Waspada, Waspadalah !!! Goreng menggoreng terus dimainkan dengan isu-isu yang berganti-ganti Tema dan Judul

  • Whatsapp

Oleh : Heru Riyadi, SH.,MH.
Dosen FH UnPam dan Penggiat Kamtibmas.

MITRAPOL.com, Jakarta – Dengan mengetahui sedikit tentang tatanan negara dan sekelumit prosesnya agar kita membuat kita bijak, tidak mudah dipegaruhi dan diprovokasi sehingga menjadi WNI yang baik

Suatu negara itu syaratnya ada memiliki daerah / wilayah, ada masyarakat ada pemerintahan dan ada sistem.

Dalam suatu pemerintahan ada Eksekutif, Legislatif dan ada Yudikatif.

Eksekutif terdiri dari kepalanya dari partai politik / independen pemenang Pemilu / Pilkada yang dipilih langsung oleh rakyat secara konstitusi dengan jumlah suara terbanyak berarti pendukungnya jumlahnya lebih besar dari peserta lainnya dan siapapun presiden yang terpilih dan jadi adalah panglima tertinggi TNI, POLRI, Presiden yang menang karena dinilai figur orangnya baik, dinilai sudah berpengalaman secara berjenjang, kinerjanya dinilai lebih baik dari lainya, hasil kerjanya banyak, programnya lebih baik waktu kampanye dll.

Dalam pelaksanaan tugasnya, Presisen dibantu oleh Menteri-Mentri / kepala lembaga yang dipilih oleh presiden langsung (hak prerogatif presiden) dari kalangan profesional, dari partai pendukung dan mungkin ada dari partai oposisi yang semua bisa dipilih oleh Presiden atau biasanya usulan dari partainya, setelah dipilih kerjanya ada yang baik dengan meninggalkan semua kepentingan pribadi, kelompok, kelompok partai dll dengan amanah fokus bekerja untuk kesejahteraan rakyat dan kemajuan Indonesia dan mungkin ada juga yang bekerja untuk meningkatkan identitas kelompok / partai politiknya jadi ada yang baik serius dan ada yang pada bermain, berhianat, makanya ada resafel kabinet, ketangkap KPK.

Kementerian dan lembaga serta jajarannya itu aturan dan ketentuannya harus berfikir, berprogram, bersetrategi dan bertindak hanya untuk mensejahterakan rakyat tidak berpikir yang lain-lain.

Permasalahannya dieksekutif itu yang PNS / ASN, karyawan atau pegawainya boleh ikut memilih waktu Pemilu / Pilkada jadi ada yanag pro sana dan pro sini jadi kalau yang tidak sadar dan jiwa kenegarawanannya kurang bisa bahaya karena pilihannya kalah bisa berbuat negatif dan menusuk dari belakang atau menggoyang goyang, dan merongrong karena banyak kepentingan dan tujuan inilah yang perlu kita tahu dan kita sadari.

Legislatif terdiri dari berbagai partai politik ada partai politik pendukung ada partai politik oposisi dan Perwakilan DPD, dan kursinya ada yang mayoritas pemenang dan kursi minim dalam arti jumlah kursinya sedikit di DPR, karena rakyat yang memilih sedikit karena figur orangnya, parpolnya dan fanatik parpolnya inilah sistemnya.

Bekerjanya mengawasi kerja eksekutif dan menggoreng Undang-Undang sehingga menjadi matang dan mengesahkan undang undang yang dibuat dan diusulkan oleh eksekutif Kementerian-kementerian / lembaga.

Karena yang mengawasi dan yang menggoreng Undang-Undang itu ada yang partai pendukung dan oposisi, makanya ada yang setuju, ada yang tidak setuju atau ada yang pura pura setuju / menolak untuk membuat ramai dan ada juga yang membocorkan konsep / rencana undang undang untuk digoreng diluar agar ramai inilah prosesnya.

Jadi kerjanya ada yang serius baik, setengah setengah dan ada yang bergoreng goreng.

Yudikatif dalam rangka, preemtif, penyelidikan, pencegahan penyidikan penegakan hukum. Untuk tertata dan tertibnya suatu tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dan ada lagi ancaman kerawanan dari luar negeri karena Indonesia ini banyak sumber daya alam yang menjadi rebutan, juga Indonesia ini negara berkembang, yang negara maju itu tidak senang kalau negara berkembang ini menjadi negara maju. Pengaruh global, pesatnya ilmu pengetahuan dan tehnologi, proxy war, cyber war, cyber crime dll.

Ancaman dan kerawanan dari dalam negeri, yang laten Ekstrim kanan DI, TII, JI, JAD, ISIS, KILAFAH, Ekstrim kiri PKI.

Juga ada kelompok kelompok tertentu, kelompok politik, kelompok Orde Lama, Kelompok Orde Baru, dan Kelompok Orde Reformasi yang semuanya ini secara rutin berkesinambungan dan dinamis pada tetap ingin berkuasa.

Ada juga Siklus politik kekuasaan ini selalu terus bekerja bergerak berkegiatan dan berstrategi untuk mendapat kekuasaan baik yang terbuka dan tertutup, prosesnya :
1. Ingin mendapat kekuasaan,
2. Setelah kekuasaan didapat ingin terus berkuasa / abadi seperti jaman Orde Baru sampai 32 tahun sekarang dibatasi dua kali,
3. Yang sudah lengser ingin mendapatkan kembali kekuasaan dengan melakukan strategi negatif dan positif, kegiatan ini terus bergulir siklus politik kekuasaan yang tidak akan berhenti berhenti sampai tercapai tujuannya mendapatkan kembali kekuasaannya.

Sejarah Indonesia ini dulu di jajah Belanda yang strateginya untuk mendapat kekuasaannya dengan benteng stelsel, pecah belah, adu domba, Snouck Horgrounye yang memainkan SARA, kebudayaan dan bila sekarang ini digunakan oleh kelompok tertentu di Indonesia dimainkan seperti strategi Belanda dengan hoaxnya, fitnahnya, provokasinya, ujaran kebencian, propaganda dan SARA nya dll, bila kita lupa sejarah, wawasannya kurang luas dan jiwa kenegarawannya kurang, jiwa kebhinekaannya kurang maka akan mudah terpengaruh dan mudah terprovokasi sehingga mudah diarahkan untuk kepentingan dan tujuan kelompok itu, dibuat konflik, dengan cara difitnah agar terjadi pertengkaran / kebencian, kebencian terhadap yang lainnya, agar caos dan semua kegiatan ini cuma digunakan untuk merebut kekuasaan oleh kelompok tertentu itu.

Salam sehat dan tetap semangat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *