Sat Reskrim Polres Berau amankan tersangka pengedar Pupuk Palsu

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Berau Kaltim — Satreskrim Polres Berau berhasil menangkap pengedar pupuk palsu tidak terdaftar dan tidak berlabel SNI. Pria berinisial SR (48) warga Kabupaten Bojonegoro berhasil diamankan di Kecamatan Talisayan pada (20/6/21).

Pria asal Bojonegoro, Jawa Timur ini diamankan Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) lantaran nekat menjual pupuk palsu, pada Minggu (20/6/2021) sekitar pukul 15.00 wita, di Kampung Talisayan, Kecamatan Talisayan.

Wakapolres Berau Kompol Ramadhanil mengatakan, pelaku berinisial SR (48). Kronologis bermula ketika Polsek Gunung Tabur mendapat laporan dari warga adanya dugaan penjualan pupuk palsu. “Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata pupuk yang dijual tersebut palsu dan tidak terdaftar. Pupuk sudah beredar di wilayah Berau lainnya,” ucapnya saat rilis di Ruang Konferensi Pers Polres Berau, pada Rabu (23/6/2021).

Mendapat informasi tersebut, Unit Tipiter Satreskrim Polres Berau kembali melakukan penyelidikan. Didapat informasi pelaku berada di Talisayan.“Tim menuju ke Talisayan. Saat sudah menemukan keberadaan pelaku, segera kami amankan,” bebernya.

Dari pemeriksaan awal, pihaknya mengamankan barang bukti berupa 136 karung pupuk NPK 16-16-16 merk MUTIARA ukuran 50 kilogram atau sekitar 6,8 ton pupuk. Merk tersebut rupanya adalah jiplakan dari merk pupuk lain dengan nama yang sama. Namun oleh pelaku, pupuknya dia produksi sendiri baru kemudian pelaku edarkan,’’Ujar Ramadhanil.

Dari hasil penjualan SR kita amankan uang sebesar Rp. 68.470.000. Mengenai harga, pupuk tersebut dijual dengan harga yang bervariasi, berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 450 ribu perkarung. Sedangkan untuk satu karung pupuk ukuran 50 kilogram, harga pokoknya dibanderol Rp 165 ribu.

“Keuntungan diambil dari selisih harga jual dan harga modal. Jadi, keuntungannya mencapai Rp 285 ribu untuk satu karung,” bebernya.

Dikatakan Ramadhanil, pupuk yang dijual tersebut adalah buatan SR dan karyawannya. “Jenis pupuk yang dia edarkan adalah pupuk pembenah tanah,” ujarnya.

Dalam menjalankan usaha pupuk ilegalnya tersebut, pelaku mempekerjakan 14 orang karyawan yang bertugas sebagai sopir dan penjual. Dari hasil pengembangan, pupuk yang diproduksi di Gresik, Jawa Timur, lalu dikirim melalui laut menggunakan kapal kargo.

“14 karyawan bersama SR tadi dibagi dalam 5 tim. Masing-masing mendistribusikan pupuk ke wilayah Labanan, Lempake, Talisayan hingga Wahau di Kutai Timur.

Saat ini SR ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan karyawannya saat ini ditetapkan sebagai saksi. SR terancam pasal 122 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan.

Setiap orang yang mengedarkan pupuk yang tidak terdaftar atau tidak berlabel, dipidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Tiga Milyard Rupiah.

 

 

Pewarta : Heru Kaltim

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *