Gawat, Masjid Giok terindikasi ikut dalam rombongan “KKN Berjamaah” di Nagan Raya… ?

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Nagan Raya Aceh – Pembangunan Masjid Agung Baitul A’la atau sering disebut dengan Mesjid Giok di Nagan Raya awalnya mendapatkan perhatian yang positif dari masyarakat.
Masjid yang terbuat dari beberapa bagian material giok tersebut,sudah dimulai pengerjaannya beberapa tahun yang lalu hingga saat ini, telah “memakan” biaya lebih kurang 100 milyaran rupiah itu, patut diduga sudah menyalahi aturan dan tidak mempunyai Spek yang jelas sesuai aturan PERPRES dalam pengerjaannya.

Awak Mitrapol mendapatkan informasi jika batu giok tersebut dikerjakan oleh anak sang “Penguasa” di Nagan Raya, Pembangunan Mesjid giok tersebut terindikasi menyalahi aturan pengadaan barang dan jasa yang ber-ujung adanya mark-up sehingga patut diduga telah terjadinya “ladang KKN Berjamaah” dalam Pembangunan Mesjid Giok tersebut.

Pembangunan mesjid yang menggunakan bahan matrial batu giok tersebut sangat membingungkan dalam penerapan aturan PERPRES yang berlaku, diantaranya adalah bagaimana menerapkan Speknya untuk setiap ukuran batu gioknya, bagaimana menentukan harganya dan penetapan harganya seperti apa di setiap ukuran batu gioknya, lalu bagaimana cara perusahaan lelang tersebut dalam mendapatkan dukungan pabrikan batu giok tersebut guna mengikuti proses tender pembangunan Mesjid Agung Baitul A’la atau Mesjid giok, apakah ada pabrikan pembuatan batu giok dengan ukuran yang tercantum di dokumen lelang serta ada berapa jumlah pabrikan pembuatan batu giok tersebut, bagaimana dengan perizinan Amdalnya dan perizinan lingkungannya untuk sebuah pabrikan batu giok itu, serta perizinan lainnya, apakah ada indikasi monopoli harga jika pabrikannya cuma milik anak “sang Penguasa” dan tempat pabrikan batu giok tersebut menggunakan bahan apa saja, bagaimana di bakukan bahannya hingga dimana mengambil suatu pembandingnya, apakah semua itu sudah sesuai dengan aturan PERPRES yang berlaku…?

Pembangunan mesjid giok tersebut tentunya memakai uang Negara, oleh karena itu wajib mengikuti semua aturan dan PERPRES.

Mesjid giok yang di bangun oleh Pemkab Nagan Raya tersebut sudah seharusnya dilakukan pemeriksaan oleh Aparat Penegak Hukum dari mulai indikasi tidak adanya Spek yang digunakannya sesuai aturan sampai dimana pabrikan batu giok yang telah diambil sebagai pembanding dalam menentukan harga batu giok tersebut sehingga Spek batu giok yang digunakan tidak menyalahi aturan yang berlaku guna mendapatkan kualitas serta harga yang benar atau stabil seperti harga granit dan marmer.

Indikasi terjadinya Korupsi, Kolusi,Nepotisme (KKN) di Mesjid Baitul A’la atau yang dikenal dengan Mesjid giok Nagan Raya, sudah seharusnya Aparat Penegak Hukum di Aceh dan KPK melakukan investigasi khusus terkait dugaan KKN “berjamaah” yang melibatkan “Sang Penguasa” di Kabupaten Nagan Raya.

Mitrapol menunggu konfirmasi semua pihak yang terkait dalam hal pekerjaan pembangunan Mesjid tersebut ke media ini.

 

 

Pewarta : T. Indra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *