini kemudian di sebut sebagai factor krimigonik dan dapat di minimalisir dengan pemberian intervensi yang tepat.

Oleh karena itu, pelaksanaan pembinaan dan pembimbingan harus di landaskan pada upaya mengidentifikasi permasalahan narapidana/klien pemasyarakatan dengan akurat, salah satu caranya adalah dengan melalui proses assessment.

Di Indonesia untuk mengukur tingkat residivis narapidana mengunakan instrument assessment risiko dan kebutuhan kriminogonik yang merupakan adaptasi dari instrument LSI-R (Level Service Inventory), instrument LSI_R sendiri merupakan hasil penelitian ilmiah yang telah di lakukan sejak tahun 1970 an oleh para ahli dan instrument tersebut telah di gunakan oleh banyak negara. Instrumen RRI dan Kebutuhan Kriminogenik didesain sebagai dua instrumen yang tidak dapat dipisahkan untuk mengidentifikasi risiko pengulangan tindak pidana dan kebutuhan kriminogenik dari narapidana dan klien pemasyarakatan. Kedua instrumen ini dapat dipergunakan oleh petugas pemasyarakatan dalam menentukan intensitas program pembinaan/pembimbingan yang sesuai dengan tingkat risiko pengulangan tindak pidananya, serta merencanakan program intervensi yang tepat dan sesuai dengan faktor faktor yang berkontribusi terhadap tindak pidana yang dilakukannya.

Ada beberapa prinsip yang harus di lakukan dalam mengunakan instrument assessment ini, di antaranya prinsip risiko yang menekankan bahwa sesungguhnya kemungkinan narapidana / klien pemasyarakatan melakukan pengulangan tindak pidana dapat di prediksi melalui beberapa indicator tertentu, prinsip ini juga akan membantu petugas untuk mengidentifikasi dan memetakan mana narapidana/klien pemasyarakatan yang harus mendapatkan pengawasan lebih sesuai dengan tingkat risiko mereka.

Selanjutnya prinsip kebutuhan, Dalam prinsip ini, tindak pidana yang dilakukan narapidana/klien pemasyarakatan diduga disebabkan oleh beberapa faktor yang disebut sebagai faktor kriminogenik. Faktor Kriminogenik adalah faktor dinamis yang dapat diubah melalui pemberian program yang tepat. Semakin tinggi faktor kriminogenik, maka “kebutuhan” klien terhadap program pembinaan/pembimbingan juga akan meningkat.

Oleh karena itu, pemberian program pembinaan/pembimbingan bertujuan untuk menurunkan tingkat kebutuhan klien, sehingga faktor-faktor Kriminogenik penyebab tindak pidana dapat diminimalisir. Jenis program yang diberikan juga harus spesifik dan berfokus untuk mengatasi kebutuhan kriminogenik tertentu. Kemudian prinsip Responsivitas, Prinsip responsivitas menekankan bahwa program pembinaan/pembimbingan harus diberikan dengan mempertimbangkan karakteristik dan perbedaan individual dari narapidana/klien pemasyarakatan, seperti minat, kemampuan intelektual, latar belakang budaya, atau pengalaman. Tujuannya adalah agar narapidana/klien pemasyarakatan merasa bahwa program yang diberikan benar-benar relevan untuk mereka sehingga mereka merasa termotivasi untuk mengikuti program tersebut.

Pada Balai Pemsyarakatan klas II Peklongan data klien pemasyarakatan tahun 2020 sebanyak 1641 klien, dengan perincian : Pembebasan bersyarat 1028 klien, Cuti Bersyarat 589 klien, dan Cuti Menjelang Bebas 24 klien, dengan tingkat risidivis sebanyak kurang dari 5 %, hal ini menunjukan adanya manfaat-manfaat yang di peroleh dari pengunaan instrumen asesment risiko dan kebutuhan tersebut, tingkat pengulangan tindak pidana bisa di prediksi dan di lakukan analisa sehingga bisa menekan adanya pengulangan tindak pidana, sebagaimana tujuan dalam penggunaan aseament ini diantaranya,

Menilai risiko pengulangan tindak pidana narapidana dan klien pemasyarakatan, Menentukan penilaian yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor kebutuhan (Kriminogenik) dari narapidana dan klien pemasyarakatan, Pedoman dalam penyusunan program pembinaan/pembimbingan (case plan), Pedoman dalam menentukan penempatan berdasarkan tingkat pengamanan yang sesuai bagi narapidana di lembaga pemasyarakatan dan berkontribusi pada persiapan reintegrasi yang aman ke dalam masyarakat, Pedoman dalam menentukan Program dan Pelaksanaan Reintegrasi bagi narapidana dan klien pemasyarakatan oleh lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan negara dan balai pemasyarakatan.

Penulis : Eko Setiawan, A.KS.

Pembimbing Kemasyarakatan Muda Pada Balai Pemasyarakatan Klas II Pekalongan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *